Rupiah Tertekan, Analis Prediksi Dolar Bisa Tembus Rp 18.000

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 08:48 WIB 2
Rupiah Tertekan, Analis Prediksi Dolar Bisa Tembus Rp 18.000

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan, dengan potensi melemah lebih jauh terhadap dolar Amerika Serikat. Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut kurs rupiah bahkan berpeluang menembus level Rp 18.000 per dolar AS, yang dapat memicu efek berantai pada pasar dan perekonomian domestik.

Menurut Ibrahim, jika level itu benar-benar jebol, rupiah berisiko melanjutkan pelemahan ke area Rp 18.200. Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai tekanan pada rupiah dapat mempercepat kenaikan harga barang impor, menaikkan biaya produksi, dan akhirnya menekan daya beli masyarakat.

Rupiah Melemah Tekan Pasar

Ibrahim Assuaibi menilai rupiah masih rentan melemah karena tekanan pasar belum mereda. Ia menyebut peluang dolar AS menembus Rp 18.000 semakin besar jika sentimen negatif berlanjut. Kondisi ini, kata dia, dapat memicu pergerakan lanjutan menuju Rp 18.200.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada nilai tukar semata. Tekanan itu juga berpengaruh terhadap kepercayaan investor dan pelaku pasar. Dalam situasi seperti ini, sebagian pihak cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dapat menimbulkan efek psikologis yang kuat di pasar. Investor, baik domestik maupun asing, berpotensi mengalihkan dana untuk menjaga nilai aset mereka. Akibatnya, rupiah bisa semakin tertekan dalam perdagangan berikutnya.

Meski dolar AS sempat melemah di pasar global, rupiah tidak otomatis menguat. Ibrahim menilai kondisi domestik masih menjadi faktor yang menahan penguatan mata uang Garuda. Karena itu, pelemahan rupiah dinilai belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Tekanan Harga Barang Impor

Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah akan segera terasa pada harga barang impor. Produk yang berasal dari luar negeri akan menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah. Hal ini juga berlaku untuk barang impor yang menjadi bahan baku industri dalam negeri.

Menurut dia, biaya logistik dan transportasi pengiriman barang ikut menambah beban produksi. Saat nilai tukar melemah, ongkos yang dibayar pelaku usaha menjadi lebih besar. Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong kenaikan biaya produksi di dalam negeri.

Bhima menegaskan, kenaikan biaya produksi akan diteruskan ke harga jual di tingkat konsumen. Dengan begitu, masyarakat akan lebih cepat merasakan dampak pelemahan rupiah melalui harga barang yang lebih mahal. Fenomena ini dikenal sebagai imported inflation.

Ia mencontohkan, sebagian besar kedelai di Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, harga kedelai di pasar domestik cenderung naik. Dampaknya, produk olahan berbasis kedelai juga berpotensi ikut mengalami kenaikan harga.

Daya Beli Masyarakat Tertekan

Bhima menilai efek pelemahan rupiah paling berat akan dirasakan kelompok menengah ke bawah. Kenaikan harga barang kebutuhan pokok akan menggerus kemampuan belanja rumah tangga. Dalam jangka pendek, tekanan ini bisa mempersempit ruang konsumsi masyarakat.

Ia juga mengingatkan adanya kemungkinan penyesuaian harga lebih cepat oleh pelaku usaha. Selama ini, kenaikan kurs kerap baru terasa setelah jeda beberapa bulan. Namun jika tekanan rupiah makin dalam, daftar harga barang bisa direvisi lebih cepat.

Kondisi tersebut membuat ketidakpastian ekonomi semakin tinggi. Pelaku usaha akan lebih sulit menahan kenaikan harga ketika biaya bahan baku terus naik. Di sisi lain, masyarakat harus menghadapi harga yang kian mahal di tengah pendapatan yang belum tentu bertambah.

Menurut Bhima, tekanan pada harga akan langsung berdampak pada kemampuan konsumsi rumah tangga. Jika pengeluaran naik sementara pendapatan tetap, daya beli masyarakat akan melemah. Situasi ini pada akhirnya berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi nasional.

Risiko PHK dan Perlambatan

Bhima memperkirakan pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat memicu efisiensi di sejumlah perusahaan. Sektor padat karya yang bergantung pada bahan baku impor menjadi kelompok yang paling rentan. Jika beban produksi terlalu berat, pemutusan hubungan kerja bisa menjadi langkah yang diambil pelaku usaha.

Ia menjelaskan, keputusan efisiensi biasanya muncul ketika perusahaan tidak lagi mampu menjaga margin. Kenaikan biaya bahan baku, distribusi, dan produksi membuat bisnis harus menyesuaikan struktur pengeluaran. Dalam situasi ekstrem, pengurangan tenaga kerja dapat terjadi untuk menekan beban operasional.

Selain memukul industri, pelemahan rupiah juga bisa mendorong perubahan perilaku di pasar keuangan. Sebagian pelaku pasar berpotensi beralih ke dolar AS untuk mengamankan nilai aset. Aksi ini justru dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan menciptakan efek spiral turun.

Bhima menilai kelompok pekerja dan kelas menengah akan menjadi pihak yang paling rentan. Harga kebutuhan naik, risiko PHK meningkat, dan tabungan keluarga ikut tertekan. Jika kondisi ini berlanjut, angka kemiskinan dan pengangguran berpotensi kembali meningkat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!