Rupiah Melemah, Target Rp 15.000 Dinilai Sulit Tercapai

Forex & Saham Gilang Nabaris 01 Juni 2026 21:15 WIB 2
Rupiah Melemah, Target Rp 15.000 Dinilai Sulit Tercapai

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi ini, seiring penguatan mata uang Paman Sam di pasar global. Rupiah tercatat turun 0,04 persen ke level Rp 17.853 per dolar AS, sementara pemerintah tetap menargetkan penguatan hingga Rp 15.000.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah ekonom menilai target penguatan rupiah masih jauh dari realistis. Mereka melihat tekanan berasal dari sentimen investor asing, kebutuhan dolar yang tinggi, serta dinamika kebijakan domestik dan global yang belum mereda.

Rupiah Tertekan di Pasar

Pelemahan rupiah terjadi saat pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal dan perdagangan Indonesia. Pada saat yang sama, dolar AS terus mendapat dukungan dari ekspektasi suku bunga dan arus aman investor global.

Data pasar menunjukkan rupiah sempat berada di kisaran Rp 17.698 per dolar AS, namun tekanan jual kembali mendorong pelemahan lebih lanjut. Kondisi ini menandakan pasar valas domestik masih sangat sensitif terhadap sentimen eksternal.

Penguatan dolar AS juga membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi pada aset berisiko. Akibatnya, rupiah belum memiliki cukup katalis untuk bergerak kuat dalam waktu dekat.

Target Rp 15.000 Diragukan

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai kecil kemungkinan rupiah kembali menguat signifikan ke level Rp 15.000. Ia menyebut, sejak 2008, mata uang yang sudah terdepresiasi berat biasanya sulit kembali ke posisi lama dalam waktu singkat.

Menurut Bhima, rupiah justru masih berpotensi melanjutkan pelemahan dan bahkan bisa menembus level di atas Rp 18.000 per dolar AS. Ia menilai tekanan saat ini bukan hanya bersifat sementara, melainkan mencerminkan masalah yang lebih mendasar.

Bhima menambahkan, target penguatan ke Rp 15.000 lebih tepat dipandang sebagai harapan jangka panjang, bukan proyeksi dekat. Dalam kondisi sekarang, ia menilai pasar belum melihat sinyal yang cukup kuat untuk membalik arah pergerakan rupiah.

Sentimen Investor Meningkat

Bhima menilai tekanan terhadap rupiah ikut dipicu sentimen negatif investor asing terhadap kebijakan pemerintah. Salah satu yang disorot adalah rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI.

Ia juga menyoroti kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam sebesar 100 persen di perbankan BUMN. Menurutnya, kebijakan itu belum tentu menyelesaikan persoalan devisa, bahkan bisa memicu pergeseran portofolio ke valuta asing.

Bhima menyebut banyak pelaku pasar kini memilih berjaga-jaga dengan memegang deposito dolar AS. Langkah itu pada akhirnya meningkatkan permintaan dolar di dalam negeri dan menambah tekanan terhadap rupiah.

Tekanan Ekonomi Domestik

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi juga menilai target rupiah kembali ke Rp 15.000 sulit tercapai. Menurut dia, dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi domestik masih membuat mata uang Garuda rentan tertekan.

Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menyimpan persoalan struktural, terutama defisit transaksi berjalan dan ketergantungan pada impor energi. Ia menyoroti kebutuhan impor minyak mentah yang besar, sementara harga minyak dunia juga bergerak lebih tinggi.

Menurut dia, beban itu membuat pemerintah harus mengeluarkan dolar dalam jumlah besar untuk menutup kebutuhan energi. Tekanan tersebut, kata Ibrahim, ikut membatasi ruang penguatan rupiah dalam waktu dekat.

Emas dan Dolar Berubah Arah

Dari pasar komoditas, Ibrahim melihat harga emas dunia masih fluktuatif di tengah ketidakpastian global. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman dan likuid.

Ia menjelaskan sebagian investor mulai mengalihkan dana dari emas ke dolar AS untuk memanfaatkan momentum pelemahan rupiah. Pergerakan ini membuat indeks dolar semakin menarik dibandingkan logam mulia dalam jangka pendek.

Selain itu, kebutuhan dolar untuk dividen perusahaan asing di Indonesia juga ikut meningkatkan permintaan valas. Kombinasi faktor tersebut membuat tekanan pada rupiah berpotensi bertahan lebih lama jika tidak ada perbaikan fundamental yang jelas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!