Rupiah Melemah, Petani Ekspor Justru Raup Keuntungan

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 21:11 WIB 2
Rupiah Melemah, Petani Ekspor Justru Raup Keuntungan

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak sepenuhnya membawa kabar buruk bagi perekonomian nasional. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai kondisi tersebut justru memberi keuntungan bagi jutaan petani yang berorientasi ekspor. Sejumlah komoditas perkebunan, seperti kopi, karet, cengkeh, gula aren, gula kelapa, dan serabut kelapa, ikut merasakan manfaatnya. Nilai pembayaran ekspor yang memakai dolar AS menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah terus tertekan dan berada di level Rp 17.744 per dolar AS pada sore hari. Meski begitu, Bank Indonesia menyebut depresiasi mata uang garuda sejauh ini hanya sekitar 5 persen. Sudaryono menyampaikan pandangan itu dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026. Ia menilai pelemahan rupiah dapat menjadi peluang bila diimbangi dengan dorongan ekspor dan penguatan produksi dalam negeri.

Rupiah Melemah, Petani Ekspor Untung

Sudaryono menyebut ada jutaan petani yang diuntungkan ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Menurut dia, hasil ekspor kopi, karet, cengkeh, dan gula kelapa dibayar dalam dolar sehingga nilainya naik saat masuk ke rupiah. Kondisi itu membuat pendapatan pelaku usaha tani ekspor menjadi lebih baik dibandingkan saat kurs lebih kuat. Dalam pandangannya, situasi ini patut dilihat sebagai peluang, bukan semata-mata ancaman.

Ia menegaskan bahwa penguatan ekspor memberi ruang lebih besar bagi komoditas perkebunan Indonesia untuk bersaing di pasar internasional. Saat pembayaran diterima dalam dolar AS, para petani dan pelaku usaha bisa memperoleh penerimaan rupiah yang lebih tinggi. Efek tersebut dinilai terasa langsung pada komoditas yang sudah memiliki pasar ekspor mapan. Karena itu, pelemahan rupiah tidak selalu identik dengan kerugian bagi seluruh sektor.

Sudaryono juga menyinggung bahwa sejumlah komoditas unggulan daerah kini mulai mendapat tempat di pasar luar negeri. Produk seperti kopi, karet, cengkeh, dan turunan kelapa dinilai memiliki daya saing yang semakin baik. Dengan kurs yang lebih tinggi, hasil ekspor menjadi lebih menarik dari sisi penerimaan domestik. Hal ini, menurut dia, dapat memperkuat semangat petani untuk meningkatkan kualitas produksi.

Ekspor UMKM Kian Meluas

Selain komoditas perkebunan, Sudaryono mengaku telah meresmikan ekspor UMKM dan koperasi desa di beberapa daerah. Daerah yang dimaksud antara lain Banjarnegara, Banyumas, Jember, Kulon Progo, hingga sejumlah wilayah di Jawa Timur. Ia menyebut produk pertanian dan olahannya mulai menembus pasar internasional. Perkembangan ini menunjukkan bahwa rantai ekspor tidak hanya bertumpu pada pelaku besar.

Menurut dia, ekspor dari tingkat desa menjadi bukti bahwa potensi ekonomi daerah semakin terbuka. Keterlibatan koperasi desa dinilai penting karena mampu menghubungkan petani dengan pasar yang lebih luas. Jika akses ekspor terus diperkuat, nilai tambah tidak hanya berhenti pada bahan mentah. Pelaku usaha kecil juga berpeluang menikmati manfaat dari penjualan luar negeri.

Sudaryono menilai penguatan ekspor UMKM dapat menjadi penopang perekonomian daerah di tengah tekanan nilai tukar. Ia menyebut sejumlah produk lokal memiliki kualitas yang layak bersaing di pasar global. Karena itu, pemerintah didorong untuk terus membuka jalur perdagangan yang lebih efisien. Langkah tersebut diharapkan mempercepat perluasan pasar bagi komoditas unggulan nasional.

Impor Pangan Jadi Tantangan

Di sisi lain, Sudaryono mengakui pelemahan rupiah tetap menimbulkan tantangan bagi Indonesia. Salah satu dampaknya adalah biaya impor yang bisa meningkat, terutama pada sebagian kebutuhan pangan tertentu. Kondisi ini membuat pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara ekspor dan impor. Tanpa langkah penguatan produksi, tekanan kurs dapat terasa lebih berat pada konsumen dan dunia usaha.

Meski demikian, ia melihat situasi tersebut sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian pangan nasional. Menurutnya, Indonesia perlu menggenjot produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada pasokan luar negeri. Jika kapasitas produksi meningkat, tekanan dari impor dapat ditekan lebih jauh. Dalam jangka panjang, hal itu akan membantu memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah bisa menjadi peluang besar apabila dimanfaatkan dengan strategi yang tepat. Dorongan ekspor, penguatan produksi, dan efisiensi distribusi dinilai harus berjalan bersamaan. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga berpeluang mencatat surplus. Sudaryono menilai kondisi itu dapat mengantar Indonesia menuju posisi yang lebih mandiri di sektor pangan.

Momentum Perkuat Ekspor Nasional

Sudaryono menekankan pentingnya menjadikan tekanan nilai tukar sebagai pemicu pembenahan sektor pertanian. Menurut dia, petani, koperasi, dan pelaku UMKM perlu mendapat dukungan agar mampu memanfaatkan pasar ekspor. Pemerintah daerah juga dinilai perlu aktif mencari komoditas unggulan yang memiliki peluang di luar negeri. Dengan cara itu, pelemahan rupiah dapat diubah menjadi penggerak ekonomi daerah.

Ia menilai keberhasilan ekspor dari berbagai daerah menunjukkan bahwa potensi Indonesia masih sangat besar. Komoditas pertanian dan turunannya memiliki nilai tambah yang dapat terus ditingkatkan melalui hilirisasi. Jika pasar luar negeri semakin terbuka, pendapatan petani juga berpeluang meningkat. Situasi tersebut akan membantu memperluas manfaat ekspor hingga ke tingkat desa.

Pada akhirnya, Sudaryono menegaskan bahwa pelemahan rupiah harus dibaca secara cermat, bukan secara sederhana. Ada tekanan yang harus dihadapi, tetapi ada pula peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi nasional. Kunci utamanya terletak pada peningkatan ekspor, pengurangan ketergantungan impor, dan penguatan produksi dalam negeri. Dengan strategi tersebut, pelemahan rupiah bisa menjadi momentum bagi sektor pertanian untuk tumbuh lebih kuat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!