Rupiah Melemah ke Rp17.902 Jelang Penutupan Perdagangan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 01 Juni 2026 04:08 WIB 3
Rupiah Melemah ke Rp17.902 Jelang Penutupan Perdagangan

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei, setelah sempat menguat di awal sesi. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS bergerak hingga Rp17.902 pada pukul 14.11 WIB, dari pembukaan di level Rp17.820.

Tekanan juga terlihat pada dolar Singapura, yang ikut menguat terhadap rupiah pada perdagangan sore hari. Pengamat mata uang menilai pelemahan ini tidak hanya dipicu sentimen pasar jangka pendek, tetapi juga persoalan struktural perekonomian nasional.

Rupiah Terkoreksi Jelang Penutupan

Pada penutupan perdagangan Kamis, 28 Mei, dolar AS tercatat di level Rp17.845. Pergerakan Jumat menunjukkan rupiah sempat menekan dolar AS di awal perdagangan sebelum akhirnya berbalik melemah.

Bloomberg memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.813 hingga Rp17.904 hingga penutupan perdagangan. Rentang tersebut menandakan volatilitas masih tinggi di pasar valuta asing.

Secara tahunan, rupiah tercatat melemah 7,33 persen sepanjang 2026. Kondisi ini menunjukkan tekanan berlanjut di tengah ketidakpastian pasar global dan domestik.

Tekanan Dolar Singapura

Selain terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap dolar Singapura pada perdagangan yang sama. Berdasarkan data Tradingview, dolar Singapura sempat mencapai Rp14.010 pada pukul 14.24 WIB.

Hingga penutupan perdagangan, mata uang tersebut diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp13.932 hingga Rp14.014. Pergerakan itu memperlihatkan rupiah masih berada dalam posisi rentan terhadap sejumlah mata uang utama.

Pergerakan dolar Singapura kerap menjadi salah satu indikator tambahan bagi pelaku pasar dalam membaca tekanan regional. Saat rupiah tertekan terhadap beberapa mata uang sekaligus, sentimen negatif biasanya semakin kuat.

Defisit Transaksi Berjalan

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu persoalan struktural dalam ekonomi nasional. Salah satu yang disorot adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi.

Menurutnya, kebutuhan impor, terutama minyak mentah, membuat tekanan terhadap nilai tukar sulit mereda dengan cepat. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik.

Ibrahim menilai pelemahan rupiah bukan sekadar respons terhadap dinamika harian pasar. Ia menyebut fundamental ekonomi yang rapuh dapat membuat tekanan kurs berlangsung lebih lama.

Proyeksi Menuju Rp18.000

Ibrahim memperkirakan rupiah berpeluang melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan rupiah bergerak lebih jauh ke Rp18.200 pada pekan depan.

Ia menyebut level Rp18.000 sudah berada di depan mata jika tekanan pasar tidak segera mereda. Dalam pandangannya, tembusnya level itu dapat membuka jalan menuju pelemahan lanjutan.

Proyeksi tersebut menjadi sinyal kewaspadaan bagi pelaku pasar, pelaku usaha, dan masyarakat yang terdampak fluktuasi kurs. Di tengah tekanan eksternal dan persoalan struktural, arah rupiah dalam waktu dekat masih cenderung rentan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!