Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat menjelang penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS sempat mencapai Rp 17.902 pada pukul 14.11 WIB, setelah bergerak dari pembukaan di level Rp 17.820. Pada penutupan Kamis, dolar AS tercatat di Rp 17.845, sehingga tekanan terhadap mata uang Garuda kembali meningkat. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar atas kondisi ekonomi domestik dan prospek rupiah ke depan.
Selain terhadap dolar AS, rupiah juga tertekan terhadap dolar Singapura pada perdagangan hari yang sama. Mengacu pada data Tradingview, dolar Singapura sempat menyentuh Rp 14.010 pada pukul 14.24 WIB, dengan proyeksi pergerakan harian di kisaran Rp 13.932 hingga Rp 14.014. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu persoalan struktural ekonomi nasional, terutama defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi. Ia bahkan memperkirakan rupiah dapat menembus Rp 18.000 dan berpotensi menuju Rp 18.200 pada pekan depan.
Rupiah Tertekan di Pasar
Perdagangan rupiah pada Jumat berlangsung volatil sejak sesi awal. Mata uang Garuda sempat mencoba menekan dolar AS, tetapi arah pergerakan kemudian berbalik. Kondisi ini membuat rupiah kembali berada di bawah tekanan jelang penutupan pasar. Data Bloomberg menunjukkan pelemahan itu terjadi secara bertahap sepanjang sesi perdagangan.
Pada pukul 14.11 WIB, dolar AS berada di level Rp 17.902. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pembukaan perdagangan di posisi Rp 17.820. Jika dibandingkan dengan penutupan Kamis, rupiah juga masih melanjutkan tekanan karena dolar AS kala itu ditutup di Rp 17.845. Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen pasar masih condong pada penguatan dolar.
Bloomberg memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.813 hingga Rp 17.904 hingga penutupan perdagangan. Proyeksi tersebut menunjukkan ruang pelemahan masih terbuka. Pasar cenderung berhati-hati menyikapi dinamika eksternal dan domestik. Dalam situasi seperti ini, rupiah menjadi sensitif terhadap perubahan sentimen global.
Pelemahan rupiah tidak hanya terlihat terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap mata uang lain di kawasan. Dolar Singapura turut menguat terhadap rupiah pada jam perdagangan yang sama. Pergerakan serempak ini mengindikasikan tekanan yang cukup luas pada mata uang domestik. Kondisi tersebut memperkuat sinyal bahwa pelaku pasar masih menghindari aset berisiko.
Faktor Struktural Menekan Rupiah
Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah bukan hanya dipicu faktor jangka pendek. Menurut dia, ada persoalan struktural yang masih membebani perekonomian nasional. Salah satu yang paling menonjol adalah defisit neraca transaksi berjalan. Situasi ini membuat ketahanan rupiah menjadi lebih rentan saat tekanan eksternal meningkat.
Defisit tersebut masih berkaitan erat dengan kebutuhan impor energi. Indonesia, menurut dia, masih bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ketergantungan itu menambah tekanan pada neraca pembayaran. Pada akhirnya, kondisi ini ikut mengurangi daya tahan rupiah di pasar valuta asing.
Faktor struktural biasanya tidak selesai dalam waktu singkat. Karena itu, pelaku pasar cenderung membaca pelemahan rupiah sebagai gejala yang perlu diwaspadai. Selama kebutuhan valuta asing tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut. Hal ini membuat pasar lebih sensitif terhadap setiap perubahan kebijakan dan data ekonomi.
Dalam pandangan Ibrahim, masalah ini membutuhkan langkah yang lebih mendasar. Penguatan sektor riil dan pengurangan ketergantungan impor menjadi elemen penting. Tanpa perbaikan struktur, rupiah akan tetap menghadapi tekanan berulang. Pasar pun berpotensi menilai prospek mata uang domestik masih rapuh.
Prediksi Rupiah Sentuh Angka Baru
Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpeluang melemah lebih jauh terhadap dolar AS. Ia menyebut level Rp 18.000 sebagai titik yang semakin dekat jika tekanan pasar berlanjut. Bahkan, menurut dia, rupiah bisa bergerak hingga Rp 18.200 pada pekan depan. Proyeksi ini menjadi sinyal bahwa volatilitas belum akan mereda dalam waktu dekat.
Ia menyampaikan bahwa level Rp 18.000 sudah berada di depan mata. Jika level tersebut tertembus, arah berikutnya dinilai dapat bergerak lebih tinggi. Pandangan itu menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap respons pasar dalam beberapa hari mendatang. Rupiah pun diperkirakan tetap berada dalam fase tekanan.
Proyeksi tersebut penting dicermati karena berkaitan dengan ekspektasi pelaku pasar. Saat tekanan psikologis meningkat, pergerakan mata uang bisa berlangsung lebih cepat. Kondisi ini sering kali membuat level teknis menjadi penentu sentimen. Dalam konteks rupiah, tembusnya batas tertentu dapat memicu reaksi lanjutan dari pasar.
Meski demikian, proyeksi tetap bergantung pada perkembangan perdagangan berikutnya. Pergerakan dolar AS, arus modal, dan sentimen global akan memengaruhi arah rupiah. Selama faktor-faktor tersebut belum stabil, risiko pelemahan masih ada. Pasar kini menunggu apakah rupiah mampu bertahan di bawah tekanan tersebut.
Dolar Singapura Ikut Menguat
Tekanan terhadap rupiah juga terlihat pada pergerakan dolar Singapura. Berdasarkan data Tradingview, mata uang tersebut mencapai Rp 14.010 pada pukul 14.24 WIB. Pergerakan ini menunjukkan bahwa rupiah melemah tidak hanya terhadap dolar AS. Kelemahan tersebut terjadi secara bersamaan di beberapa pasangan mata uang.
Tradingview memperkirakan pergerakan dolar Singapura hingga penutupan berada di rentang Rp 13.932 hingga Rp 14.014. Rentang itu memberi gambaran bahwa volatilitas masih cukup tinggi. Dengan posisi tersebut, rupiah belum menunjukkan tanda pemulihan yang meyakinkan. Pasar masih menunggu katalis yang dapat mengubah arah perdagangan.
Penguatan dolar Singapura terhadap rupiah juga menjadi indikator tekanan regional. Hal ini menegaskan bahwa mata uang domestik tengah menghadapi pelemahan yang lebih luas. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar biasanya menilai risiko masih dominan. Akibatnya, minat terhadap rupiah cenderung tertahan.
Jika tekanan pada dolar AS dan dolar Singapura berlanjut, ruang pelemahan rupiah dapat terbuka lebih besar. Sebaliknya, perbaikan sentimen eksternal bisa membantu meredam tekanan. Namun untuk saat ini, pasar masih menempatkan rupiah dalam posisi defensif. Arah perdagangan berikutnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan sentimen tersebut.
