Rupiah Melemah, Industri Satelit Nasional Dinilai Punya Peluang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 18:30 WIB 6
Rupiah Melemah, Industri Satelit Nasional Dinilai Punya Peluang

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.500 per dolar Amerika Serikat menekan industri satelit nasional karena mayoritas kebutuhan masih bergantung pada komponen impor. Kondisi ini membuat biaya pengadaan perangkat satelit dan ground segment ikut membengkak di tengah ketidakpastian pasar global.

Meski begitu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Indonesia, Sigit Jatipuro, menilai tekanan kurs justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri satelit dan manufaktur dalam negeri. Pandangan itu disampaikan dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Rupiah dan Industri Satelit

Sigit mengatakan pelemahan rupiah harus dibaca sebagai dorongan untuk memperkuat ekosistem industri lokal. Menurut dia, Indonesia memang tergolong kuat di Asia Tenggara, tetapi masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia. Kondisi itu, kata dia, menunjukkan perlunya akselerasi industrialisasi agar sektor satelit tidak terus bergantung pada produk impor. Dengan basis produksi dalam negeri yang lebih kuat, daya tahan industri akan lebih baik menghadapi tekanan kurs.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah memberi dampak langsung karena kebutuhan satelit dan ground segment masih dibeli dengan mata uang asing. Saat dolar AS menguat, biaya produksi dalam negeri ikut meningkat dan menekan margin pelaku usaha. Namun, tekanan tersebut bisa menjadi sinyal bagi pelaku industri untuk mempercepat substitusi impor. Langkah itu dinilai penting agar rantai pasok nasional lebih efisien dan berkelanjutan.

Menurut Sigit, selisih kurs yang melebar justru dapat menjadi nilai tambah bagi industri lokal jika bahan baku dan proses produksi dilakukan di dalam negeri. Ia mencontohkan, ketika kurs bergerak dari Rp16.000 ke Rp18.000 per dolar AS, selisih tersebut bisa menjadi margin tambahan. Karena itu, ia menilai pemerintah dan pelaku usaha perlu membaca pelemahan rupiah sebagai peluang strategis. Dorongan tersebut diharapkan mampu mempercepat tumbuhnya manufaktur berbasis teknologi nasional.

Peluang Ekspor Teknologi

Sigit menilai sektor yang paling diuntungkan saat dolar menguat adalah industri berorientasi ekspor. Dalam skema itu, biaya produksi dibayar dengan rupiah, sementara pendapatan diterima dalam dolar AS. Model bisnis tersebut membuat pelaku usaha memiliki ruang keuntungan yang lebih besar. Hal ini, menurut dia, dapat menjadi inspirasi bagi industri satelit dan teknologi nasional untuk menata strategi jangka panjang.

Ia mendorong investor domestik agar lebih berani menanamkan modal di sektor industri teknologi nasional ketika investasi asing belum mengalir optimal. Menurut dia, kondisi saat ini justru menjadi kesempatan bagi pelaku lokal untuk mengambil peran lebih besar. Jika investasi domestik meningkat, ekosistem industri dalam negeri akan terbentuk lebih cepat. Situasi itu juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pembiayaan dan produk dari luar negeri.

Sigit juga menilai pasar domestik dapat menjadi tahap awal sebelum pelaku industri melangkah ke pasar global. Ia menyebut market dalam negeri sebagai initial startup yang dapat menguji daya saing produk dan layanan. Setelah itu, ekspansi ke pasar ekspor bisa dilakukan secara bertahap dan terukur. Strategi tersebut dinilai lebih aman sekaligus menguntungkan bagi pengembangan industri nasional.

Investasi Lokal Menguat

Di tengah melambatnya investasi asing, Sigit menekankan pentingnya local investing sebagai penggerak industri dalam negeri. Ia menilai pembiayaan dari investor domestik dapat menjaga kesinambungan proyek dan riset teknologi. Selain itu, pelaku usaha lokal cenderung lebih memahami kebutuhan pasar Indonesia. Faktor tersebut dianggap penting untuk mempercepat lahirnya produk satelit yang sesuai dengan kondisi nasional.

Menurut dia, penguatan investasi lokal juga akan memperluas peluang bagi sektor pendukung, mulai dari manufaktur, logistik, hingga layanan teknis. Rantai nilai yang tumbuh di dalam negeri pada akhirnya dapat menciptakan lapangan kerja baru. Di sisi lain, industri lokal akan memiliki posisi tawar yang lebih baik ketika bernegosiasi dengan mitra global. Karena itu, ia menilai penguatan modal domestik harus menjadi prioritas.

Sigit menambahkan, pasar domestik yang kuat akan menjadi fondasi sebelum industri satelit Indonesia menargetkan ekspansi lebih luas. Ia menilai tahapan tersebut penting agar pelaku usaha tidak tumbuh terlalu cepat tanpa basis yang solid. Dengan pondasi produksi dan pembiayaan yang sehat, industri teknologi nasional bisa lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Hal itu juga memberi ruang bagi peningkatan kapasitas inovasi secara berkelanjutan.

Generasi Muda Dan Kemandirian

Selain investasi, Sigit menyoroti pentingnya menanamkan pola pikir industri dan ekspor kepada generasi muda sejak dini. Menurut dia, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang memahami pentingnya kemandirian teknologi. Pemahaman itu harus dibangun melalui pendidikan, pelatihan, dan keterlibatan langsung di sektor industri. Dengan begitu, talenta muda dapat menjadi motor penggerak transformasi teknologi nasional.

Ia menilai generasi muda perlu dibiasakan melihat industri sebagai ruang kreasi dan pertumbuhan ekonomi. Sikap tersebut akan membantu menciptakan budaya kerja yang produktif dan kompetitif. Pada saat yang sama, orientasi ekspor harus menjadi bagian dari visi pengembangan usaha. Tujuannya agar produk dan layanan teknologi Indonesia tidak berhenti di pasar domestik semata.

Dari sisi kebijakan, pelemahan rupiah kembali menegaskan urgensi memperkuat kemandirian industri nasional. Ketika ketergantungan pada impor masih tinggi, fluktuasi kurs akan terus menjadi beban bagi pelaku usaha. Sebaliknya, jika komponen dan teknologi dibuat di dalam negeri, tekanan eksternal dapat ditekan lebih jauh. Situasi saat ini menjadi pengingat bahwa kedaulatan ekonomi dan teknologi perlu dibangun secara konsisten.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!