Rupiah Melemah, Industri Satelit Nasional Dinilai Punya Peluang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 05:49 WIB 2
Rupiah Melemah, Industri Satelit Nasional Dinilai Punya Peluang

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh Rp 17.500 memberi tekanan besar bagi industri satelit dalam negeri. Sebab, mayoritas kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada komponen berdenominasi valuta asing. Meski demikian, kondisi ini dinilai bisa menjadi titik balik bagi penguatan industri nasional. Pelaku usaha menilai momentum tersebut perlu dibaca sebagai dorongan untuk mempercepat kemandirian teknologi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menyebut pelemahan rupiah harus dilihat sebagai peluang untuk memperkuat industri lokal. Ia menyampaikan pandangan itu dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Menurutnya, Indonesia memang kuat di tingkat Asia Tenggara, tetapi masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain di Asia. Karena itu, penguatan ekosistem satelit dan manufaktur nasional menjadi kebutuhan yang mendesak.

Rupiah dan industri satelit

Sigit menilai tekanan kurs justru dapat menjadi pemicu bagi industri dalam negeri untuk bergerak lebih cepat. Ketika dolar menguat, sektor yang berorientasi ekspor biasanya mendapat keuntungan karena biaya produksi dibayar dalam rupiah. Sementara itu, pendapatan bisa diterima dalam dolar Amerika Serikat. Selisih kurs tersebut dapat menjadi ruang margin tambahan bagi pelaku usaha lokal.

Menurutnya, kondisi ini harus dimanfaatkan untuk mendorong industrialisasi di dalam negeri. Ia menilai ketergantungan pada produk impor perlu dikurangi agar rantai pasok nasional semakin kuat. Industri satelit, kata dia, seharusnya tidak hanya menjadi pengguna teknologi asing. Lebih jauh, sektor ini perlu diarahkan menjadi bagian dari basis manufaktur nasional.

Sigit menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan semata ancaman bagi dunia usaha. Jika dibaca secara strategis, situasi tersebut bisa mendorong lahirnya kapasitas produksi baru di dalam negeri. Ia menyebut selisih kurs dari Rp 16 ribu ke Rp 18 ribu dapat memberi keuntungan tambahan bagi industri yang berbasis rupiah. Karena itu, perusahaan nasional perlu mulai menata langkah ekspansi sejak sekarang.

Investor domestik didorong masuk

Di tengah melambatnya arus investasi asing, Sigit mendorong investor domestik untuk mengambil peran lebih besar. Menurutnya, inilah saat yang tepat bagi pelaku modal lokal untuk menanamkan dana di industri teknologi nasional. Langkah tersebut dinilai penting agar pengembangan sektor strategis tidak tertunda. Dengan begitu, pertumbuhan industri dapat tetap berjalan meski kondisi eksternal belum stabil.

Ia menilai investasi lokal akan menjadi penopang awal bagi penguatan ekosistem satelit nasional. Ketika pembiayaan dari luar negeri belum optimal, sumber daya dalam negeri harus mampu mengisi celah tersebut. Menurutnya, keberanian investor lokal akan menentukan seberapa cepat industri teknologi bisa tumbuh. Hal ini juga akan memperbesar peluang lahirnya rantai pasok yang lebih mandiri.

Sigit menambahkan bahwa pasar domestik bisa menjadi tahap awal sebelum ekspansi ke pasar global. Pola ini, menurutnya, penting agar industri memiliki pijakan yang kuat sebelum bersaing di luar negeri. Produk dan layanan yang matang di pasar dalam negeri akan lebih siap dibawa ke tingkat ekspor. Strategi tersebut dinilai lebih aman dan berpotensi menghasilkan keuntungan berkelanjutan.

Pasar domestik sebagai awal

Selain soal investasi, Sigit menekankan pentingnya membangun pola pikir industri sejak usia muda. Generasi muda perlu dikenalkan pada cara berpikir yang berorientasi produksi, inovasi, dan ekspor. Menurutnya, kemandirian teknologi tidak akan lahir jika orientasi terhadap industri belum dibentuk sejak awal. Pendidikan dan ekosistem usaha harus berjalan beriringan untuk menciptakan sumber daya manusia yang siap bersaing.

Ia menilai penguatan kapasitas nasional tidak hanya bergantung pada modal dan teknologi. Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor utama dalam membangun industri satelit yang berdaya saing. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan dunia pendidikan perlu diperkuat. Jika seluruh unsur bergerak bersama, ketergantungan pada produk impor dapat ditekan secara bertahap.

Sebelumnya, rupiah terus melemah dan menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat, yang menjadi titik terendah sepanjang masa. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan membantu Bank Indonesia mulai keesokan hari untuk meredam tekanan kurs. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan pada rupiah masih menjadi perhatian besar pemerintah. Di sisi lain, pelaku industri melihatnya sebagai sinyal untuk mempercepat penguatan ekonomi berbasis produksi dalam negeri.

Jika momentum ini dimanfaatkan dengan tepat, sektor satelit dapat menjadi salah satu contoh keberhasilan industrialisasi nasional. Kuncinya terletak pada penguatan investasi lokal, pengurangan ketergantungan impor, dan pembentukan ekosistem teknologi yang berkelanjutan. Industri dalam negeri juga perlu diarahkan agar tidak hanya memenuhi pasar domestik. Dengan strategi yang konsisten, pelemahan rupiah dapat berubah menjadi dorongan bagi tumbuhnya kemandirian teknologi Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!