Rupiah Melemah, Industri Satelit Nasional Dinilai Punya Peluang

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 12:10 WIB 2
Rupiah Melemah, Industri Satelit Nasional Dinilai Punya Peluang

Tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh Rp17.500 dinilai tidak hanya memukul industri satelit, tetapi juga membuka peluang baru bagi penguatan manufaktur nasional. Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI), Sigit Jatipuro, menyampaikan pandangan itu dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Menurut Sigit, kondisi kurs yang melemah harus dibaca sebagai sinyal untuk mempercepat industrialisasi di dalam negeri. Ia menilai ketergantungan pada komponen impor dan mata uang asing selama ini membuat industri satelit domestik rentan terhadap gejolak global.

Peluang industri satelit nasional

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada industri satelit karena sebagian besar kebutuhan perangkat masih dibeli menggunakan mata uang asing. Biaya untuk satelit dan ground segment ikut meningkat saat dolar menguat terhadap rupiah. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus lebih cermat menyusun strategi bisnis. Di sisi lain, tekanan tersebut dinilai dapat menjadi pemicu bagi penguatan kapasitas produksi lokal.

Sigit menjelaskan bahwa momentum kurs yang lemah seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong industri dalam negeri agar lebih mandiri. Ia menilai Indonesia sudah cukup kuat di Asia Tenggara, namun masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Karena itu, pengembangan ekosistem teknologi nasional perlu dipercepat. Fokus utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Ia juga menekankan bahwa selisih kurs dapat memberi ruang margin tambahan bagi industri lokal yang biayanya berbasis rupiah. Saat dolar naik, sektor yang berorientasi ekspor justru bisa memperoleh keuntungan lebih besar. Pola ini menunjukkan bahwa pelemahan mata uang tidak selalu berdampak negatif bagi semua sektor. Bagi industri satelit, situasi tersebut dapat menjadi dorongan untuk memperkuat rantai pasok domestik.

Investasi lokal jadi andalan

Di tengah melambatnya arus modal asing, Sigit mendorong investor domestik untuk lebih berani menanamkan dana di sektor teknologi nasional. Menurutnya, investasi lokal bisa menjadi penopang saat pembiayaan dari luar negeri belum mengalir optimal. Langkah ini dinilai penting agar industri tidak berhenti hanya karena tekanan eksternal. Dengan dukungan modal dalam negeri, pengembangan satelit dapat tetap berjalan.

Ia menilai pasar domestik dapat menjadi tahap awal bagi pertumbuhan industri sebelum melangkah ke pasar yang lebih luas. Model ini dianggap lebih realistis untuk membangun fondasi bisnis yang kuat. Setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi, pelaku usaha dapat mulai menembus pasar ekspor. Strategi tersebut dinilai memberi peluang keuntungan yang lebih berkelanjutan.

Sigit juga menyebut bahwa penguatan industri nasional tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Dunia usaha, investor, dan pelaku teknologi perlu membangun ekosistem yang saling terhubung. Jika kerja sama itu terbentuk, ketergantungan pada produk luar negeri dapat dikurangi secara bertahap. Pada akhirnya, industri satelit nasional berpeluang menjadi lebih tahan terhadap gejolak ekonomi global.

Tekanan rupiah dan ekspor

Pelemahan rupiah yang terus berlanjut hingga menembus Rp17.500 per dolar AS menjadi sinyal serius bagi banyak sektor ekonomi. Namun, di sektor tertentu, kondisi ini justru dapat menjadi keuntungan karena pendapatan diterima dalam dolar. Situasi tersebut membuat pelaku ekspor memiliki ruang lebih besar untuk menjaga profitabilitas. Karena itu, arah pengembangan industri perlu disesuaikan dengan dinamika nilai tukar.

Dalam pandangan Sigit, industri satelit dan teknologi nasional harus mulai memikirkan pasar ekspor sejak dini. Pendekatan ini penting agar bisnis tidak hanya bertumpu pada permintaan domestik. Bila basis produksi sudah kuat, ekspansi ke luar negeri akan lebih mudah dilakukan. Langkah itu juga dapat memperkuat daya saing Indonesia di pasar regional maupun global.

Ia menambahkan, ketahanan industri tidak cukup dibangun dari aspek teknis semata. Diperlukan pula kesiapan pembiayaan, rantai pasok, dan strategi pemasaran yang terintegrasi. Dengan ekosistem yang solid, industri berbasis teknologi dapat menghadapi tekanan kurs dengan lebih baik. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa pelemahan rupiah perlu dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang.

Generasi muda dan kemandirian

Sigit menilai penting untuk menanamkan pola pikir industri dan orientasi ekspor kepada generasi muda sejak dini. Menurutnya, masa depan teknologi nasional sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia. Jika generasi muda terbiasa berpikir produktif, Indonesia akan lebih cepat membangun kemandirian industri. Hal itu terutama penting pada sektor yang bergantung pada inovasi tinggi seperti satelit.

Ia menyebut penguatan karakter industri harus berjalan seiring dengan pembangunan kapasitas teknologi. Pendidikan, pelatihan, dan pengalaman praktik perlu diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri nasional. Dengan begitu, tenaga kerja lokal tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi. Arah ini diyakini dapat memperkecil ketergantungan pada produk asing.

Dari sisi kebijakan, sinyal pelemahan rupiah juga menjadi pengingat agar pemerintah dan pelaku industri memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri. Ketika investasi asing belum sepenuhnya pulih, dukungan lokal menjadi sangat penting. Industri satelit dapat tumbuh lebih sehat bila didukung kebijakan, modal, dan SDM yang tepat. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat membantu Indonesia membangun kemandirian teknologi yang lebih kuat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!