Rupiah Melemah, Industri Satelit Lokal Dinilai Punya Peluang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 00:02 WIB 7
Rupiah Melemah, Industri Satelit Lokal Dinilai Punya Peluang

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp17.500 memberi tekanan besar pada industri satelit nasional. Sebagian besar kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada mata uang asing, sehingga biaya operasional ikut tertekan. Di tengah kondisi itu, pelaku usaha justru melihat peluang untuk memperkuat industri dalam negeri. Sekretaris Jenderal ASSI Sigit Jatipuro menyebut kondisi kurs ini dapat menjadi momentum bagi industrialisasi nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Sigit dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Ia menilai pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai sinyal untuk memperbesar kapasitas industri lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor. Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki posisi kuat di Asia Tenggara, tetapi masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Karena itu, momentum saat ini dinilai penting untuk mendorong ekosistem teknologi dan satelit nasional.

Industri Satelit dan Kurs

Pelemahan rupiah langsung memengaruhi industri satelit karena banyak komponen dan layanan masih dibeli dengan dolar AS. Saat nilai tukar bergerak lebih tinggi, biaya pengadaan menjadi lebih mahal dan menekan margin perusahaan. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus lebih cermat dalam mengelola kebutuhan impor. Meski demikian, tekanan tersebut juga membuka ruang evaluasi terhadap struktur industri yang selama ini bergantung pada produk luar negeri.

Sigit menilai pelemahan rupiah semestinya tidak hanya dilihat sebagai ancaman. Ia menyebut kondisi ini dapat mendorong industri lokal untuk lebih kompetitif dan berorientasi pada efisiensi. Menurutnya, selisih kurs justru bisa menjadi tambahan margin bagi produsen yang memakai rupiah dalam biaya produksi. Karena itu, industri satelit perlu memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat basis manufaktur nasional.

Ia juga menekankan pentingnya membaca dinamika kurs sebagai sinyal strategis bagi pembangunan industri. Jika nilai dolar naik, sektor yang berbasis ekspor biasanya diuntungkan karena pendapatannya dalam dolar, sementara biaya produksi tetap dalam rupiah. Pola tersebut, menurutnya, bisa menjadi contoh bagi industri teknologi nasional untuk memperluas pasar. Dengan begitu, tekanan kurs tidak lagi hanya dipandang sebagai risiko, tetapi juga sebagai pendorong transformasi.

Momentum Bagi Produksi Lokal

Menurut Sigit, kondisi saat ini seharusnya menjadi dorongan bagi industrialisasi di dalam negeri. Ia menilai ketergantungan pada produk impor perlu dikurangi agar rantai pasok teknologi lebih tangguh. Kemandirian industri, kata dia, hanya bisa tercapai jika produksi lokal mendapat ruang tumbuh yang cukup. Dalam konteks satelit, penguatan manufaktur dalam negeri menjadi salah satu langkah penting.

Ia menggarisbawahi perlunya membangun ekosistem teknologi nasional yang tidak hanya berfokus pada konsumsi. Industri lokal perlu didorong agar mampu memproduksi lebih banyak komponen dan layanan dengan standar yang kompetitif. Jika hal itu tercapai, ketahanan industri akan meningkat meski nilai tukar bergejolak. Langkah tersebut juga dapat mengurangi tekanan biaya yang selama ini berasal dari pembelian barang impor.

Sigit menambahkan bahwa pelemahan rupiah bisa menjadi pemicu bagi pelaku usaha untuk lebih berani berinvestasi di dalam negeri. Ia menilai momentum ini penting untuk memperkuat kemampuan produksi, riset, dan pengembangan teknologi nasional. Dengan penguatan kapasitas tersebut, Indonesia dinilai tidak lagi hanya menjadi pasar, melainkan juga produsen. Dalam jangka panjang, kondisi itu diharapkan menciptakan industri satelit yang lebih mandiri.

Peran Investor Domestik

Di tengah melambatnya investasi asing, Sigit mendorong investor domestik untuk mengambil peran lebih besar. Ia menilai saat inilah waktu yang tepat untuk memperbesar local investing di sektor teknologi dan industri dalam negeri. Menurutnya, dukungan modal dari dalam negeri akan sangat membantu perusahaan yang ingin memperluas kapasitas produksi. Tanpa dukungan tersebut, pengembangan industri nasional akan berjalan lebih lambat.

Ia menyebut pasar domestik dapat menjadi tahap awal bagi pertumbuhan industri sebelum masuk ke pasar global. Model ini dinilai efektif karena pelaku usaha dapat menguji produk dan membangun skala bisnis dari kebutuhan dalam negeri. Setelah fondasi terbentuk, ekspansi ekspor dapat dilakukan dengan lebih percaya diri. Strategi itu, kata dia, akan memberi keuntungan berlapis bagi industri nasional.

Sigit menilai pendekatan tersebut juga relevan untuk sektor satelit yang memiliki kebutuhan teknologi tinggi. Jika pasar domestik mampu menyerap produk dan layanan lokal, maka proses industrialisasi akan lebih cepat bergerak. Setelah itu, perusahaan bisa menargetkan pasar regional dan internasional secara bertahap. Dengan jalur itu, industri satelit Indonesia berpeluang naik kelas dan lebih siap bersaing.

Generasi Muda dan Ekspor

Selain soal investasi, Sigit juga menekankan pentingnya membangun pola pikir industri sejak dini kepada generasi muda. Ia menilai Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang memahami pentingnya produksi, inovasi, dan orientasi ekspor. Tanpa pemahaman tersebut, kemandirian industri akan sulit terbentuk. Karena itu, pendidikan dan ekosistem teknologi perlu berjalan seiring.

Menurutnya, generasi muda harus didorong untuk melihat industri sebagai sektor strategis, bukan hanya pilihan karier. Pandangan itu penting agar muncul lebih banyak pelaku usaha dan inovator yang berani membangun bisnis teknologi lokal. Dengan orientasi yang tepat, Indonesia dapat memperkuat posisinya di pasar regional. Dari sana, peluang untuk masuk ke pasar global akan semakin terbuka.

Di sisi lain, pemerintah juga tengah menghadapi tekanan kuat dari pelemahan rupiah yang terus bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan membantu Bank Indonesia mengendalikan tekanan terhadap rupiah. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas kurs masih menjadi perhatian utama ekonomi nasional. Bagi industri satelit, arah kebijakan tersebut akan sangat menentukan ruang tumbuh ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!