Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp 17.500 memberi tekanan besar bagi industri satelit dalam negeri. Mayoritas kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada mata uang asing, sehingga biaya operasional ikut tertekan.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri menilai situasi ini justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat produksi nasional. Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menyebut pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai peluang untuk mendorong industrialisasi dalam negeri.
Satelit dan Industri Lokal
Sigit menilai Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang cukup kuat di kawasan Asia Tenggara untuk sektor satelit. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia, daya saing nasional masih tertinggal.
Menurut dia, tekanan kurs seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi juga sebagai pemicu untuk memperkuat industri lokal. Kondisi ini dapat mendorong pelaku usaha mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Ia menegaskan, penguatan ekosistem satelit nasional perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia memiliki basis industri yang lebih mandiri di masa depan.
Satelit dan Rupiah Melemah
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada industri satelit karena sebagian besar komponen dan layanan masih dibeli menggunakan valuta asing. Saat dolar menguat, biaya produksi ikut naik dan menekan margin usaha.
Sigit menjelaskan, kondisi ini justru menguntungkan sektor yang berorientasi ekspor. Biaya produksi yang dibayar dengan rupiah, tetapi pendapatan diterima dalam dolar, dapat menciptakan selisih nilai yang lebih menguntungkan.
Ia mencontohkan, pelemahan kurs dari Rp 16 ribu menjadi Rp 18 ribu dapat menambah margin bagi industri lokal. Karena itu, pelemahan rupiah perlu dijadikan pemicu untuk mempercepat industrialisasi di dalam negeri.
Investasi Satelit Domestik
Di tengah melambatnya arus modal asing, Sigit mendorong investor domestik untuk mengambil peran lebih besar. Menurut dia, momentum saat ini tepat untuk memperkuat investasi di sektor teknologi nasional, termasuk satelit.
Ia menilai pasar dalam negeri bisa menjadi tahap awal pengembangan industri sebelum melangkah ke pasar ekspor. Dengan cara itu, pelaku usaha memiliki ruang untuk membangun kapasitas produksi secara lebih stabil.
Sigit menekankan bahwa investasi lokal akan membantu memperkuat rantai pasok nasional. Jika ekosistem dalam negeri tumbuh, ketergantungan terhadap impor dapat ditekan secara bertahap.
Masa Depan Satelit Nasional
Sigit juga menyoroti pentingnya menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Menurut dia, kemandirian teknologi hanya bisa tercapai jika sumber daya manusia disiapkan dengan visi jangka panjang.
Ia menilai pendidikan dan pembiasaan terhadap budaya industri perlu dilakukan sejak awal. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengembang dan pelaku industri.
Di sisi lain, pemerintah dan pelaku usaha dinilai perlu menjaga momentum saat rupiah melemah. Jika dimanfaatkan dengan tepat, kondisi ini dapat menjadi titik awal penguatan industri satelit nasional yang lebih mandiri dan kompetitif.
