Rupiah Melemah, Industri Satelit Diminta Perkuat Lokal

Teknologi Moh. Royhan Nahado 26 Mei 2026 21:37 WIB 3
Rupiah Melemah, Industri Satelit Diminta Perkuat Lokal

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh Rp17.500 per dolar memberi tekanan besar pada industri satelit dalam negeri. Kondisi ini disorot pengusaha satelit sebagai tantangan serius, sekaligus peluang untuk mendorong penguatan manufaktur dan ekosistem teknologi nasional. Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menyampaikan pandangan itu dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Ia menilai momentum ini dapat dimanfaatkan agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor perangkat satelit dan ground segment.

Menurut Sigit, pelemahan rupiah berdampak langsung karena mayoritas kebutuhan industri satelit masih dibeli menggunakan mata uang asing. Saat dolar menguat, biaya pengadaan komponen dan layanan menjadi lebih mahal, sehingga tekanan terhadap pelaku usaha semakin besar. Namun, ia melihat kondisi tersebut dari sisi lain, yakni sebagai dorongan untuk mempercepat industrialisasi di dalam negeri. Dalam pandangannya, sektor lokal perlu memanfaatkan selisih kurs sebagai ruang untuk membangun daya saing baru.

Rupiah dan industri satelit

Pelemahan rupiah dinilai tidak semata-mata membawa beban, tetapi juga dapat membuka ruang bagi industri satelit nasional untuk tumbuh. Sigit menjelaskan bahwa ketika dolar naik, industri berorientasi ekspor biasanya diuntungkan karena biaya produksi tetap menggunakan rupiah. Pada saat yang sama, pendapatan dari pasar luar negeri diterima dalam dolar Amerika Serikat. Pola itu membuat industri lokal berpeluang memperoleh margin yang lebih baik.

Ia menegaskan, kondisi kurs saat ini harus dibaca sebagai sinyal untuk memperkuat industri lokal. Menurutnya, Indonesia sudah cukup kuat di tingkat Asia Tenggara, tetapi masih tertinggal jika dibandingkan dengan pemain besar di Asia. Karena itu, sektor satelit perlu diarahkan menjadi bagian dari ekosistem teknologi yang lebih mandiri. Dengan cara tersebut, ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi secara bertahap.

Sigit juga menyoroti pentingnya membangun basis manufaktur dalam negeri yang lebih kokoh. Ia menilai, selama kebutuhan satelit dan ground segment masih didominasi impor, tekanan kurs akan terus menjadi masalah berulang. Jika produksi bisa dilakukan di dalam negeri, dampak pelemahan rupiah tidak akan sebesar saat ini. Selain itu, industri nasional juga akan memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Dalam kesempatan itu, ia menyebut selisih kurs dapat menjadi keuntungan bagi pelaku usaha lokal. Misalnya, ketika dolar bergerak dari Rp16.000 menjadi Rp18.000, perubahan tersebut bisa menjadi margin tambahan bagi industri yang memproduksi dengan rupiah. Menurutnya, peluang seperti itu seharusnya tidak diabaikan. Hal itu justru dapat menjadi titik awal untuk mempercepat pengembangan teknologi nasional.

Investasi domestik menguat

Di tengah melambatnya arus modal asing, Sigit mendorong investor domestik untuk mengambil peran lebih besar. Ia menilai, saat investasi luar negeri belum optimal, pelaku usaha dalam negeri harus berani masuk ke sektor industri teknologi nasional. Langkah itu penting agar rantai pasok dan kemampuan produksi tidak terus tertahan. Dengan dukungan modal lokal, ekosistem satelit bisa berkembang lebih stabil.

Ia menambahkan, industri dalam negeri tidak harus langsung menargetkan pasar global. Pasar domestik dapat menjadi panggung awal untuk menguji model bisnis, teknologi, dan kapasitas produksi. Setelah itu, produk dan layanan bisa diperluas ke pasar ekspor. Menurutnya, strategi bertahap seperti ini lebih realistis dan menguntungkan.

Sigit juga menilai kebutuhan membangun kepercayaan investor lokal menjadi semakin penting. Ketika pelaku usaha dalam negeri melihat potensi pasar satelit dan teknologi, mereka diharapkan tidak ragu menanamkan modal. Investasi lokal diyakini dapat memperkuat kemandirian industri dan membuka lapangan kerja baru. Pada akhirnya, manfaatnya akan terasa bagi rantai industri nasional secara lebih luas.

Selain faktor modal, ia menekankan pentingnya keberlanjutan pengembangan teknologi. Industri satelit memerlukan kepastian investasi agar riset, produksi, dan layanan dapat berjalan konsisten. Tanpa dukungan yang kuat, Indonesia akan terus berada di posisi pengguna, bukan produsen. Karena itu, momentum rupiah yang melemah harus dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi industri.

Generasi muda dan ekspor

Sigit menilai pembangunan industri teknologi tidak cukup hanya mengandalkan pelaku usaha saat ini. Generasi muda perlu dikenalkan pada pola pikir industri, inovasi, dan orientasi ekspor sejak dini. Dengan pemahaman itu, mereka dapat melihat sektor teknologi sebagai bidang masa depan yang menjanjikan. Langkah ini juga penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang lebih siap bersaing.

Menurutnya, kemandirian industri nasional hanya bisa tercapai jika ada kesinambungan antargenerasi. Pendidikan dan pengalaman di sektor teknologi perlu diarahkan agar anak muda tidak sekadar menjadi pengguna produk asing. Mereka harus didorong untuk ikut merancang, memproduksi, dan mengembangkan teknologi. Dari sana, ekosistem satelit nasional dapat tumbuh lebih sehat.

Ia menambahkan, budaya ekspor harus ditanamkan sejak awal agar industri tidak terpaku pada pasar dalam negeri. Jika produk nasional mampu memenuhi standar internasional, peluang pertumbuhan akan jauh lebih besar. Ekspor juga membantu industri memperoleh pendapatan dalam dolar, yang pada kondisi tertentu dapat menjadi penyangga saat rupiah melemah. Karena itu, orientasi global perlu dibangun sejak tahap awal.

Dari sisi kebijakan dan industri, pesan utamanya adalah memperkuat kemampuan lokal di tengah tekanan kurs. Kondisi rupiah yang terpuruk tidak hanya menjadi alarm bagi sektor satelit, tetapi juga pengingat bahwa kemandirian teknologi masih perlu dibangun. Dengan investasi domestik, penguatan manufaktur, dan kesiapan ekspor, industri satelit nasional memiliki peluang untuk naik kelas. Momentum ini, menurut Sigit, tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Tekanan kurs dan peluang

Rupiah yang menembus Rp17.500 per dolar AS memang menambah beban bagi industri yang bergantung pada impor. Namun, di sisi lain, pelemahan itu dapat menjadi pemicu perubahan arah pembangunan industri nasional. Sigit menilai, tekanan kurs seharusnya membuat pelaku usaha lebih serius membangun kapasitas di dalam negeri. Jika peluang ini dimanfaatkan, industri satelit bisa menjadi salah satu sektor yang lebih tangguh.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah dan pelaku usaha disebut perlu berjalan searah untuk memperkuat ekosistem teknologi. Dukungan terhadap manufaktur lokal, riset, dan investasi domestik menjadi kunci agar ketergantungan pada produk luar tidak terus berlanjut. Dengan fondasi yang lebih kuat, Indonesia dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Hal itu juga akan membantu sektor satelit bertahan menghadapi volatilitas kurs.

Momentum pelemahan rupiah dinilai bukan alasan untuk pesimistis, melainkan kesempatan untuk berbenah. Sigit menegaskan bahwa industri lokal bisa memanfaatkan kondisi ini sebagai titik tolak menuju kemandirian. Pasar domestik, manufaktur nasional, dan orientasi ekspor perlu disatukan dalam strategi jangka panjang. Jika dijalankan konsisten, sektor teknologi Indonesia berpeluang tumbuh lebih kompetitif.

Dengan tekanan yang masih membayangi, arah penguatan industri satelit menjadi semakin relevan. Pelaku usaha, investor, dan generasi muda diminta ikut terlibat dalam proses tersebut. Kombinasi modal, kapasitas produksi, dan visi ekspor diyakini mampu membawa industri ini naik kelas. Di tengah rupiah yang melemah, peluang membangun kedaulatan teknologi justru terbuka lebih lebar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!