Rupiah Melemah, Dolar AS Sempat Sentuh Rp17.949

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 01 Juni 2026 11:26 WIB 3
Rupiah Melemah, Dolar AS Sempat Sentuh Rp17.949

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, seiring penguatan dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Investing, dolar AS sempat menyentuh level Rp17.949, dengan rentang harian Rp17.772 hingga Rp17.995. Pada data Google Finance, kurs dolar AS juga tercatat berada di Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC sebelum bergerak ke Rp17.850 atau menguat 0,37 persen.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Tekanan itu mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven, terutama dolar AS. Menurut dia, kondisi tersebut membuat ruang pergerakan rupiah semakin terbatas meski Bank Indonesia tetap melakukan intervensi.

Rupiah Tertekan Dolar AS

Pergerakan dolar AS yang menguat menjadi salah satu faktor utama yang membebani rupiah. Investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian pasar meningkat. Dalam kondisi seperti ini, mata uang negara berkembang biasanya menjadi lebih rentan terhadap pelemahan.

Data pasar menunjukkan dolar AS bergerak fluktuatif sepanjang hari perdagangan. Level tertinggi yang tercatat mendekati Rp17.995 menandakan tekanan masih cukup kuat. Meski sempat terkoreksi, posisi dolar AS tetap berada di level tinggi dibandingkan rupiah.

Ibrahim menilai pelemahan rupiah tidak terjadi secara tunggal, melainkan karena tekanan yang datang bersamaan. Pasar juga merespons sentimen global yang memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana. Situasi ini membuat rupiah bergerak sensitif terhadap perubahan persepsi risiko.

Faktor Global Menekan Rupiah

Dari sisi eksternal, pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas memicu kekhawatiran atas stabilitas kawasan. Kondisi itu juga menimbulkan risiko gangguan distribusi energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.

Kekhawatiran terhadap pasokan energi mendorong harga komoditas tetap tinggi. Jika harga energi naik, inflasi global berpotensi ikut tertekan. Dalam situasi tersebut, bank sentral utama dunia cenderung berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

Ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama ikut menekan mata uang emerging market. Kebijakan itu membuat dolar AS tetap menarik bagi investor global. Akibatnya, arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Risiko Domestik Bertambah

Dari dalam negeri, kebutuhan dolar AS meningkat untuk impor minyak dan pembayaran dividen. Kewajiban utang yang jatuh tempo juga menambah permintaan valas di pasar domestik. Tekanan ini membuat rupiah menghadapi beban ganda di tengah sentimen global yang belum mereda.

Ibrahim menilai pasar masih mencermati kondisi fiskal domestik. Efektivitas sejumlah program pemerintah juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional. Jika kepercayaan melemah, pelaku pasar bisa semakin berhati-hati dalam mengambil posisi terhadap rupiah.

Faktor-faktor tersebut membuat kebutuhan likuiditas dolar di dalam negeri tetap tinggi. Saat permintaan naik, tekanan pada rupiah biasanya ikut meningkat. Situasi ini memperlebar jarak antara intervensi kebijakan dan kondisi pasar yang bergerak cepat.

BI Hadapi Tekanan Pasar

Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, Ibrahim menilai tekanan pasar saat ini masih cukup besar. Karena itu, ruang stabilisasi rupiah menjadi lebih terbatas dibandingkan sebelumnya.

Intervensi di pasar valas tetap penting untuk meredam gejolak jangka pendek. Meski demikian, langkah tersebut tidak selalu mampu membalikkan arah pasar secara cepat. Keberhasilan stabilisasi rupiah sangat bergantung pada meredanya sentimen eksternal dan membaiknya kondisi domestik.

Menurut Ibrahim, tekanan yang terjadi secara bersamaan membuat kebijakan BI harus bekerja lebih keras. Selama investor masih memilih aset safe haven, dolar AS berpotensi tetap kuat. Dalam situasi ini, pasar akan terus memantau respons otoritas moneter dan perkembangan geopolitik global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!