Rupiah Lemah, Industri Satelit Lokal Dianggap Punya Peluang

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 15:19 WIB 5
Rupiah Lemah, Industri Satelit Lokal Dianggap Punya Peluang

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp17.500 per dolar AS memberi tekanan besar bagi industri satelit dalam negeri. Sebab, sebagian besar kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada komponen berdenominasi valuta asing. Di tengah kondisi itu, pelaku industri justru melihat ruang untuk mempercepat penguatan manufaktur nasional.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menilai situasi kurs saat ini dapat menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk membangun kemandirian industri teknologi nasional. Pandangan itu ia sampaikan dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Menurutnya, pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai dorongan untuk memperbesar kapasitas produksi dalam negeri.

Industri satelit hadapi tekanan

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada industri satelit karena kebutuhan perangkat dan layanan masih banyak dibeli dengan mata uang asing. Kondisi tersebut membuat biaya pengadaan menjadi lebih mahal ketika dolar AS menguat. Tekanan ini dirasakan oleh pelaku usaha yang bergantung pada impor teknologi dan komponen.

Sigit menjelaskan, beban kurs tidak hanya memengaruhi harga investasi awal, tetapi juga biaya operasional jangka panjang. Dalam situasi seperti ini, perusahaan harus menanggung lonjakan biaya yang sulit dihindari. Akibatnya, ruang ekspansi industri satelit domestik menjadi lebih sempit.

Ia menilai, posisi Indonesia di Asia Tenggara sebenarnya cukup kuat, namun masih tertinggal jika dibandingkan dengan sejumlah negara di Asia. Kesenjangan itu menunjukkan perlunya peningkatan daya saing industri nasional. Tanpa penguatan basis produksi, Indonesia berisiko terus menjadi pasar bagi produk asing.

Karena itu, tekanan kurs tidak boleh hanya dipandang sebagai hambatan. Sigit menekankan bahwa kondisi tersebut harus dibaca sebagai alarm untuk mempercepat industrialisasi dalam negeri. Dengan demikian, pelaku usaha dapat mengurangi ketergantungan pada impor.

Kurs lemah bisa jadi peluang

Di balik tekanan, pelemahan rupiah juga dapat menciptakan peluang bagi industri lokal yang menggunakan biaya produksi dalam rupiah. Sigit menyebut, selisih kurs dapat menjadi margin tambahan bagi pelaku usaha dalam negeri. Hal itu berlaku terutama bagi sektor yang mampu menjual produknya ke pasar ekspor.

Menurut dia, saat dolar AS menguat, industri berorientasi ekspor justru memperoleh keuntungan. Biaya produksi tetap dibayar dengan rupiah, sementara pendapatan diterima dalam dolar AS. Skema tersebut membuat daya saing industri lokal berpotensi meningkat.

Ia menilai, momentum ini semestinya dimanfaatkan untuk membangun ekosistem teknologi nasional yang lebih mandiri. Industri satelit, manufaktur, dan rantai pasok pendukung perlu didorong agar tidak terus bergantung pada produk impor. Jika langkah itu dilakukan konsisten, maka nilai tambah ekonomi akan tinggal di dalam negeri.

Sigit menegaskan bahwa pelemahan rupiah harus mendorong lahirnya industrialisasi yang lebih kuat. Menurutnya, perubahan kurs bukan hanya persoalan moneter, tetapi juga kesempatan memperbaiki struktur ekonomi. Karena itu, strategi jangka panjang perlu disiapkan sejak sekarang.

Investasi lokal perlu diperbesar

Di tengah melambatnya arus modal asing, Sigit mendorong investor domestik untuk lebih agresif menanamkan modal di sektor teknologi nasional. Ia menilai, kekosongan investasi asing seharusnya tidak membuat industri berhenti bergerak. Justru, kondisi itu bisa menjadi pintu masuk bagi modal lokal untuk mengambil peran yang lebih besar.

Ia menyebut, local investing harus menjadi fokus ketika pembiayaan dari luar negeri belum mengalir optimal. Dengan dukungan investor dalam negeri, industri dapat menjaga ritme pengembangan proyek dan riset. Langkah ini juga akan memperkuat kepercayaan bahwa kemampuan membangun industri ada di tangan pelaku lokal.

Menurut Sigit, investasi lokal tidak hanya menyangkut pendanaan, tetapi juga keberanian membangun ekosistem bisnis jangka panjang. Dunia usaha perlu melihat sektor satelit sebagai industri strategis, bukan semata proyek teknologi mahal. Jika ekosistem terbentuk, maka efek turunannya akan terasa pada manufaktur, jasa, dan tenaga kerja.

Ia menambahkan, pasar domestik bisa menjadi tahap awal yang penting untuk membangun skala usaha. Setelah fondasi terbentuk, pelaku industri dapat melangkah ke pasar ekspor secara bertahap. Pola ini dinilai lebih sehat karena memberi waktu bagi perusahaan untuk menguatkan kualitas produk dan efisiensi biaya.

Generasi muda dan kemandirian

Sigit juga menyoroti pentingnya menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Ia menilai, kemandirian teknologi tidak bisa dibangun hanya lewat kebijakan, tetapi juga melalui cara pandang sumber daya manusia. Karena itu, pendidikan dan pembiasaan terhadap budaya industri perlu diperkuat.

Menurut dia, generasi muda harus memahami bahwa sektor teknologi memiliki nilai strategis bagi kedaulatan ekonomi. Jika sejak awal mereka terbiasa berpikir tentang produksi, efisiensi, dan ekspor, maka peluang lahirnya inovasi nasional akan lebih besar. Hal itu akan membantu Indonesia keluar dari ketergantungan pada produk impor.

Sigit menyatakan, pembentukan karakter industri sejak usia muda akan menentukan arah ekonomi jangka panjang. Negara yang kuat di bidang teknologi biasanya memiliki ekosistem pendidikan, riset, dan investasi yang saling terhubung. Karena itu, penguatan talenta lokal menjadi bagian penting dari strategi nasional.

Ia menutup dengan penegasan bahwa kemandirian industri teknologi harus menjadi target bersama. Pelemahan rupiah, menurutnya, dapat menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada impor selalu membawa risiko besar. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan tepat, Indonesia berpeluang memperkuat posisi di industri satelit dan teknologi ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!