Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 dalam Waktu Dekat

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 01 Juni 2026 17:30 WIB 2
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 dalam Waktu Dekat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berpotensi melemah lebih dalam hingga pekan depan. Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut level Rp18.000 per dolar AS sudah berada di depan mata, bahkan membuka peluang menuju Rp18.200. Tekanan ini dipengaruhi kombinasi faktor domestik, sentimen investor, serta menguatnya permintaan dolar di pasar.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah bisa berlanjut jika sentimen negatif pasar tidak mereda. Ia melihat level psikologis Rp18.000 berpotensi menjadi pemicu pelemahan lanjutan ke Rp19.000 per dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih sensitif terhadap kebijakan pemerintah dan arah fiskal nasional.

Rupiah dan Tekanan Dolar

Ibrahim menilai pelemahan rupiah tidak hanya disebabkan faktor teknikal, tetapi juga persoalan struktural dalam perekonomian nasional. Salah satu yang disorot adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih terbebani impor energi, terutama minyak mentah. Menurutnya, kebutuhan dolar untuk membiayai impor membuat tekanan terhadap rupiah semakin berat.

Ia menjelaskan bahwa asumsi harga minyak dalam APBN berada di kisaran US$70 per barel dengan kurs Rp16.500 per dolar AS. Namun, saat ini harga minyak mentah sudah berada di atas US$90 dan kurs rupiah mendekati Rp17.900. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mengeluarkan dolar dalam jumlah besar untuk menjaga pasokan energi.

Selain itu, beban subsidi energi juga memperbesar tekanan fiskal dan menggerus ruang gerak pemerintah. Ibrahim menyebut sekitar 85 persen impor minyak mentah berkaitan dengan subsidi, sehingga pelemahan rupiah ikut memperburuk beban anggaran. Situasi ini pada akhirnya ikut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi.

Defisit dan Kebutuhan Valas

Dari sisi pasar modal, Ibrahim menilai kebutuhan dolar juga naik karena perusahaan asing di Indonesia harus membagikan dividen kepada pemegang saham. Arus kebutuhan valas tersebut menambah permintaan dolar di dalam negeri dan memperlemah posisi rupiah. Dalam kondisi seperti ini, ruang penguatan mata uang Garuda menjadi semakin terbatas.

Ia menyebut dana yang semula tersimpan di emas digital maupun logam mulia juga mulai berpindah ke dolar AS. Perpindahan aset itu terjadi karena investor melihat indeks dolar menawarkan peluang keuntungan jangka pendek yang lebih menarik. Akibatnya, minat terhadap emas cenderung melemah ketika dolar sedang menguat.

Bhima Yudhistira menambahkan bahwa pelemahan rupiah semakin dipengaruhi sentimen negatif investor asing terhadap kebijakan pemerintah. Menurutnya, pasar masih mencermati defisit APBN, subsidi energi, serta efektivitas sejumlah program populis yang dinilai membutuhkan anggaran besar. Kekhawatiran tersebut membuat persepsi terhadap stabilitas ekonomi nasional ikut tertekan.

Sentimen Kebijakan Pemerintah

Salah satu perhatian utama pasar adalah rencana ekspor satu pintu melalui BUMN baru, Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Ibrahim menilai kebijakan ini memunculkan kegaduhan karena diumumkan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Meski secara jangka panjang dinilai bisa menutup celah kebocoran ekspor ilegal, pasar menilai prosesnya terlalu cepat.

Menurutnya, perubahan kebijakan yang berlangsung singkat tanpa sosialisasi memadai menimbulkan pertanyaan dari pelaku usaha. Investor asing pun melihat adanya ketidakpastian regulasi yang berpotensi mengganggu iklim investasi. Dalam situasi ini, sebagian modal asing disebut beralih ke negara lain yang dinilai lebih pasti.

Bhima juga menilai pemerintah perlu memberi kepastian yang lebih kuat agar pasar tidak membaca kebijakan sebagai langkah mendadak. Ia menilai kebijakan yang baik tetap membutuhkan komunikasi dengan pelaku usaha agar tidak memicu kepanikan. Jika tidak, tekanan terhadap rupiah dapat bertahan lebih lama dari perkiraan.

Risiko Pelemahan Lanjutan

Bhima menegaskan bahwa level Rp18.000 per dolar AS dapat menjadi batas psikologis yang penting bagi pasar. Jika level itu ditembus, pelemahan rupiah berpotensi berlangsung lebih cepat menuju Rp19.000 per dolar AS. Menurutnya, pasar akan merespons lebih agresif ketika batas psikologis telah terlewati.

Ia menilai pelemahan tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap arah fiskal dan efektivitas program pemerintah. Sentimen pasar dapat memburuk apabila defisit APBN melebar dan biaya subsidi energi terus naik. Kondisi itu berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa rupiah masih akan berada di bawah tekanan.

Dengan berbagai faktor yang saling berkaitan, peluang rupiah untuk kembali stabil dalam waktu dekat dinilai masih terbatas. Pasar kini menunggu langkah pemerintah dan Bank Indonesia untuk meredam gejolak serta menjaga kepercayaan investor. Tanpa sinyal yang kuat, pelemahan rupiah diperkirakan belum akan berhenti dalam waktu dekat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!