Tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih berlanjut hingga pekan depan. Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai, level Rp18.000 per dolar AS sudah berada di depan mata, bahkan berpotensi bergerak ke Rp18.200 dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap mata uang Garuda dinilai tidak hanya berasal dari faktor teknikal, tetapi juga persoalan struktural ekonomi nasional. Sentimen investor, beban impor energi, hingga kebijakan pemerintah yang dianggap memunculkan ketidakpastian ikut memperburuk pelemahan rupiah.
Tekanan Rupiah Masih Berlanjut
Ibrahim menyebut rupiah berpeluang menembus Rp18.000 per dolar AS antara akhir pekan ini hingga pekan depan. Menurut dia, jika level tersebut berhasil dilewati, rupiah bisa bergerak lebih jauh ke Rp18.200. Ia menilai tren ini sudah terlihat dari pergerakan pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya dipengaruhi sentimen sesaat. Kondisi tersebut, kata dia, juga dipicu oleh ketidakseimbangan fundamental ekonomi domestik. Dalam situasi seperti ini, rupiah menjadi lebih rentan terhadap tekanan eksternal.
Di sisi lain, penguatan dolar AS membuat pelaku pasar cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. Aliran dana ke dolar pun meningkat, sementara permintaan terhadap rupiah melemah. Kondisi ini mempercepat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Beban Impor Energi Meningkat
Menurut Ibrahim, salah satu persoalan utama adalah ketergantungan Indonesia pada impor energi, terutama minyak mentah. Ia menilai defisit neraca transaksi berjalan masih menjadi beban besar bagi perekonomian. Saat harga minyak dunia naik, tekanan terhadap kebutuhan dolar di dalam negeri ikut membesar.
Ia menjelaskan, asumsi harga minyak dalam APBN berada di kisaran US$70 per barel dengan kurs Rp16.500 per dolar AS. Namun saat ini harga minyak telah berada di atas US$90 per barel, sementara rupiah justru melemah mendekati Rp17.900. Akibatnya, pemerintah harus menyediakan dolar dalam jumlah lebih besar untuk menutup kebutuhan impor.
Selain itu, porsi impor minyak mentah yang besar ikut menambah beban fiskal. Menurut Ibrahim, sekitar 85 persen impor minyak terkait dengan subsidi, sehingga tekanan terhadap anggaran pemerintah semakin besar. Situasi ini membuat defisit lebih sulit ditekan dalam waktu singkat.
Sentimen Pasar Modal Melemah
Tekanan pada rupiah juga datang dari pasar modal, terutama dari kebutuhan perusahaan asing untuk membagikan dividen kepada pemegang saham. Pembayaran dividen tersebut memicu permintaan dolar di dalam negeri. Hal ini kemudian menambah tekanan terhadap mata uang Garuda.
Ibrahim menilai kondisi tersebut menambah kekurangan pasokan dolar di pasar domestik. Di saat yang sama, arus keluar dana untuk dividen membuat pasar valuta asing menjadi lebih sensitif. Kombinasi itu, menurut dia, mendorong rupiah bergerak semakin lemah.
Ia menyebut pelemahan rupiah bukan semata akibat kebijakan moneter Bank Indonesia. Masalah ini, kata dia, juga berhubungan dengan struktur ekonomi yang belum cukup kuat menghadapi tekanan eksternal. Karena itu, perbaikan fundamental dinilai jauh lebih penting daripada respons jangka pendek.
Kebijakan Baru Picu Kekhawatiran
Bhima Yudhistira dari CELIOS menilai pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga menembus Rp18.000 per dolar AS. Bahkan, ia memperkirakan tekanan dapat berlanjut ke kisaran Rp19.000 jika batas psikologis Rp18.000 sudah terlampaui. Menurut dia, kondisi ini bisa membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap sentimen negatif.
Bhima menyoroti rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI sebagai salah satu faktor yang memicu kekhawatiran investor. Ia menilai kebijakan itu memang bertujuan menekan transfer pricing dan under invoicing. Namun, peluncurannya yang dinilai terlalu cepat membuat pasar menangkap sinyal ketidakpastian aturan.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa pelaku pasar juga mencermati kondisi fiskal dan efektivitas program pemerintah. Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN, beban subsidi energi, serta biaya program populis turut memengaruhi persepsi investor. Dalam keadaan seperti ini, rupiah dinilai masih rentan tertekan dalam jangka pendek.
