Penemuan batu permata langka kembali menghebohkan Myanmar setelah para penambang menemukan rubi raksasa seberat lima pon atau sekitar 2,2 kilogram. Batu merah tersebut memiliki ukuran sekitar 11.000 karat dan ditemukan di dekat Mogok, wilayah yang dikenal sebagai pusat tambang batu permata negara itu.
Permata langka itu kemudian diperlihatkan di kantor Presiden Min Aung Hlaing di Naypyidaw, menurut laporan media pemerintah Global New Light of Myanmar yang dikutip New York Post. Temuan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah industri batu permata Myanmar yang telah lama dikaitkan dengan konflik, pendanaan kelompok bersenjata, dan tekanan hak asasi manusia.
Rubi Langka Dari Mogok
Rubi tersebut ditemukan tak lama setelah festival Tahun Baru tradisional Myanmar pada April lalu, namun baru diumumkan secara resmi pada pekan ini. Lokasi penemuan di sekitar Mogok kembali menegaskan peran wilayah itu sebagai salah satu pusat utama penambangan rubi dunia.
Para penambang menyebut temuan ini sebagai salah satu yang paling penting dalam beberapa tahun terakhir. Statusnya sebagai batu rubi terbesar kedua yang pernah ditemukan di Myanmar membuatnya langsung menarik perhatian publik dan pasar batu permata.
Meski ukurannya hanya sekitar setengah dari rubi terbesar sebelumnya, nilainya diperkirakan tetap sangat tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh kualitas warna, kejernihan, dan kilau permukaan batu yang dinilai unggul oleh para ahli.
Nilai Tinggi Di Balik Ukuran
Rubi terbesar sebelumnya di Myanmar ditemukan pada 1996 dengan bobot 21.450 karat. Namun batu terbaru ini dianggap lebih istimewa karena transparansi dan reflektivitasnya dinilai lebih baik.
Dalam industri batu permata, kualitas visual sering menjadi faktor utama penentu harga. Karena itu, ukuran yang lebih kecil tidak selalu berarti nilai yang lebih rendah.
Para pengamat menilai batu ini dapat menjadi simbol penting bagi posisi Myanmar sebagai produsen rubi kelas dunia. Negara tersebut disebut menyuplai sekitar 90 persen pasokan rubi global, terutama dari kawasan Mogok.
Industri Rubi Myanmar Disorot
Di balik penemuan spektakuler itu, industri batu permata Myanmar terus menghadapi kritik internasional. Sejumlah kelompok hak asasi manusia mendesak pembeli perhiasan agar berhenti menggunakan batu permata asal Myanmar.
Kritik tersebut muncul karena industri ini dianggap menjadi sumber pendapatan penting bagi pemerintahan militer. Selain itu, aktivitas tambang juga disebut berkontribusi pada pendanaan kelompok bersenjata yang terlibat konflik sejak kudeta militer 2021.
Kondisi itu membuat setiap temuan baru, termasuk rubi raksasa ini, tidak hanya dipandang sebagai pencapaian geologi. Temuan tersebut juga kembali memantik perdebatan soal etika, perdagangan, dan dampak konflik di sektor tambang Myanmar.
Posisi Myanmar Di Pasar
Myanmar selama ini dikenal sebagai salah satu pemasok rubi paling penting di pasar internasional. Reputasi tersebut bertumpu pada kualitas batu permata dari Mogok yang sudah lama terkenal sejak puluhan tahun lalu.
Meski demikian, reputasi itu kini dibayangi persoalan politik dan keamanan yang belum mereda. Situasi tersebut membuat rantai pasok batu permata dari Myanmar kerap menjadi perhatian pelaku industri global.
Bagi pasar batu mulia, penemuan rubi 11.000 karat ini bisa menjadi kabar besar dari sisi kelangkaan. Namun bagi sebagian pihak, temuan tersebut juga mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam Myanmar masih terkait erat dengan konflik berkepanjangan.
