Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut dibentuk untuk mengelola ekspor komoditas strategis, termasuk minyak kelapa sawit, batu bara, dan fero alloy.
IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, lalu tertekan lebih dalam pada Kamis, 21 Mei 2026, hingga ditutup di level 6.094 atau turun 233 poin. Rosan menyebut tekanan pasar tidak semata-mata dipicu kebijakan baru, melainkan juga faktor teknikal dan sentimen global yang sedang membebani bursa.
IHSG dan tekanan pasar
Rosan menilai pelemahan IHSG perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya pada satu peristiwa. Menurutnya, pasar saham saat ini tengah merespons sejumlah faktor yang datang bersamaan. Salah satunya adalah sentimen investor yang cenderung berhati-hati terhadap kondisi global.
Ia juga menyinggung rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang dinilai ikut menekan pergerakan saham. MSCI telah mengumumkan penyesuaian yang berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Dalam penyesuaian tersebut, sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks.
Rosan menjelaskan, perubahan komposisi indeks semacam ini kerap memicu aksi jual dari investor asing. Kondisi tersebut kemudian memberi tekanan tambahan pada harga saham di pasar. Ia menegaskan bahwa situasi seperti ini bersifat teknikal dan tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental emiten.
Meski demikian, Rosan meminta pelaku pasar tetap mencermati data kinerja perusahaan secara objektif. Ia menilai volatilitas jangka pendek merupakan bagian dari dinamika pasar modal. Dalam pandangannya, pergerakan indeks saat ini masih dipengaruhi persepsi yang belum tentu sejalan dengan kinerja riil perusahaan.
Fundamental BUMN masih kuat
Rosan menilai investor perlu melihat kinerja perusahaan dalam perspektif jangka panjang. Ia menyebut fundamental sejumlah BUMN masih berada pada level yang kuat. Hal itu, menurut dia, menjadi penopang penting di tengah tekanan pasar yang sedang berlangsung.
Ia mencontohkan bank-bank Himbara yang dinilai masih menunjukkan performa positif. Rosan mengatakan imbal hasil perusahaan-perusahaan tersebut berada di atas 10 hingga 11 persen. Menurutnya, capaian itu menunjukkan bahwa kinerja operasional masih berjalan baik.
Pandangan tersebut, kata Rosan, menjadi alasan mengapa pasar tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap pelemahan sesaat. Ia menilai fundamental yang kuat akan menjadi penopang ketika sentimen negatif mereda. Karena itu, investor diminta tidak hanya berfokus pada gejolak harian.
Rosan juga menyebut kondisi ekonomi dan perusahaan pelat merah masih tergolong baik. Ia menilai tekanan yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi persepsi pasar. Dengan dasar itu, ia tetap optimistis prospek BUMN akan membaik dalam jangka menengah dan panjang.
Sentimen global ikut menekan
Selain faktor domestik, Rosan mengakui pasar saham juga dibayangi tekanan eksternal. Sentimen global yang tidak stabil membuat investor cenderung menahan risiko. Situasi ini turut memengaruhi arah perdagangan di bursa Indonesia.
Ia menilai investor asing biasanya merespons cepat perubahan portofolio global. Karena itu, setiap penyesuaian indeks besar dapat berdampak pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan yang muncul kemudian sering kali terasa lebih kuat pada saham-saham tertentu.
Meski begitu, Rosan menilai tekanan tersebut tidak berlangsung selamanya. Dalam jangka menengah, pasar cenderung kembali mengikuti kekuatan fundamental. Ia menyebut kondisi ini sebagai bagian dari siklus normal di pasar modal.
Rosan menegaskan, yang terpenting adalah menjaga disiplin membaca data dan kinerja perusahaan. Ia yakin pasar akan kembali stabil ketika persepsi mulai sejalan dengan fundamental. Menurutnya, arah jangka panjang tetap positif selama kinerja emiten dan ekonomi nasional terjaga.
Prospek pasar jangka panjang
Rosan menyampaikan optimisme bahwa pasar akan membaik dalam jangka menengah dan panjang. Ia menilai fundamental perusahaan-perusahaan BUMN masih cukup solid untuk menopang pemulihan. Dengan basis tersebut, ia melihat koreksi IHSG sebagai bagian dari penyesuaian pasar yang wajar.
Ia juga menekankan pentingnya membedakan antara tekanan sesaat dan tren fundamental. Menurutnya, pasar sering kali bereaksi berlebihan terhadap sentimen tertentu. Namun, dalam jangka lebih panjang, kinerja bisnis yang baik akan kembali menjadi acuan utama.
Rosan menambahkan, investor sebaiknya menilai emiten berdasarkan kinerja operasional, bukan hanya kabar harian. Ia menilai pendekatan itu lebih relevan untuk pengambilan keputusan investasi. Dengan begitu, pasar dapat membaca prospek secara lebih rasional.
Di tengah tekanan yang terjadi, Rosan tetap menaruh keyakinan pada pemulihan pasar modal Indonesia. Ia menilai fundamental ekonomi nasional masih berada pada jalur yang sehat. Karena itu, ia optimistis arah pasar akan kembali menguat seiring meredanya sentimen negatif.
