Rosan Sebut Tekanan IHSG Dipicu Faktor Teknikal

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 28 Mei 2026 05:32 WIB 3
Rosan Sebut Tekanan IHSG Dipicu Faktor Teknikal

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut dirancang untuk mengelola ekspor komoditas strategis, seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga ferro alloy. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094, setelah sempat tertekan lebih dari 2 persen saat pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor komoditas SDA disampaikan. Rosan menilai tekanan pasar tidak semata-mata dipicu oleh faktor domestik, melainkan juga sentimen global dan penyesuaian indeks MSCI.

Menurut Rosan, investor perlu membaca pergerakan pasar secara lebih luas dan tidak terpaku pada pelemahan harian. Ia menegaskan bahwa tekanan yang terjadi di bursa saham dapat dipengaruhi faktor teknikal, persepsi pasar, dan arus dana dari investor global. Dalam pandangannya, fundamental perusahaan pelat merah masih berada pada kondisi yang kuat. Karena itu, ia meminta pelaku pasar melihat prospek jangka menengah dan panjang dengan lebih tenang.

IHSG dan Tekanan Pasar

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Tekanan semakin besar ketika pasar mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Pada pukul 11.19 WIB, indeks bahkan sempat jatuh lebih dari 2 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan respons pasar yang cukup sensitif terhadap isu kebijakan baru.

Pada perdagangan berikutnya, Kamis, 21 Mei 2026, IHSG kembali tertekan dan ditutup di level 6.094. Angka itu setara dengan penurunan 233 poin atau 3,54 persen dari posisi sebelumnya. Pelemahan beruntun ini memicu perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi dan sentimen investor. Kondisi tersebut juga menjadi latar bagi pernyataan Rosan mengenai faktor yang memengaruhi bursa.

Rosan menyebut pasar saham memang sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah. Ia menilai sebagian besar berasal dari faktor teknikal yang kerap memengaruhi pergerakan jangka pendek. Selain itu, persepsi investor terhadap kondisi global turut memberi tekanan tambahan. Menurutnya, dinamika semacam ini lazim terjadi di pasar modal.

Dalam penjelasannya, Rosan menekankan bahwa volatilitas tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental emiten. Ia menilai investor perlu membedakan antara tekanan harga harian dan kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Dengan pendekatan itu, pelaku pasar diharapkan tidak mengambil keputusan tergesa-gesa. Rosan juga mengingatkan bahwa koreksi pasar dapat bersifat sementara.

MSCI dan Arus Dana Global

Rosan menyoroti rebalancing Morgan Stanley Capital International atau MSCI sebagai salah satu faktor yang memberi tekanan pada saham Indonesia. Penyesuaian indeks tersebut disebut akan berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Menurutnya, informasi itu mendorong investor luar negeri melakukan penyesuaian portofolio. Dampaknya, beberapa saham dapat mengalami tekanan jual dalam jangka pendek.

MSCI telah mengumumkan hasil rebalancing yang mencakup perubahan pada sejumlah saham Indonesia. Sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks dalam penyesuaian tersebut. Kondisi ini berpotensi memicu pergeseran arus dana dari investor institusi global. Pasar pun cenderung merespons sebelum keputusan itu efektif berlaku.

Rosan menilai mekanisme semacam ini sudah dikenal di pasar modal dan kerap memengaruhi sentimen investor. Ia menyebut sebagian pelaku pasar biasanya menyesuaikan posisi lebih awal ketika ada perubahan komposisi indeks global. Akibatnya, tekanan pada saham tertentu dapat muncul meski faktor fundamental perusahaan belum berubah. Situasi ini, kata Rosan, perlu dibaca secara proporsional.

Ia menegaskan bahwa pelemahan akibat rebalancing tidak otomatis menandakan memburuknya prospek ekonomi nasional. Bagi Rosan, pergerakan indeks global adalah bagian dari siklus pasar yang wajar. Karena itu, investor diminta lebih cermat membedakan tekanan jangka pendek dan arah jangka panjang. Dalam pandangannya, basis ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang pemulihan.

Fundamental BUMN Tetap Kuat

Rosan menekankan pentingnya melihat kinerja perusahaan dari sisi fundamental, terutama pada BUMN. Ia mencontohkan bank-bank Himbara yang dinilainya masih menunjukkan performa positif. Menurutnya, beberapa di antaranya bahkan mencatat imbal hasil yang tinggi. Hal tersebut menjadi salah satu alasan ia tetap optimistis terhadap prospek saham terkait BUMN.

Ia menyebut kinerja emiten pelat merah perlu dilihat secara satu per satu agar penilaian pasar lebih akurat. Dalam paparannya, Rosan mengatakan performa bank-bank Himbara meningkat dan yield-nya berada di atas 10 hingga 11 persen. Ia menilai angka itu menunjukkan daya tahan bisnis yang masih baik. Karena itu, pelemahan saham tidak seharusnya menutupi kekuatan fundamental yang ada.

Rosan juga mengaitkan optimisme pasar dengan perbaikan kinerja ekonomi dalam jangka menengah dan panjang. Menurutnya, tekanan yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen dan persepsi pelaku pasar. Ia meyakini hal tersebut bersifat sementara selama fundamental perusahaan tetap terjaga. Dalam situasi seperti ini, konsistensi kinerja menjadi faktor yang paling penting.

Di sisi lain, ia mengakui pasar memang sedang berada dalam kondisi tertekan. Namun, Rosan menegaskan bahwa fondasi ekonomi dan perusahaan pelat merah masih berada pada jalur yang sehat. Dengan demikian, ia melihat peluang pemulihan tetap terbuka setelah sentimen mereda. Pandangan tersebut menjadi sinyal bahwa pelemahan IHSG tidak dibaca sebagai masalah struktural.

Prospek Jangka Menengah

Rosan menyampaikan keyakinan bahwa kondisi pasar akan membaik seiring waktu. Ia menilai tekanan yang muncul saat ini tidak mencerminkan potensi ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Menurutnya, investor perlu memberi ruang bagi proses penyesuaian pasar berlangsung secara alami. Dengan begitu, penilaian terhadap aset Indonesia bisa lebih seimbang.

Ia menegaskan bahwa sentimen negatif tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal untuk menilai masa depan pasar modal. Rosan mengingatkan bahwa fundamental kuat biasanya akan kembali menjadi penentu utama dalam jangka panjang. Karena itu, ia mengimbau investor untuk tetap fokus pada kinerja emiten dan arah kebijakan ekonomi. Pendekatan tersebut dinilai lebih relevan dibanding bereaksi pada fluktuasi sesaat.

Dalam keterangannya, Rosan menutup dengan penegasan bahwa kondisi jangka panjang tetap menjanjikan. Ia menyebut fundamental yang baik akan mendukung pemulihan pasar setelah sentimen mereda. Menurutnya, pasar yang sehat tidak bergerak lurus, melainkan melewati fase koreksi dan penyesuaian. Selama fondasi perusahaan solid, ia menilai peluang pertumbuhan tetap terbuka.

Pandangan Rosan menjadi sorotan karena datang di tengah pelemahan IHSG yang cukup tajam dalam dua hari perdagangan. Di saat pasar menimbang dampak kebijakan baru dan rebalancing MSCI, pernyataannya memberi perspektif berbeda bagi investor. Ia meminta publik tidak hanya melihat tekanan sesaat, tetapi juga prospek fundamental yang lebih besar. Dalam jangka panjang, ia optimistis pasar akan kembali mencerminkan kekuatan ekonomi riil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!