Rosan Respons IHSG Melemah Usai Pembentukan Danantara

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 27 Mei 2026 19:04 WIB 2
Rosan Respons IHSG Melemah Usai Pembentukan Danantara

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi usai pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut ditugaskan mengelola ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga ferro alloy. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094, atau turun 233 poin.

Tekanan di pasar saham juga sempat terlihat saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Pada pukul 11.19 WIB, indeks tercatat anjlok lebih dari 2 persen, sementara penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei, juga berada di zona merah. Rosan menilai pergerakan itu tidak semata dipengaruhi satu isu, melainkan kombinasi faktor teknikal dan sentimen global.

IHSG dan Tekanan Pasar

Rosan menyebut pelemahan IHSG perlu dilihat dari sudut pandang data dan statistik pasar. Menurutnya, tekanan yang muncul saat ini tidak lepas dari dinamika teknikal yang memang kerap memengaruhi pergerakan indeks. Ia juga menilai pasar sedang berada dalam fase sensitif terhadap berbagai sentimen.

Selain faktor domestik, Rosan menyoroti pengaruh kondisi global yang ikut menekan pergerakan saham. Salah satu yang disebutnya adalah rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Perubahan komposisi indeks global itu dinilai dapat memicu aksi jual dari investor asing.

Rosan mengatakan pasar cenderung bereaksi terhadap saham-saham yang keluar dari indeks tersebut. Ia menilai tekanan jangka pendek adalah hal yang wajar dalam mekanisme pasar modal. Meski demikian, ia meminta pelaku pasar tidak hanya berfokus pada volatilitas harian.

Ia menegaskan bahwa koreksi indeks tidak selalu mencerminkan melemahnya kondisi perusahaan secara fundamental. Menurutnya, ada perbedaan antara tekanan harga saham dan kinerja bisnis emiten. Karena itu, investor diminta tetap memperhatikan arah jangka panjang sebelum mengambil keputusan.

Sentimen Global Menekan Saham

Rosan menyinggung keputusan MSCI yang disebut akan berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Dalam penyesuaian itu, sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan harga saham terkait.

Ia menjelaskan, perubahan indeks global biasanya memengaruhi aliran dana dari investor luar negeri. Ketika sebuah saham keluar dari indeks, sebagian investor institusi akan menyesuaikan portofolionya. Proses itu kerap menimbulkan tekanan tambahan pada pasar domestik.

Menurut Rosan, reaksi pasar yang terjadi beberapa hari terakhir perlu dibaca sebagai bagian dari penyesuaian alami. Ia menilai investor saat ini masih sangat peka terhadap informasi yang datang dari pasar global. Dalam situasi seperti ini, volatilitas harga saham cenderung meningkat.

Meski pasar sedang tertekan, Rosan menilai kondisi tersebut belum tentu berlanjut dalam jangka panjang. Ia menyebut faktor persepsi sering kali memperbesar tekanan di bursa. Namun, ia percaya pasar akan kembali stabil setelah sentimen sementara mereda.

Fundamental BUMN Masih Kuat

Rosan menekankan bahwa investor perlu melihat fundamental perusahaan, bukan hanya pergerakan harga dalam waktu singkat. Ia menyebut kinerja BUMN masih kuat meski pasar saham tengah mengalami tekanan. Menurutnya, kekuatan fundamental menjadi penopang utama dalam jangka menengah dan panjang.

Ia mencontohkan bank-bank Himbara yang dinilai masih mencatat performa positif. Rosan mengatakan imbal hasil beberapa bank pelat merah berada di atas 10 hingga 11 persen. Angka tersebut, menurutnya, menunjukkan kinerja yang tetap menarik bagi investor.

Rosan menambahkan, fundamental ekonomi nasional juga masih dalam kondisi yang baik. Ia menilai pelaku pasar sebaiknya tidak hanya terpaku pada sentimen sesaat. Dengan melihat data kinerja perusahaan, investor dapat menilai prospek secara lebih objektif.

Dalam pandangannya, pelemahan yang terjadi saat ini masih bersifat sementara. Ia optimistis kondisi pasar akan membaik seiring waktu, terutama jika fundamental perusahaan tetap solid. Karena itu, Rosan meminta pasar menjaga perspektif jangka menengah dan panjang.

Prospek Pasar Jangka Panjang

Rosan menegaskan bahwa tekanan yang terjadi di pasar saham saat ini tidak mengubah prospek ekonomi secara keseluruhan. Ia menilai faktor teknikal, persepsi, dan sentimen global hanya memberi dampak jangka pendek. Sementara itu, fondasi ekonomi nasional dinilainya masih terjaga.

Ia mengingatkan bahwa pasar saham memang kerap bergerak cepat mengikuti isu yang berkembang. Namun, pergerakan harian tidak selalu menggambarkan arah bisnis perusahaan secara utuh. Karena itu, investor diminta tetap cermat membaca kondisi fundamental emiten.

Rosan juga percaya pasar akan kembali menguat ketika penilaian terhadap kinerja perusahaan menjadi lebih rasional. Ia menyebut perusahaan pelat merah memiliki basis bisnis yang masih kuat. Dengan modal tersebut, ia optimistis pemulihan bisa terjadi secara bertahap.

Di tengah tekanan IHSG, Rosan berharap pelaku pasar tetap tenang dan menilai saham berdasarkan kinerja jangka panjang. Ia menilai keyakinan terhadap fundamental akan menjadi penopang utama dalam fase volatilitas. Menurutnya, arah pasar pada akhirnya akan membaik seiring stabilnya sentimen dan pulihnya kepercayaan investor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!