Rosan Respons IHSG Anjlok, Soroti Sentimen Global

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 18:15 WIB 8
Rosan Respons IHSG Anjlok, Soroti Sentimen Global

Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut ditugaskan mengelola ekspor komoditas strategis, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, hingga fero alloy. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG ditutup di level 6.094 atau turun 233 poin, setara 3,54 persen. Sebelumnya, pada Rabu, 20 Mei 2026, indeks juga melemah 0,82 persen ke level 6.318,50.

Tekanan di pasar saham semakin terasa ketika IHSG sempat jatuh lebih dari 2 persen pada pukul 11.19 WIB, bertepatan dengan pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Rosan menilai pergerakan tersebut tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor, karena ada dinamika teknikal dan sentimen eksternal yang ikut memengaruhi. Ia menyebut salah satu faktor yang menekan pasar adalah rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Dalam penyesuaian terbaru, 18 saham Indonesia disebut keluar dari indeks tersebut.

IHSG dan Tekanan Pasar

Rosan menjelaskan bahwa pelemahan IHSG tidak serta-merta berkaitan langsung dengan pembentukan badan baru di sektor sumber daya alam. Menurut dia, pelaku pasar juga bereaksi terhadap sentimen global yang sedang bergerak cepat. Kondisi itu membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dalam situasi seperti ini, faktor persepsi sering kali bergerak lebih cepat daripada fundamental.

Ia menyinggung pula rebalancing MSCI yang disebut akan berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Menurut Rosan, perubahan komposisi indeks global itu dapat memicu tekanan dari investor asing. Saham yang keluar dari indeks berpotensi mengalami aksi jual dalam jangka pendek. Hal tersebut, kata dia, menjadi bagian dari mekanisme pasar yang lumrah terjadi.

Meski tekanan masih terasa, Rosan meminta investor tidak terpaku pada fluktuasi harian. Ia menilai pergerakan indeks dalam jangka pendek kerap dipengaruhi berita dan ekspektasi pasar. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tetap bertumpu pada data yang lebih utuh. Pandangan jangka panjang dinilai lebih relevan untuk membaca arah pasar.

Faktor MSCI dan Sentimen

Rosan mengatakan, pelemahan yang terjadi saat ini juga tidak lepas dari arah pergerakan pasar global. Ia menyebut investor asing cenderung sensitif terhadap perubahan komposisi indeks acuan internasional. Ketika ada saham yang dikeluarkan, tekanan jual biasanya muncul lebih dulu. Situasi tersebut ikut menahan laju IHSG di bursa domestik.

Menurut Rosan, pasar saham saat ini sedang dibayangi oleh faktor teknikal dan persepsi yang belum sepenuhnya stabil. Ia menilai kondisi tersebut wajar terjadi saat pasar menyesuaikan diri dengan informasi baru. Namun, penurunan yang dipicu sentimen tidak selalu mencerminkan kondisi riil perusahaan. Karena itu, investor diminta membedakan gejolak sesaat dengan performa jangka panjang.

Ia juga menekankan bahwa reaksi pasar terhadap kebijakan dan pernyataan pejabat negara sering kali berlangsung sangat cepat. Dalam hitungan menit, indeks dapat bergerak tajam karena pelaku pasar membaca risiko secara berlebihan. Rosan menyebut kondisi itu sebagai bagian dari dinamika pasar modern. Oleh sebab itu, analisis yang berbasis data dinilai penting agar penilaian tetap proporsional.

Fundamental BUMN Masih Kuat

Di tengah tekanan pasar, Rosan menegaskan fundamental perusahaan pelat merah masih berada dalam kondisi baik. Ia mencontohkan bank-bank Himbara yang disebut tetap menunjukkan kinerja positif. Menurut dia, imbal hasil sejumlah bank BUMN bahkan berada di atas 10 persen hingga 11 persen. Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kinerja dasar perusahaan masih solid.

Rosan menambahkan, investor seharusnya melihat perkembangan perusahaan secara lebih menyeluruh. Kinerja laba, efisiensi operasional, dan daya tahan bisnis dinilai lebih penting dibanding fluktuasi jangka pendek. Ia menyebut BUMN masih memiliki pijakan fundamental yang kuat untuk menghadapi tekanan pasar. Dengan landasan itu, prospek pemulihan dinilai tetap terbuka.

Ia juga menilai bahwa kinerja positif BUMN tidak hanya terlihat pada sektor perbankan. Beberapa perusahaan pelat merah lain masih menunjukkan daya saing yang cukup kuat di tengah volatilitas pasar. Menurut Rosan, hal ini memperlihatkan bahwa tekanan indeks belum tentu mencerminkan penurunan kualitas emiten. Karena itu, ia meminta pelaku pasar tetap membaca data fundamental secara cermat.

Prospek Pasar Jangka Panjang

Rosan optimistis pasar akan membaik dalam jangka menengah dan panjang. Ia menilai tekanan yang terjadi saat ini bersifat sementara dan lebih banyak dipengaruhi persepsi. Ketika sentimen global mereda, pasar dinilai memiliki ruang untuk pulih. Fundamental ekonomi nasional disebut tetap menjadi penopang utama.

Ia menegaskan bahwa investor perlu bersabar menghadapi fase koreksi seperti sekarang. Dalam pandangannya, pasar saham tidak selalu bergerak linear, karena ada periode penyesuaian yang harus dilalui. Selama kinerja perusahaan dan ekonomi dasar tetap kuat, peluang pemulihan akan selalu ada. Kondisi tersebut dinilai relevan untuk investor jangka panjang.

Rosan menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa yang terpenting adalah melihat arah besar ekonomi, bukan hanya gejolak harian di bursa. Ia percaya pasar akan kembali menemukan keseimbangannya setelah tekanan sentimen mereda. Menurut dia, fondasi perusahaan dan ekonomi Indonesia masih cukup kokoh. Karena itu, prospek jangka panjang tetap dinilai baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!