Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut akan mengelola ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan fero alloy. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094, setelah sempat tertekan lebih dari 2 persen saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato terkait tata kelola ekspor komoditas SDA.
Rosan menilai tekanan di pasar saham tidak hanya berasal dari kebijakan dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen global. Ia juga menyinggung rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang dinilai ikut menekan pergerakan saham. Menurutnya, investor perlu melihat kinerja perusahaan secara jangka panjang agar tidak terjebak pada gejolak sesaat.
Rosan Soroti Tekanan IHSG
Rosan mengatakan pelemahan IHSG harus dibaca secara statistik dan tidak hanya dari pergerakan harian. Ia menyebut ada tekanan yang datang dari pasar global, sehingga sentimen investor ikut melemah. Dalam pandangannya, kondisi itu wajar terjadi ketika pasar sedang menghadapi sejumlah penyesuaian.
Ia menyinggung jadwal rebalancing MSCI yang akan berlaku efektif pada 29 Mei 2026. Menurut Rosan, penyesuaian tersebut dapat membuat investor asing melakukan reaksi terhadap saham-saham tertentu. Dampaknya, sejumlah emiten berpotensi mengalami penekanan dalam jangka pendek.
Rosan menyampaikan bahwa hasil penyesuaian MSCI telah diumumkan dan mulai menjadi perhatian pelaku pasar. Dari penyesuaian itu, 18 saham Indonesia disebut dikeluarkan dari indeks MSCI. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi persepsi investor terhadap pasar saham domestik.
Dalam pernyataannya usai rapat di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Rosan menegaskan bahwa pasar sedang berada dalam fase penyesuaian. Ia melihat tekanan itu masih bersifat sementara dan dipengaruhi kombinasi faktor teknikal serta sentimen. Karena itu, pergerakan IHSG menurutnya belum bisa dijadikan ukuran tunggal atas kekuatan ekonomi nasional.
MSCI Jadi Sorotan Pasar
MSCI menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan investor dalam beberapa pekan terakhir. Rebalancing indeks kerap memicu perpindahan arus dana, terutama pada saham yang masuk atau keluar dari perhitungan indeks. Hal ini membuat harga saham tertentu mengalami tekanan sebelum dan sesudah pengumuman efektif.
Dalam konteks pasar Indonesia, efek MSCI biasanya langsung terasa pada saham berkapitalisasi besar. Investor asing cenderung menyesuaikan portofolio untuk mengikuti komposisi indeks terbaru. Akibatnya, volatilitas pasar dapat meningkat meski tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental emiten.
Rosan menilai tekanan yang muncul saat ini lebih banyak dipicu oleh persepsi pasar. Ia mengatakan, reaksi investor sering kali berlebihan ketika menghadapi perubahan indeks global. Padahal, menurutnya, arah jangka menengah dan panjang tetap bergantung pada kekuatan kinerja perusahaan.
Ia mengingatkan bahwa pasar saham memang sensitif terhadap kabar eksternal dan ekspektasi jangka pendek. Namun, tekanan sesaat tidak selalu berarti pelemahan fundamental. Karena itu, investor diminta lebih cermat membaca data dan prospek bisnis emiten.
Fundamental BUMN Tetap Kuat
Rosan menegaskan bahwa fundamental perusahaan pelat merah masih berada dalam kondisi yang baik. Ia menyebut BUMN, terutama bank-bank Himbara, tetap mencatat kinerja positif di tengah tekanan pasar. Menurutnya, hal itu menjadi sinyal bahwa kekuatan bisnis dasar masih terjaga.
Ia juga mencontohkan imbal hasil atau yield yang disebut berada di atas 10 hingga 11 persen. Angka tersebut, menurut Rosan, menunjukkan performa yang masih menarik bagi investor. Dengan kata lain, kinerja operasional BUMN dinilai belum terganggu oleh volatilitas pasar saham.
Rosan menyampaikan bahwa evaluasi terhadap saham sebaiknya dilakukan dengan horizon waktu yang lebih panjang. Ia menilai investor akan mendapat gambaran yang lebih adil bila menimbang laba, arus kas, dan prospek pertumbuhan. Pendekatan itu dianggap lebih relevan ketimbang hanya melihat penurunan harga harian.
Dalam pandangannya, tekanan yang terjadi saat ini masih bisa dikelola selama fundamental ekonomi tetap solid. Ia optimistis perusahaan-perusahaan pelat merah memiliki daya tahan yang baik. Karena itu, Rosan percaya pasar akan kembali menilai kinerja emiten secara lebih rasional.
Prospek Pasar Jangka Panjang
Rosan menyatakan optimisme bahwa pasar modal akan membaik dalam jangka menengah dan panjang. Ia menilai proses penyesuaian saat ini hanya fase sementara yang dipengaruhi persepsi dan sentimen. Setelah itu, pasar diyakini akan kembali mengikuti arah fundamental.
Menurutnya, ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mendukung pemulihan pasar. Kinerja perusahaan, khususnya BUMN, dinilai mampu menjadi penopang utama kepercayaan investor. Dalam situasi seperti ini, konsistensi kinerja menjadi faktor yang paling penting.
Ia juga menegaskan bahwa investor perlu disiplin menilai peluang berdasarkan data, bukan emosi pasar. Ketika tekanan sentimen mereda, saham dengan fundamental baik biasanya kembali mendapat perhatian. Oleh karena itu, Rosan melihat koreksi IHSG sebagai bagian dari dinamika yang umum terjadi.
Meski pasar saat ini tertekan, Rosan menilai prospek jangka panjang tetap positif. Ia berharap pelaku pasar tetap fokus pada kualitas aset dan prospek bisnis masing-masing perusahaan. Dengan demikian, gejolak harian tidak akan mengaburkan arah pemulihan yang lebih besar.
