Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut disebut akan mengelola ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga fero alloy. Pada perdagangan Kamis, IHSG ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094, setelah sempat tertekan lebih dalam pada sesi intraday. Rosan menilai pelemahan itu tidak hanya dipicu satu kebijakan, melainkan juga dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen pasar global.
Ia menyebut investor perlu membaca pergerakan pasar secara lebih utuh, terutama ketika ada penyesuaian indeks yang berdampak pada aliran dana asing. Menurutnya, pasar saham kerap bereaksi terhadap persepsi jangka pendek, meski kondisi fundamental emiten tetap solid. Rosan juga menyinggung rebalancing MSCI yang disebut ikut memberi tekanan pada beberapa saham Indonesia. Di tengah koreksi tersebut, ia tetap optimistis prospek pasar dan emiten pelat merah akan membaik dalam jangka menengah hingga panjang.
IHSG Tertekan Sentimen Pasar
IHSG mengalami tekanan setelah pasar merespons sejumlah dinamika yang berkembang dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu, indeks ditutup melemah 0,82 persen ke level 6.318,50. Tekanan kemudian berlanjut pada Kamis hingga indeks anjlok 233 poin atau 3,54 persen. Pelemahan itu terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan dan kondisi eksternal yang belum sepenuhnya stabil.
Rosan mengatakan pelemahan pasar tidak bisa dilihat hanya dari satu peristiwa. Ia menilai ada faktor teknikal yang ikut memengaruhi arah pergerakan IHSG. Selain itu, sentimen global turut memberi tekanan pada investor untuk mengambil posisi yang lebih hati-hati. Kondisi tersebut membuat pasar bereaksi cepat terhadap isu yang dianggap berpotensi memengaruhi arus modal.
Dalam keterangannya, Rosan menekankan bahwa pasar saham sangat dipengaruhi persepsi. Ketika persepsi negatif menguat, tekanan pada indeks bisa terjadi meski fundamental perusahaan belum berubah. Situasi itu menurutnya perlu dibaca dengan kepala dingin oleh pelaku pasar. Ia menyebut koreksi semacam ini lazim terjadi saat investor menunggu kepastian arah kebijakan dan kondisi global.
Meski begitu, Rosan menilai pelemahan yang terjadi belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Ia menganggap pasar tengah berada dalam fase penyesuaian sementara. Karena itu, ia meminta investor tidak terpaku pada pergerakan harian semata. Menurutnya, pendekatan jangka menengah dan panjang lebih relevan untuk menilai prospek pasar.
Rebalancing MSCI Menekan Saham
Salah satu faktor yang disebut Rosan adalah penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Rebalancing tersebut berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Dalam penyesuaian itu, sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi pergerakan investor global yang mengikuti komposisi indeks tersebut.
Rosan menjelaskan bahwa perubahan komposisi indeks biasanya memicu penyesuaian portofolio oleh investor luar negeri. Ketika suatu saham dikeluarkan dari indeks, sebagian dana dapat keluar dari pasar terkait. Tekanan itu kemudian bisa terbaca sebagai pelemahan pada harga saham maupun indeks utama. Ia menilai fenomena ini merupakan bagian dari mekanisme pasar yang wajar terjadi.
Menurut Rosan, investor perlu memahami bahwa efek rebalancing tidak selalu berlangsung lama. Pasar cenderung menyesuaikan diri setelah proses transisi indeks selesai. Namun, dalam jangka pendek, volatilitas bisa meningkat karena pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi. Karena itu, ia meminta investor tetap memperhatikan arah fundamental, bukan hanya reaksi sesaat.
Ia juga menegaskan bahwa tekanan yang datang dari MSCI bukan berarti pasar domestik kehilangan daya tarik. Indonesia masih memiliki basis ekonomi yang besar dan perusahaan-perusahaan unggulan yang kompetitif. Faktor teknikal bisa menekan harga dalam waktu singkat, tetapi belum tentu mengubah prospek bisnis emiten. Pandangan itu menjadi salah satu alasan Rosan tetap optimistis terhadap pasar ke depan.
Fundamental BUMN Masih Kuat
Rosan menilai fundamental perusahaan milik negara masih berada dalam kondisi yang baik. Ia mencontohkan bank-bank Himbara yang disebut masih mencatat performa positif. Menurutnya, imbal hasil yang dihasilkan juga relatif tinggi dan mencerminkan kinerja yang sehat. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa ia melihat tekanan pasar saat ini sebagai koreksi sementara.
Dalam pandangannya, investor sebaiknya menilai perusahaan berdasarkan kinerja berkelanjutan. Ia menyebut fundamental yang kuat akan lebih menentukan dalam jangka panjang dibanding sentimen sesaat. Karena itu, Rosan meminta pasar tidak terlalu terpaku pada penurunan harian IHSG. Ia menilai ketahanan emiten besar, terutama BUMN, masih menjadi penopang penting pasar modal.
Rosan juga menyinggung bahwa kinerja perusahaan pelat merah masih menunjukkan daya saing yang baik. Ia menilai bank-bank Himbara masih mampu mencetak pertumbuhan yang sehat. Dengan kondisi seperti itu, ia percaya valuasi perusahaan pada akhirnya akan kembali mencerminkan performa dasarnya. Pandangan tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah terhadap pasar ke depan.
Meski pasar sedang bergejolak, Rosan tidak melihat adanya perubahan besar pada kekuatan ekonomi riil. Ia menilai tekanan yang terjadi lebih banyak berkaitan dengan persepsi pelaku pasar. Selama fundamental tetap terjaga, ia percaya kepercayaan investor akan pulih secara bertahap. Menurutnya, momentum koreksi justru dapat menjadi pengingat agar pasar kembali fokus pada kualitas kinerja emiten.
Prospek IHSG Jangka Menengah
Rosan optimistis kondisi pasar akan membaik dalam jangka menengah dan panjang. Ia menilai koreksi yang terjadi saat ini masih bisa dipulihkan ketika sentimen membaik. Fundamental perusahaan yang kuat, menurutnya, akan menjadi penopang utama pemulihan tersebut. Karena itu, ia melihat pelemahan IHSG sebagai fase penyesuaian, bukan tanda pelemahan struktural.
Ia juga menekankan bahwa investor perlu melihat arah kebijakan secara lebih luas. Stabilitas ekonomi, kinerja perusahaan, dan daya saing sektor strategis tetap menjadi faktor penting. Dalam kerangka itu, pasar diyakini akan kembali menilai aset Indonesia secara lebih rasional. Rosan percaya bahwa pada akhirnya valuasi saham akan mengikuti kekuatan fundamental.
Selain itu, keberadaan Danantara Sumberdaya Indonesia diharapkan dapat mendukung pengelolaan aset strategis secara lebih efektif. Badan tersebut memegang peran dalam komoditas penting seperti sawit, batu bara, dan fero alloy. Dalam jangka panjang, pengelolaan yang lebih terstruktur diharapkan memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional. Dampak positif itu juga berpotensi tercermin pada sentimen pasar.
Dengan demikian, Rosan menilai tekanan pada IHSG saat ini perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Pasar sedang menghadapi gabungan faktor teknikal, rebalancing indeks, dan persepsi pelaku investasi. Namun, ia percaya fundamental ekonomi dan perusahaan pelat merah tetap solid. Jika sentimen membaik, IHSG dinilai memiliki ruang untuk pulih secara bertahap.
