Ria Ricis mengungkap alasan utama dirinya menjalani operasi plastik pada hidung, atau rhinoplasty, bukan semata demi penampilan. Ia mengatakan keputusan itu diambil untuk mengatasi gangguan pernapasan yang sudah lama dialaminya. Pengakuan tersebut disampaikan saat ditemui di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, pada Rabu kemarin. Menurutnya, kondisi kesehatan itu telah mengganggu aktivitas sehari-hari selama bertahun-tahun.
Sebelum memutuskan operasi, Ricis sempat menjalani pemeriksaan di RSCM. Hasil pemeriksaan menunjukkan tulang hidungnya bengkok ke kiri, sehingga memengaruhi fungsi pernapasan. Kondisi itu membuatnya kerap mengandalkan obat dengan dosis yang tidak semestinya. Setelah menjalani rhinoplasty, ia menilai napasnya kini jauh lebih lega dan bentuk hidungnya tampak lebih proporsional.
Alasan Medis Rhinoplasty
Ria Ricis menjelaskan bahwa keputusan operasi hidung berangkat dari masalah kesehatan, bukan tren kecantikan. Ia mengaku sudah lama merasa kesulitan bernapas, terutama ketika kondisi hidungnya kambuh. Gangguan itu kemudian mendorongnya mencari penanganan medis yang lebih permanen. Dari pemeriksaan yang dilakukan, dokter menemukan adanya kelainan pada struktur tulang hidung.
Ricis menyebut hasil pemeriksaan di RSCM menunjukkan tulang hidungnya bengkok. Posisi bengkok itu disebut mengarah ke sisi kiri dan berdampak pada aliran udara saat bernapas. Menurut penuturannya, temuan tersebut menjadi dasar kuat untuk mengambil tindakan operasi. Ia pun menilai langkah itu lebih tepat dibanding terus bergantung pada obat.
Ia menegaskan bahwa keputusan menjalani rhinoplasty bukan dilakukan secara spontan. Prosesnya berawal dari keluhan yang sudah muncul dalam waktu lama. Setelah berbagai pertimbangan, Ricis memilih mengikuti saran medis demi memperbaiki fungsi pernapasan. Baginya, kesehatan menjadi alasan utama yang tidak bisa diabaikan.
Pengakuan itu sekaligus meluruskan anggapan bahwa operasi hidung hanya bertujuan mempercantik wajah. Ricis menekankan bahwa ada masalah fisik yang benar-benar mengganggu dirinya. Karena itu, tindakan bedah yang dijalani memiliki dasar medis yang jelas. Ia berharap penjelasannya dapat memberi pemahaman yang lebih utuh kepada publik.
Kebiasaan Obat Jangka Panjang
Ricis mengungkap bahwa sebelum operasi, ia kerap mengonsumsi obat yang tergolong keras. Obat tersebut bahkan diminumnya dalam frekuensi yang tidak sesuai anjuran. Dalam keterangannya, ia mengaku bisa meminum obat itu empat sampai lima kali dalam sehari. Kebiasaan itu berlangsung cukup lama karena ia ingin tetap bisa bernapas dengan lebih nyaman.
Ia menjelaskan bahwa obat yang dimaksud seharusnya hanya diminum satu kali sehari. Jarak pemakaiannya pun disebut harus diberi jeda sekitar lima hari. Namun, karena kondisi yang dirasakannya cukup mengganggu, ia tidak menggunakannya sesuai aturan. Kebiasaan tersebut akhirnya berlangsung selama sekitar lima tahun.
Ricis menilai penggunaan obat dalam jangka panjang bukanlah solusi yang ideal. Meski sempat membantu meredakan keluhan, efeknya tidak menyelesaikan persoalan utama pada hidungnya. Ia pun menyadari bahwa ketergantungan pada obat bukan pilihan yang sehat untuk diteruskan. Kondisi itu membuatnya semakin mantap mencari jalan keluar lewat operasi.
Dalam penjelasannya, Ricis juga menyebut nama obat Iliadin. Ia mengatakan obat tersebut termasuk obat keras dan kini sudah sulit ditemukan di pasaran. Penggunaan obat itu menjadi bagian dari upayanya mengatasi gangguan napas sebelum menjalani tindakan medis. Pengalaman tersebut menjadi alasan mengapa ia akhirnya memilih rhinoplasty.
Perubahan Setelah Operasi
Setelah menjalani rhinoplasty, Ricis mengaku kondisi pernapasannya membaik. Ia mengatakan kini dapat bernapas dengan lebih leluasa dibanding sebelumnya. Perubahan itu menjadi manfaat terbesar yang ia rasakan usai operasi. Bagi Ricis, hasil tersebut jauh lebih penting daripada sekadar perubahan pada tampilan fisik.
Selain memperbaiki fungsi pernapasan, operasi itu juga membuat bentuk hidungnya terlihat lebih seimbang. Ricis menilai hasil akhirnya membuat proporsi wajahnya tampak lebih serasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama tetap berkaitan dengan kesehatan. Perubahan estetika hanya menjadi dampak tambahan yang ikut dirasakannya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa operasi plastik tidak selalu berkaitan dengan tujuan kosmetik semata. Dalam kasus Ricis, tindakan itu dilakukan untuk menjawab persoalan medis yang telah berlangsung lama. Ia memilih prosedur tersebut setelah mempertimbangkan dampak obat dan keluhan yang terus berulang. Keputusan itu akhirnya memberi hasil yang dinilai lebih baik untuk kualitas hidupnya.
Ricis berharap kondisinya tetap stabil setelah menjalani tindakan tersebut. Ia juga ingin masyarakat memahami bahwa operasi hidung dapat memiliki alasan medis yang kuat. Menurutnya, setiap tindakan kesehatan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Karena itu, ia menilai keputusan yang diambilnya sudah berada di jalur yang tepat.
Pesan soal Kesehatan
Pengalaman Ria Ricis dapat menjadi pengingat bahwa keluhan pernapasan sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan medis perlu dilakukan ketika gangguan sudah berlangsung lama dan memengaruhi aktivitas harian. Penanganan yang tepat akan membantu menentukan langkah terbaik bagi pasien. Dalam kasus tertentu, tindakan operasi bisa menjadi pilihan yang lebih aman dan efektif.
Pemakaian obat keras juga tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan dokter. Dosis dan frekuensi penggunaan harus mengikuti aturan agar tidak menimbulkan risiko tambahan. Ricis sendiri mengaku sempat melanggar anjuran pemakaian karena kondisi yang dirasakannya. Pengalaman itu menunjukkan pentingnya kepatuhan pada petunjuk medis.
Kasus yang dialami Ricis memperlihatkan bahwa masalah hidung tidak hanya berdampak pada penampilan. Struktur tulang yang bengkok dapat memicu gangguan napas dan menurunkan kenyamanan hidup. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh sangat diperlukan sebelum menentukan terapi. Langkah tersebut membantu memastikan penanganan sesuai dengan penyebab utamanya.
Dengan terbukanya Ricis soal alasan operasi hidung, publik mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai rhinoplasty. Tindakan itu bukan selalu untuk mempercantik diri, tetapi juga dapat dilakukan demi kesehatan. Penjelasannya menjadi contoh bahwa keputusan medis sering kali lahir dari kebutuhan yang mendesak. Pada akhirnya, fungsi tubuh yang membaik tetap menjadi tujuan paling penting.
