Raline Shah mencuri perhatian di karpet merah Cannes Film Festival 2026 di Cannes, Prancis, lewat gaun rancangan khusus Sapto Djojokartiko. Penampilan itu kembali menegaskan hubungan panjang Raline dengan karya sang desainer di ajang film internasional bergengsi tersebut.
Untuk premiere The Beloved, Raline tampil dalam gaun bergaya ballgown bernuansa Oyster yang memadukan kesan klasik dan modern. Busana itu dirancang dengan detail bordir motif khas serta pengerjaan yang memerlukan waktu sekitar 800 jam.
Inspirasi Gaun Raline Shah
Sapto Djojokartiko menjelaskan bahwa inspirasi utama gaun ini berangkat dari keinginan menghadirkan siluet klasik yang tetap relevan. Ia ingin menjaga nuansa glamor yang abadi, namun tetap memberi sentuhan personal melalui detail warisan Indonesia yang halus.
Karena itu, seluruh permukaan gaun dihiasi bordir motif Yayi Ukir yang menjadi bagian dari identitas visual rumah mode tersebut. Sentuhan ini membuat busana Raline tidak hanya tampil mewah, tetapi juga menonjolkan craftsmanship yang kuat.
Dalam tampilan itu, Raline diposisikan sebagai sosok yang membawa kesan old Hollywood glam. Pilihan ini sekaligus mempertegas karakter elegan yang kerap menjadi ciri penampilan sang aktris di panggung internasional.
Kehadiran elemen heritage Indonesia juga menjadi penanda penting dalam rancangan tersebut. Sapto menyebut, detail itu sengaja dibuat subtil agar tidak mengganggu kesan anggun dari keseluruhan busana.
Motif Dan Detail Bordir
Motif Yayi Ukir terinspirasi dari perpaduan elemen ukiran dan tekstur tenun tradisional. Sapto kemudian mereinterpretasikannya bersama motif Penara yang menjadi ciri khas rancangan rumah mode itu.
Di dalam struktur motif tenun tersebut, elemen Penara diolah kembali agar menghasilkan tampilan yang lebih kaya detail. Hasilnya adalah pola yang terasa halus, elegan, dan tetap berakar pada tradisi.
Sapto mengaku senang melihat motif itu berpadu dengan perhiasan Chopard yang dikenakan Raline. Menurut dia, nuansa art-deco dari perhiasan tersebut membuat keseluruhan tampilan terlihat lebih berlapis dan harmonis.
Kombinasi antara bordir, tekstur, dan aksesori menciptakan kesan visual yang seimbang. Pada saat bersamaan, detail tersebut memberi ruang bagi gaun untuk tetap menjadi pusat perhatian di bawah sorot lampu karpet merah.
Proses Pengerjaan Yang Rumit
Gaun yang dikenakan Raline pada Cannes Film Festival 2026 dikerjakan selama kurang lebih 800 jam. Waktu tersebut menunjukkan betapa rumitnya proses yang dilalui, mulai dari konstruksi hingga penyelesaian akhir.
Setiap detail dibuat dengan perhatian tinggi agar siluet gaun terlihat effortless saat dikenakan. Proses ini juga memastikan busana tetap nyaman sekaligus tampil presisi di depan kamera.
Jika dibandingkan dengan penampilan Raline di Cannes 2024, proses pengerjaan kali ini memang lebih singkat. Namun, kualitas pengerjaan tetap dijaga dengan standar yang sama ketatnya.
Fokus utama tim desain adalah menjaga keseimbangan antara estetika dan fungsi. Dengan demikian, gaun tetap tampil mewah tanpa kehilangan kesan ringan saat dikenakan di atas karpet merah.
Warna Oyster Jadi Andalan
Warna Oyster kembali dipilih karena telah lama menjadi palet andalan Sapto Djojokartiko. Warna ini dinilai memiliki karakter timeless, understated, dan elegan.
Raline juga disebut secara personal menginginkan warna tersebut untuk penampilannya di Cannes kali ini. Baginya, Oyster merepresentasikan sisi klasik dan anggun yang selaras dengan karakter dirinya.
Sapto menilai warna ini mampu tampil menonjol tanpa terlihat berlebihan. Di saat yang sama, Oyster memberi panggung bagi bordir, tekstur, dan bentuk gaun untuk terlihat lebih hidup.
Di bawah pencahayaan red carpet, warna itu membantu menegaskan detail desain secara maksimal. Hasil akhirnya adalah tampilan yang tenang, mewah, dan tetap mudah dikenali sebagai karya Sapto Djojokartiko.
