Purbaya Yakin Rupiah Menguat dari Level Rp17.706

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 23:49 WIB 5
Purbaya Yakin Rupiah Menguat dari Level Rp17.706

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan kembali menguat setelah sempat ditutup di level Rp 17.706 pada perdagangan Selasa, 19 Mei. Optimisme itu disampaikan seiring upaya pemerintah menjaga stabilitas pasar keuangan melalui pembelian obligasi di pasar sekunder.

Purbaya menilai langkah tersebut mulai membuahkan hasil karena sentimen terhadap pasar obligasi menunjukkan perbaikan dan dana asing mulai kembali masuk. Ia juga menegaskan asumsi rupiah dalam APBN 2026 tidak akan diubah, begitu pula asumsi harga minyak dunia di level US$ 100 per barel.

Rupiah dan pasar obligasi

Purbaya menyebut rupiah tidak akan bertahan lama di level saat ini, karena perbaikan sentimen mulai terlihat di pasar obligasi. Menurutnya, aliran dana ke instrumen keuangan domestik menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor perlahan pulih. Ia menilai kondisi tersebut akan mendorong penguatan rupiah dalam waktu mendatang. Pemerintah, kata dia, terus menjaga stabilitas pasar agar tekanan terhadap kurs mereda.

Ia menjelaskan, Kementerian Keuangan aktif membeli obligasi di pasar sekunder untuk membantu menstabilkan pasar. Strategi itu dinilai efektif karena dapat menarik kembali minat investor asing. Purbaya menyampaikan bahwa respons pasar mulai terlihat dari turunnya imbal hasil atau yield obligasi. Kondisi ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa pasar mulai menerima arah kebijakan pemerintah.

Dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Purbaya menyebut dana asing telah masuk sekitar Rp 1,3 triliun. Ia menambahkan, pada hari yang sama pasar sekunder mencatat arus masuk sekitar Rp 500 miliar, sementara pasar primer mencapai Rp 1,68 triliun. Menurut dia, total arus dana tersebut menunjukkan perbaikan kepercayaan terhadap obligasi pemerintah. Ia menilai dolar akan ikut kembali masuk apabila tren positif ini berlanjut.

Purbaya menegaskan, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada intervensi, tetapi juga pada kepercayaan investor. Ia melihat stabilitas bond market sebagai faktor penting yang mendukung arus modal asing. Ketika investor merasa aman, mereka cenderung kembali menempatkan dananya di pasar domestik. Dalam pandangannya, kondisi itu akan memperkuat mata uang rupiah secara bertahap.

Asumsi APBN tetap terjaga

Di tengah tekanan nilai tukar, Purbaya memastikan pemerintah tidak akan mengubah asumsi rupiah dalam APBN 2026. Ia juga menegaskan asumsi harga minyak dunia tetap berada di level US$ 100 per barel. Keputusan itu diambil karena pemerintah menilai perhitungan fiskal masih sesuai dengan kondisi yang telah disimulasikan sebelumnya. Dengan demikian, tidak ada revisi besar yang diperlukan saat ini.

Menurut Purbaya, pemerintah sudah melakukan penghematan yang dinilai cukup untuk menghadapi kondisi ekonomi saat ini. Ia menambahkan, simulasi APBN juga telah mempertimbangkan pergeseran nilai rupiah sebelumnya. Karena itu, penyesuaian asumsi dianggap belum mendesak untuk dilakukan. Kebijakan fiskal, ujarnya, akan dijaga tetap hati-hati agar ruang stabilisasi tetap tersedia.

Purbaya mengatakan, keputusan mempertahankan asumsi bukan berarti pemerintah mengabaikan dinamika pasar. Sebaliknya, langkah tersebut mencerminkan keyakinan bahwa kondisi masih dapat dikelola dengan instrumen yang ada. Pemerintah, kata dia, akan terus memantau pergerakan rupiah dan harga energi global. Jika terjadi perubahan besar, evaluasi akan dilakukan sesuai kebutuhan.

Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi dalam penyusunan anggaran agar pelaksanaan kebijakan lebih terarah. Dengan asumsi yang tidak berubah, kementerian dan lembaga dapat menjalankan program sesuai rencana. Purbaya menilai stabilitas asumsi memberi kepastian bagi pengelolaan fiskal negara. Hal ini sekaligus menjaga kredibilitas APBN di mata pelaku pasar.

Arus dana asing meningkat

Masuknya investor asing ke pasar obligasi menjadi salah satu sinyal yang disorot Purbaya. Ia mengatakan arus dana tersebut menunjukkan pasar mulai kembali percaya pada aset keuangan Indonesia. Ketika investor asing masuk, likuiditas pasar ikut membaik. Pada saat yang sama, tekanan pada rupiah cenderung berkurang.

Purbaya menjelaskan, pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder membantu menekan volatilitas. Langkah itu dinilai memberi ruang bagi pasar untuk menemukan keseimbangan baru. Ia menyebut yield obligasi yang turun menjadi bukti bahwa permintaan mulai pulih. Kondisi tersebut dianggap sebagai perkembangan positif bagi pembiayaan negara.

Menurut Purbaya, aliran modal asing yang stabil akan memperkuat posisi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Investor biasanya mencari pasar yang dinilai aman dan memiliki prospek jelas. Jika kondisi domestik terjaga, minat terhadap obligasi negara dapat meningkat lebih jauh. Dampaknya, rupiah berpotensi mendapat dukungan tambahan dari masuknya dolar ke dalam negeri.

Ia menambahkan, pemerintah tidak hanya mengandalkan sentimen jangka pendek, tetapi juga pembenahan struktur pasar. Stabilitas pasar obligasi dipandang penting untuk menjaga pembiayaan pembangunan tetap efisien. Purbaya menilai hasil awal dari kebijakan ini cukup menjanjikan. Karena itu, ia optimistis tren masuknya dana asing dapat berlanjut.

Prospek rupiah ke depan

Purbaya meyakini rupiah akan bergerak menguat seiring pulihnya sentimen pasar dan bertambahnya arus dana asing. Ia menilai tekanan yang terjadi saat ini tidak akan berlangsung terlalu lama. Pemerintah, kata dia, telah mengambil langkah yang tepat untuk meredam gejolak. Dengan demikian, pasar diharapkan kembali stabil secara bertahap.

Ia juga mengingatkan bahwa penguatan rupiah sangat dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap kebijakan pemerintah. Ketika pasar melihat respons yang cepat dan terukur, kepercayaan biasanya ikut meningkat. Itulah sebabnya stabilitas bond market menjadi prioritas penting dalam menjaga arus modal. Purbaya menilai kepercayaan tersebut sedang dibangun kembali melalui kebijakan yang konsisten.

Di sisi lain, pemerintah tetap memantau perkembangan harga minyak dan dinamika ekonomi global. Faktor eksternal masih dapat memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Meski begitu, Purbaya menilai fondasi domestik cukup kuat untuk menopang kestabilan. Ia percaya kombinasi kebijakan fiskal dan pengelolaan pasar akan memberi hasil yang lebih baik.

Dengan arus masuk investor asing yang mulai terlihat, Purbaya optimistis dolar akan kembali mengalir ke pasar domestik. Ia menilai kondisi tersebut akan membantu memperkuat rupiah dan meredakan tekanan pada pasar keuangan. Pemerintah, ujarnya, akan terus menjaga stabilitas agar kepercayaan investor tidak hilang. Dalam pandangannya, penguatan rupiah tinggal menunggu waktu.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!