Purbaya Targetkan Rupiah Menguat ke Rp15.000 per Dolar AS

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 12:12 WIB 2
Purbaya Targetkan Rupiah Menguat ke Rp15.000 per Dolar AS

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menguat ke level Rp15.000. Saat ini, rupiah masih bergerak di atas Rp17.600 per dolar AS. Pemerintah akan menyiapkan langkah baru mulai pekan depan untuk mendorong penguatan mata uang Garuda. Kebijakan tersebut juga diarahkan agar devisa hasil ekspor tetap berputar di dalam negeri.

Purbaya menyampaikan sinyal kebijakan itu seusai menghadiri agenda di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Jumat, 22 Mei 2026. Ia menilai penguatan rupiah perlu ditopang oleh aliran devisa yang lebih tertahan di Indonesia. Pemerintah juga tengah menyiapkan aturan penempatan devisa hasil ekspor yang berlaku mulai Juni 2026. Salah satu poin utamanya adalah kewajiban menyimpan dana ekspor di Himpunan Bank Milik Negara.

Rupiah dan arah kebijakan

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan baru untuk mendukung nilai tukar rupiah. Meski belum mengungkap detail kebijakan yang disiapkan, ia memastikan langkah tersebut akan segera berjalan. Menurut dia, penguatan mata uang nasional tidak bisa dilepaskan dari arus devisa ekspor yang lebih tertata. Karena itu, pemerintah ingin memastikan hasil ekspor tidak cepat keluar dari sistem keuangan domestik.

Ia menyebut ekspor batu bara dan crude palm oil, atau CPO, sebagai contoh sumber devisa yang perlu dijaga di dalam negeri. Dengan demikian, dana hasil ekspor bisa memperkuat likuiditas valas nasional. Purbaya menilai aliran dana yang tertahan di dalam negeri akan membantu menopang stabilitas pasar. Dalam jangka menengah, kondisi itu diharapkan memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih kuat.

Target penguatan ke Rp15.000 per dolar AS menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin melihat perbaikan yang lebih nyata pada kurs. Namun, pencapaian target tersebut akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan yang diterapkan. Pasar biasanya merespons positif apabila ada kepastian arah kebijakan dan konsistensi pelaksanaan. Oleh karena itu, detail langkah yang disiapkan pemerintah akan menjadi perhatian pelaku pasar.

Selain itu, penguatan rupiah juga berhubungan erat dengan persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Jika sumber devisa ekspor bertahan di dalam negeri, cadangan likuiditas valas akan lebih terjaga. Kondisi ini dapat membantu menahan tekanan dari volatilitas global. Pemerintah pun menempatkan isu rupiah sebagai bagian penting dari strategi menjaga kepercayaan pasar.

Aturan baru devisa ekspor

Pemerintah akan memberlakukan aturan baru penempatan devisa hasil ekspor mulai Juni 2026. Aturan tersebut menjadi instrumen penting untuk memperkuat cadangan valas domestik. Salah satu kebijakan yang disiapkan adalah kewajiban menempatkan dana ekspor di bank-bank milik negara. Langkah ini diharapkan membuat aliran devisa lebih mudah dipantau dan lebih produktif bagi perekonomian nasional.

Purbaya menilai kebijakan DHE yang baru akan memperkuat fondasi stabilitas keuangan. Ia mengingatkan bahwa devisa ekspor tidak seharusnya langsung mengalir keluar negeri setelah diterima eksportir. Dengan penempatan di Himbara, dana tersebut berpeluang lebih besar mendukung pembiayaan di dalam negeri. Pemerintah juga berharap mekanisme ini dapat menambah daya tahan terhadap tekanan eksternal.

Menurut dia, skema baru itu akan membuat hasil ekspor tetap berada di sistem keuangan Indonesia lebih lama. Dengan begitu, likuiditas valas dapat dikelola secara lebih efektif untuk kebutuhan ekonomi nasional. Purbaya menegaskan bahwa kebijakan ini bukan hanya soal administrasi, tetapi juga soal stabilitas makroekonomi. Karena itu, penerapannya akan menjadi salah satu fokus utama kementerian.

Kebijakan penempatan DHE juga dipandang penting bagi sektor-sektor ekspor utama, termasuk batu bara dan CPO. Keduanya merupakan penyumbang devisa yang besar bagi perekonomian Indonesia. Jika dana hasil ekspor tertahan di dalam negeri, efek pengganda terhadap perbankan dan pasar keuangan akan lebih terasa. Pemerintah berharap kondisi tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan suplai dan permintaan valas.

Intervensi obligasi dijaga

Di sisi lain, Kementerian Keuangan sebelumnya telah mendorong stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar obligasi. Langkah itu ditempuh untuk menjaga agar imbal hasil obligasi tidak naik terlalu tinggi. Ketika yield melonjak, risiko keluarnya modal asing biasanya ikut meningkat. Karena itu, stabilitas pasar surat utang menjadi bagian penting dari upaya menahan tekanan terhadap rupiah.

Purbaya menjelaskan bahwa kondisi obligasi yang lebih stabil membuat investor asing tetap nyaman masuk ke pasar domestik. Ia menilai penurunan yield menjadi sinyal positif bagi arus modal. Selama harga obligasi terjaga, kepercayaan investor terhadap aset rupiah cenderung meningkat. Situasi ini membantu memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global.

Menurut dia, pemerintah akan terus menjaga pasar obligasi agar tidak mengalami gejolak yang berlebihan. Stabilitas yield dinilai berhubungan langsung dengan persepsi risiko di mata investor asing. Bila risiko menurun, peluang masuknya dana asing ke Indonesia akan tetap terbuka. Hal ini menjadi pelengkap bagi kebijakan penguatan DHE yang sedang disiapkan.

Pemerintah memandang kombinasi stabilitas obligasi, penguatan DHE, dan langkah baru terhadap rupiah sebagai satu rangkaian kebijakan. Tiga instrumen tersebut saling mendukung dalam menjaga nilai tukar dan kepercayaan pasar. Purbaya menegaskan bahwa arah kebijakan ke depan akan tetap diarahkan untuk menjaga kestabilan ekonomi. Dengan strategi itu, pemerintah berharap rupiah bisa kembali bergerak ke level yang lebih kuat.

Prospek pasar ke depan

Pelaku pasar kini menanti rincian langkah baru yang akan diumumkan pemerintah pada pekan depan. Detail kebijakan akan menjadi penentu sejauh mana target penguatan rupiah dapat tercapai. Pasar juga akan mencermati implementasi aturan DHE yang mulai berlaku pada Juni 2026. Jika pelaksanaan berjalan konsisten, respons positif dari investor berpeluang menguat.

Dari sisi fundamental, perekonomian Indonesia masih memiliki penopang dari sektor ekspor dan pasar obligasi. Namun, tekanan eksternal seperti pergerakan dolar AS dan sentimen global tetap perlu diwaspadai. Pemerintah dituntut menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan daya tarik investasi. Dalam situasi seperti ini, kepastian kebijakan menjadi faktor yang sangat penting.

Rupiah yang lebih kuat akan membantu menekan biaya impor dan memberi ruang yang lebih baik bagi dunia usaha. Di saat yang sama, stabilitas pasar obligasi dapat menjaga aliran modal asing tetap masuk. Kombinasi keduanya bisa memperkuat kepercayaan terhadap ekonomi nasional. Oleh karena itu, kebijakan yang sedang disiapkan akan terus dipantau oleh pelaku pasar.

Purbaya menutup pernyataannya dengan penekanan bahwa pemerintah akan menjaga stabilitas harga aset keuangan. Ia menilai pasar yang tenang akan membuat investor asing tidak ragu menempatkan dananya di Indonesia. Harapan itu menjadi dasar dari strategi fiskal dan moneter yang saling mendukung. Jika seluruh kebijakan berjalan sesuai rencana, penguatan rupiah berpeluang menjadi salah satu hasil yang paling dinanti.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!