Jungkook BTS Ungkap Diet OMAD, Ini Penjelasannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 13:28 WIB 2
Jungkook BTS Ungkap Diet OMAD, Ini Penjelasannya

Jungkook BTS kembali menjadi sorotan setelah mengaku menjalani diet dengan pola makan satu kali sehari atau One Meal A Day (OMAD). Pengakuan itu disampaikan dalam wawancara dengan Rolling Stone UK, saat ia menjelaskan rutinitas makan dan olahraga yang dijalaninya. Pola makan tersebut membuat banyak penggemar penasaran, karena dinilai cukup ekstrem untuk ukuran aktivitas harian seorang idola K-pop. OMAD pun kembali ramai dibahas sebagai salah satu metode puasa intermiten yang diklaim dapat membantu menurunkan berat badan.

Jungkook mengatakan bahwa ia sedang diet dan hanya makan satu kali dalam sehari. Ia juga menyebut rutin berolahraga pada pagi dan sore hari, sehingga pola hidupnya tampak sangat terjaga. Menurutnya, momen makan sekali itu menjadi bagian yang paling dinantikan dalam sehari. Dari pengakuan tersebut, publik kemudian menyoroti bagaimana diet OMAD bekerja, apa manfaatnya, dan apa saja risikonya bagi tubuh.

Diet OMAD Jungkook

Diet OMAD adalah pola makan yang membatasi asupan kalori hanya pada satu kali makan dalam sehari. Dalam praktiknya, seseorang berpuasa selama sebagian besar waktu dan hanya memiliki jendela makan yang singkat. Pola ini berbeda dengan diet biasa yang umumnya membagi konsumsi makanan ke dalam beberapa waktu makan. Karena itu, OMAD kerap dianggap sebagai bentuk puasa intermiten yang cukup ketat.

Dalam wawancara tersebut, Jungkook menyebut dirinya sedang menjalani diet dan menunggu satu kali waktu makan yang diperbolehkan. Ia juga menambahkan bahwa rutinitas olahraganya dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Kombinasi diet dan latihan fisik itu menunjukkan disiplin yang tinggi dalam menjaga kondisi tubuh. Namun, pola serupa tidak selalu cocok untuk semua orang karena kebutuhan energi setiap individu berbeda.

Pada dasarnya, OMAD tidak hanya soal membatasi waktu makan, tetapi juga mengendalikan total kalori yang masuk ke tubuh. Sebagian orang memilih makan malam sebagai satu-satunya waktu makan, sementara yang lain memilih sarapan atau makan siang. Ada pula versi OMAD yang masih memperbolehkan camilan dalam jumlah terbatas. Meski demikian, prinsip utamanya tetap sama, yaitu makan sekali dalam sehari.

Popularitas OMAD meningkat karena banyak figur publik yang dianggap berhasil menjalaninya, termasuk Jungkook. Hal ini membuat diet tersebut sering dipandang sebagai cara cepat untuk mengatur berat badan. Padahal, hasilnya sangat bergantung pada kondisi tubuh, jenis makanan, dan pola aktivitas harian. Tanpa pengawasan yang tepat, diet ini bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Cara Kerja Diet OMAD

Diet OMAD bekerja dengan menciptakan defisit kalori karena asupan makanan dibatasi dalam waktu yang sangat singkat. Saat tubuh menerima kalori lebih sedikit daripada kebutuhan harian, berat badan cenderung turun. Mekanisme ini membuat OMAD sering dikaitkan dengan penurunan lemak tubuh. Namun, penurunan berat badan tidak selalu berarti tubuh menjadi lebih sehat secara menyeluruh.

Selama masa puasa, tubuh akan menggunakan cadangan energi yang tersimpan untuk menjalankan fungsi dasar. Dalam kondisi tertentu, cadangan tersebut berasal dari glikogen dan lemak tubuh. Proses ini yang membuat sebagian orang merasakan perubahan berat badan setelah menjalani OMAD. Meski begitu, respons tubuh terhadap puasa dapat berbeda-beda pada setiap orang.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembatasan waktu makan dapat membantu mengurangi asupan energi harian. Sebuah studi pada orang dewasa sehat, misalnya, menemukan bahwa pembatasan makan dalam jendela waktu tertentu dapat menurunkan lemak tubuh lebih besar dibanding pola makan tiga kali sehari. Akan tetapi, hasil penelitian tidak otomatis berlaku untuk semua individu. Faktor aktivitas fisik, komposisi makanan, dan kondisi metabolik tetap memegang peranan penting.

OMAD juga kerap dikaitkan dengan puasa intermiten yang lebih luas. Dalam praktik puasa intermiten, tubuh diberi jeda panjang tanpa asupan kalori sebelum kembali makan. Pendekatan ini dinilai membantu sebagian orang mengontrol pola makan dan kebiasaan ngemil. Namun, efektivitasnya tetap perlu disesuaikan dengan tujuan dan kondisi kesehatan masing-masing.

Manfaat Diet OMAD

Salah satu alasan diet OMAD diminati adalah potensi penurunan berat badan. Karena porsi makan dibatasi, banyak orang secara otomatis mengonsumsi kalori lebih sedikit daripada biasanya. Kondisi tersebut dapat membantu tubuh masuk ke fase defisit kalori. Dalam jangka tertentu, hasilnya bisa terlihat pada angka timbangan dan komposisi lemak tubuh.

Selain itu, sebagian orang merasa lebih mudah mengatur jadwal makan saat hanya memiliki satu waktu makan. Pola ini dapat mengurangi kebiasaan makan berlebihan atau ngemil tanpa sadar. Bagi mereka yang cocok dengan ritme puasa, OMAD juga bisa memberi rasa kendali terhadap asupan harian. Meski demikian, manfaat tersebut tetap bergantung pada disiplin dan kualitas makanan yang dikonsumsi saat makan.

Dalam konteks tertentu, puasa intermiten juga dianggap membantu meningkatkan kesadaran terhadap pola makan. Seseorang cenderung lebih selektif memilih makanan karena hanya memiliki satu kesempatan makan. Akibatnya, menu yang dipilih sering kali lebih terencana dibanding makan impulsif. Jika dilakukan dengan komposisi yang seimbang, pola ini dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dasar.

Akan tetapi, manfaat OMAD tidak seharusnya disamakan dengan hasil instan. Perubahan yang sehat biasanya berlangsung bertahap dan konsisten. Olahraga rutin, seperti yang disebut dilakukan Jungkook, dapat memperkuat hasil diet bila dijalankan dengan aman. Tanpa keseimbangan antara makan, istirahat, dan aktivitas fisik, manfaat yang diharapkan bisa berkurang.

Risiko Diet OMAD

Meski terlihat efektif, diet OMAD memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Membatasi makan hanya sekali sehari dapat membuat sebagian orang kekurangan energi untuk beraktivitas. Kondisi ini bisa memicu rasa lemas, pusing, atau sulit berkonsentrasi. Pada sebagian individu, risiko tersebut bahkan dapat mengganggu produktivitas harian.

OMAD juga berpotensi menyulitkan pemenuhan kebutuhan gizi seimbang. Dalam satu kali makan, seseorang harus memenuhi protein, karbohidrat, lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral sekaligus. Jika perencanaannya kurang baik, kebutuhan nutrisi bisa tidak tercapai. Dalam jangka panjang, hal itu dapat berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Selain itu, pola makan yang terlalu ketat dapat memicu hubungan yang tidak sehat dengan makanan. Sebagian orang bisa menjadi terlalu fokus pada jam makan dan merasa cemas ketika melewatkannya. Pada kondisi tertentu, diet seperti ini juga berisiko tidak cocok bagi penderita gangguan metabolik atau masalah kesehatan tertentu. Karena itu, konsultasi dengan tenaga medis sangat disarankan sebelum mencoba OMAD.

OMAD memang sedang populer, tetapi tidak berarti menjadi pilihan terbaik bagi semua orang. Setiap tubuh memiliki kebutuhan dan respons yang berbeda terhadap pembatasan makan. Jika ingin menurunkan berat badan, pendekatan yang lebih seimbang dan berkelanjutan umumnya lebih aman. Pengalaman Jungkook hanyalah salah satu contoh, bukan patokan yang harus diikuti tanpa pertimbangan medis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!