Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pembelian surat berharga negara atau SBN dilakukan bukan untuk menetapkan target nilai tukar rupiah. Langkah itu diambil sebagai upaya memberi ruang bernapas bagi rupiah di tengah dinamika pasar keuangan.
Purbaya menyampaikan, urusan menjaga kurs rupiah merupakan kewenangan Bank Indonesia, bukan Kementerian Keuangan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers APBN KITA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
SBN untuk rupiah
Purbaya mengatakan tidak ada target khusus terkait level rupiah terhadap dolar Amerika Serikat setelah pembelian SBN dilakukan. Menurut dia, kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengatur kurs secara langsung, melainkan membantu stabilitas pasar.
Ia menegaskan bahwa tugas menjaga nilai tukar berada pada bank sentral. Kementerian Keuangan, kata dia, hanya berupaya mendukung agar rupiah memiliki ruang pemulihan yang lebih baik.
Dalam penjelasannya, Purbaya menyebut langkah pembelian SBN merupakan bagian dari pengelolaan fiskal yang responsif. Kebijakan itu diharapkan bisa membantu meredam tekanan pasar dalam jangka pendek.
Stabilitas jadi pertimbangan
Purbaya memastikan SBN yang telah dibeli pemerintah tidak akan langsung dilepas kembali ketika rupiah menguat. Keputusan penjualan ulang, menurut dia, akan sangat bergantung pada kondisi pasar saat itu.
Ia menyebut tidak ada jadwal pasti kapan SBN tersebut akan dijual kembali. Pemerintah, kata dia, akan bersikap fleksibel agar langkah yang diambil tetap sesuai dengan perkembangan pasar obligasi.
Purbaya menambahkan, pendekatan itu dipilih agar kebijakan tidak menimbulkan gejolak baru. Dengan demikian, intervensi dapat tetap menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah.
Arus asing mulai masuk
Purbaya juga mengungkapkan bahwa investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi dengan nilai sekitar Rp 1,3 triliun. Menurut dia, kondisi itu menjadi sinyal positif bagi pasar surat utang domestik.
Ia menyebut imbal hasil atau yield obligasi pun mulai menurun seiring meningkatnya minat investor. Pada hari yang sama, pasar sekunder tercatat menerima aliran dana masuk Rp 500 miliar, sementara pasar primer menyerap Rp 1,68 triliun.
Masuknya dana asing dianggap membantu memperbaiki sentimen terhadap SBN. Purbaya menilai tren itu dapat memperkuat stabilitas pembiayaan negara bila berlanjut secara konsisten.
Fokus cegah outflow
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menjelaskan langkah tersebut dirancang untuk menjaga pasar obligasi dari aksi jual bersih investor. Ia menilai stabilitas pasar menjadi kunci agar arus dana tetap terjaga.
Suminto mengatakan stabilitas SBN penting untuk mempertahankan investor yang sudah ada. Jika pasar dinilai aman, kata dia, maka peluang masuknya dana baru atau inflow juga akan lebih besar.
Ia menegaskan kebijakan ini juga ditujukan untuk mencegah outflow yang bisa menekan pasar. Menurut dia, investor selalu memperhatikan sejauh mana pemerintah menjaga stabilitas, sehingga kebijakan yang konsisten akan memperkuat kepercayaan pasar.
