Purbaya Sebut IHSG Terkoreksi karena Pasar Masih Cemas

Forex & Saham Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 07:17 WIB 4
Purbaya Sebut IHSG Terkoreksi karena Pasar Masih Cemas

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi setelah pengumuman pembentukan Badan Usaha Milik Negara khusus ekspor, PT Danantara Sumberdaya Indonesia, pada Rabu, 20 Mei. Ia menilai pasar masih bereaksi karena belum memahami dampak kebijakan baru tersebut terhadap kinerja emiten dan aktivitas perdagangan.

Menurut Purbaya, ketidakpastian membuat pelaku pasar cenderung memilih menjual saham terlebih dahulu. Ia optimistis IHSG akan kembali menguat ketika investor melihat manfaat nyata dari kebijakan BUMN ekspor yang ditujukan untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam.

IHSG dan respons pasar

Purbaya mengatakan pelemahan IHSG merupakan respons wajar ketika pasar menghadapi kebijakan yang belum sepenuhnya dipahami. Dalam situasi seperti itu, investor biasanya memilih langkah aman dengan mengurangi posisi saham.

Ia menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis, 21 Mei 2026. Menurut dia, sentimen negatif muncul bukan karena kebijakan dianggap buruk, melainkan karena pasar masih menunggu penjelasan yang lebih utuh.

Ia menegaskan bahwa kekhawatiran sementara ini akan mereda setelah mekanisme kebijakan dipahami secara lebih luas. Ketika pelaku pasar melihat arah dan manfaatnya, tekanan terhadap indeks dinilai akan berangsur hilang.

Manfaat BUMN ekspor

Pemerintah membentuk badan baru itu untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Langkah ini juga ditujukan untuk menutup celah praktik kurang bayar pajak yang kerap muncul dalam rantai perdagangan.

Purbaya menjelaskan bahwa skema tersebut dapat membantu menekan praktik under invoicing. Dengan begitu, nilai penjualan yang selama ini berpotensi tidak terefleksi penuh bisa tercatat lebih akurat.

Ia menilai perbaikan itu pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan yang tercatat di bursa. Jika pendapatan dan pelaporan menjadi lebih transparan, valuasi emiten juga berpeluang meningkat.

Potensi valuasi emiten

Purbaya menilai perusahaan yang masuk bursa berpotensi memperoleh manfaat ganda dari kebijakan ini. Pertama, mereka dapat menikmati penjualan yang lebih transparan, dan kedua, citra kinerja keuangan mereka bisa menjadi lebih kuat di mata investor.

Ia menambahkan bahwa keuntungan tersebut tidak hanya dirasakan oleh negara, tetapi juga oleh pelaku usaha. Menurut dia, pelaporan yang lebih murni akan membuat performa perusahaan lebih mudah terbaca di pasar modal.

Dalam pandangannya, kondisi itu akan mendorong kenaikan valuasi emiten yang terlibat dalam ekspor komoditas. Pasar, kata dia, pada akhirnya akan menyesuaikan harga saham dengan prospek keuntungan yang lebih jelas.

Kebijakan satu pintu ekspor

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa seluruh ekspor sumber daya alam akan dikelola melalui satu pintu. Pemerintah menunjuk BUMN tertentu sebagai pengekspor tunggal untuk komoditas strategis.

Komoditas yang masuk dalam kebijakan itu mencakup kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi ferro alloy. Prabowo menyebut langkah tersebut diperlukan agar penjualan hasil sumber daya alam lebih terkoordinasi dan berada dalam pengawasan negara.

Dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu, 20 Mei, Prabowo menegaskan bahwa penjualan hasil sumber daya alam harus dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah. Kebijakan itu menjadi dasar lahirnya ekspektasi baru di pasar, meski pada awalnya memunculkan reaksi hati-hati dari investor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!