Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diperkirakan dapat kembali menguat ke level 8.000-an pada awal 2026, menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pernyataan itu disampaikan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat, 22 Mei 2026, dengan alasan fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat.
Purbaya menilai pergerakan harga saham pada akhirnya bergantung pada fundamental perusahaan, yang sangat dipengaruhi kondisi perekonomian nasional. Ia juga menyebut, jika laba perusahaan membaik, maka harga saham berpeluang pulih dan kembali menarik bagi pelaku pasar.
IHSG dan fundamental ekonomi
Purbaya menegaskan bahwa penguatan IHSG tidak lepas dari kondisi ekonomi yang sehat. Menurut dia, jika ekonomi tumbuh baik, profitabilitas perusahaan juga akan meningkat. Situasi itu pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga saham secara bertahap.
Ia menilai, pasar saham selalu bergerak mengikuti kinerja emiten dan arah ekonomi secara umum. Karena itu, penguatan fundamental menjadi kunci agar IHSG dapat kembali ke level yang lebih tinggi. Pemerintah, kata dia, akan terus menjaga arah kebijakan ekonomi agar tetap mendukung pertumbuhan.
Dalam pandangannya, pasar tidak perlu panik menghadapi pelemahan harga saham yang terjadi saat ini. Ia menyebut kondisi tersebut bisa menjadi peluang bagi investor yang jeli melihat nilai fundamental. Jika perusahaan tetap mencetak laba, maka saham yang turun bisa masuk kategori undervalue.
IHSG dinilai masih berpeluang
Purbaya menyampaikan keyakinan bahwa IHSG akan rebound dalam waktu tidak terlalu lama. Ia menyebut pasar tinggal menunggu momentum ketika sentimen ekonomi membaik. Dengan kondisi itu, indeks berpeluang kembali bergerak lebih cepat.
Menurut dia, penguatan tersebut dapat terjadi seiring percepatan perbaikan ekonomi nasional. Ia menilai, semakin cepat ekonomi membaik, semakin besar pula ruang bagi pasar saham untuk bangkit. Optimisme itu disebutnya bersandar pada data dan arah fundamental yang positif.
Purbaya juga menyinggung bahwa posisi IHSG saat ini mendekati titik terendah pada masa krisis pasar akibat pandemi COVID-19. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang pemulihan masih terbuka lebar. Namun, ia menekankan bahwa pemulihan tetap bergantung pada kinerja ekonomi dan perusahaan.
IHSG dan saran untuk investor
Dalam pernyataannya, Purbaya mendorong investor untuk tidak terlalu khawatir terhadap pelemahan saham saat ini. Ia menyarankan agar pelaku pasar mencermati emiten yang masih mencatatkan laba. Menurut dia, saham perusahaan sehat justru layak dibeli ketika harganya sedang turun.
Ia menjelaskan, saham yang turun tetapi masih ditopang kinerja keuangan kuat berpotensi memberi keuntungan di masa depan. Karena itu, investor perlu melihat valuasi secara rasional, bukan hanya mengikuti pergerakan jangka pendek. Pendekatan itu dinilai lebih sesuai dengan kondisi pasar yang fluktuatif.
Purbaya juga menambahkan bahwa pemerintah akan terus memperbaiki perekonomian ke depan. Ia meyakini, langkah itu akan menciptakan efek positif bagi dunia usaha dan pasar modal. Dengan ekonomi yang terus menguat, kepercayaan investor dinilai akan ikut pulih.
IHSG menuju 8.000-an
Purbaya memperkirakan IHSG bisa kembali ke level 8.000-an seperti pada awal 2026. Ia menilai proyeksi tersebut masih masuk akal jika fundamental ekonomi Indonesia terus membaik. Dalam pandangannya, pasar hanya perlu menunggu waktu.
Ia bahkan menyebut secara teknikal IHSG berpeluang mulai bergerak kencang pada minggu depan. Meski demikian, pernyataan itu tetap ia hubungkan dengan dukungan kondisi ekonomi yang lebih solid. Dengan kata lain, pemulihan indeks tidak berdiri sendiri tanpa dorongan fundamental.
Purbaya menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa pasar saham Indonesia akan bergerak lebih baik ke depan. Ia meminta para pelaku pasar tetap tenang dan melihat arah kebijakan ekonomi secara menyeluruh. Menurut dia, selama ekonomi terus diperbaiki, IHSG punya peluang untuk kembali menguat signifikan.
