Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026 bukan sekadar angka di atas kertas. Ia menyebut capaian itu mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang memang sedang bergerak lebih cepat. Menurutnya, data yang dirilis Badan Pusat Statistik atau BPS dapat dibaca bersamaan dengan indikator lain yang lebih nyata. Penilaian itu ia sampaikan saat ditemui di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu, 27 Mei 2026.
Purbaya menjelaskan, data BPS lahir dari survei dan catatan pengeluaran ekonomi yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Karena itu, ia menilai angka pertumbuhan tidak berdiri sendiri, melainkan harus dicocokkan dengan kondisi di lapangan. Ia juga menekankan bahwa penguatan ekonomi terlihat dari kenaikan sejumlah aktivitas konsumsi. Menurut dia, tren tersebut menjadi tanda bahwa pemulihan ekonomi mulai berjalan.
Pertumbuhan Ekonomi dan Data BPS
Purbaya menolak anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya hasil hitung-hitungan administratif. Ia menegaskan BPS mengumpulkan data dari banyak sumber, lalu mengolahnya menjadi gambaran ekonomi nasional. Proses itu, menurut dia, dilakukan dengan survei dan pencatatan pengeluaran masyarakat. Dengan cara tersebut, angka yang keluar tetap memiliki dasar empiris.
Ia mengatakan, data BPS perlu dipahami sebagai representasi dari kondisi riil, bukan sekadar angka formal. Karena itu, setiap laporan ekonomi tetap harus diuji dengan indikator pendukung lain. Purbaya menyebut pendekatan tersebut penting agar analisis ekonomi tidak keliru. Ia menilai, kesesuaian antarindikator memperkuat keyakinan terhadap arah pertumbuhan.
Menurutnya, laju pertumbuhan yang lebih tinggi menunjukkan adanya pergerakan aktivitas masyarakat di berbagai sektor. Ia menyebut situasi itu tidak muncul begitu saja, melainkan dari belanja dan produksi yang ikut naik. Pemerintah, kata dia, perlu membaca tren tersebut secara hati-hati. Tujuannya agar kebijakan yang diambil tetap sesuai dengan kondisi di lapangan.
Indikator Ekonomi Jadi Acuan
Untuk memeriksa validitas data, Purbaya menyebut pihaknya melakukan pencocokan dengan sejumlah indikator ekonomi. Di antaranya adalah penjualan mobil, penjualan motor, belanja masyarakat, konsumsi semen, dan konsumsi listrik. Ia menilai indikator-indikator itu memberikan gambaran awal tentang kekuatan permintaan domestik. Jika seluruh indikator bergerak naik, maka pertumbuhan ekonomi dinilai lebih meyakinkan.
Ia menegaskan, indikator tersebut tidak otomatis sama dengan Produk Domestik Bruto atau PDB. Namun, data itu menjadi titik cek untuk melihat apakah arah pertumbuhan benar-benar sejalan. Purbaya menyebut konsistensi antarindikator penting bagi pembuat kebijakan. Dengan begitu, pemerintah bisa menilai apakah ekonomi sedang menguat secara luas.
Menurut dia, kenaikan pada berbagai indikator menunjukkan ekonomi masyarakat sedang bergerak aktif. Hal itu terlihat dari pola konsumsi yang membaik dan aktivitas usaha yang ikut meningkat. Ia menilai kondisi tersebut lebih penting daripada perdebatan angka semata. Sebab, yang dibutuhkan adalah bukti bahwa ekonomi benar-benar hidup.
Pasar dan Mal Masih Ramai
Purbaya juga mengaku turun langsung ke pasar dan pusat perbelanjaan di sejumlah daerah. Dari hasil pantauannya, ia melihat keramaian pengunjung masih terjadi di banyak tempat. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai tanda bahwa daya beli masyarakat belum melemah secara tajam. Menurutnya, aktivitas perdagangan masih berlangsung cukup baik.
Ia menyebut beberapa kota menunjukkan aktivitas yang serupa, termasuk Yogyakarta, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Di lokasi-lokasi itu, pusat perbelanjaan maupun pasar tradisional masih ramai didatangi masyarakat. Menurut dia, geliat tersebut penting karena mencerminkan konsumsi yang tetap berjalan. Kondisi ini menjadi salah satu sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi.
Keramaian di mal dan pasar, kata Purbaya, tidak bisa dianggap sebagai kebetulan. Ia menilai kehadiran konsumen di ruang publik menunjukkan roda ekonomi masih berputar. Aktivitas tersebut juga membantu memperkuat pendapatan pelaku usaha. Karena itu, ia melihat ada dasar kuat untuk menyebut ekonomi sedang membaik.
Pemerataan Pertumbuhan Ekonomi
Meski optimistis, Purbaya mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia belum sepenuhnya merata. Ia menilai ekonomi nasional baru mulai bangkit dari periode pertumbuhan yang lambat menuju laju yang lebih cepat. Proses itu, menurut dia, membutuhkan waktu agar dampaknya terasa di berbagai lapisan masyarakat. Pemerataan manfaat ekonomi tidak bisa terjadi secara instan.
Ia menjelaskan, pertumbuhan yang membaik di pusat-pusat ekonomi belum tentu langsung dirasakan seluruh daerah. Karena itu, pemerintah perlu menjaga momentum sambil memastikan distribusi manfaat berjalan lebih luas. Purbaya menilai kebijakan fiskal harus mendukung penguatan aktivitas ekonomi di daerah. Dengan begitu, pemulihan bisa terasa lebih seimbang.
Menurutnya, langkah awal yang positif tetap harus diikuti konsistensi kebijakan dan pengawasan yang tepat. Ia berharap pertumbuhan yang mulai cepat ini dapat menyebar ke ekonomi secara merata. Jika itu terjadi, manfaatnya akan dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Purbaya menilai, proses tersebut menjadi kunci bagi penguatan ekonomi nasional ke depan.
