Pulang dari Hongkong, Siti Fatimah Sukses Bangun Qtello Ayu

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 17:48 WIB 2
Pulang dari Hongkong, Siti Fatimah Sukses Bangun Qtello Ayu

Mantan pekerja migran Indonesia asal Trenggalek, Siti Fatimah, membuktikan bahwa pulang ke Tanah Air bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk membangun usaha. Setelah lima tahun bekerja di Hongkong, perempuan 46 tahun itu kembali ke Indonesia pada Mei 2017 dan memilih merintis bisnis dari rumah dengan modal terbatas.

Fatimah memulai usaha jajanan tradisional berbahan singkong pada akhir 2017 dengan merek Qtello Ayu, yang kini berkembang menjadi produk rumahan bernilai jual tinggi. Dari modal awal Rp700 ribu, ia berhasil membangun usaha yang mampu memproduksi hingga 400 kotak per hari dan menghasilkan omzet harian rata-rata Rp1 juta.

Awal Mula Qtello Ayu

Keputusan Fatimah untuk pulang tidak diambil tanpa alasan, karena ia merasa pekerjaan di luar negeri tidak lagi memberi ruang berkembang. Sebagai single parent, ia juga harus memikirkan kebutuhan anak-anak yang terus bertambah.

Ia lalu memanfaatkan sisa tabungannya untuk memulai usaha sederhana dari dapur rumah. Modal Rp700 ribu itu menjadi pijakan awal untuk mengubah singkong menjadi aneka jajanan tradisional yang bernilai ekonomi.

Nama Qtello Ayu dipilih dari perpaduan kata ketela dan ayu, yang mencerminkan produk berbahan dasar singkong dengan tampilan menarik. Pada tahap awal, Fatimah hanya menjual tiga varian, yakni ongol-ongol, getuk, dan klepon.

Inovasi Produk Menarik Pembeli

Seiring waktu, Fatimah terus mengembangkan varian produknya agar lebih beragam dan sesuai selera pasar. Kini, Qtello Ayu memiliki sembilan varian dengan tampilan warna-warni yang lebih modern dan menggugah selera.

Beberapa produk yang ditawarkan antara lain sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi itu membuat jajanan tradisional tampil lebih segar tanpa meninggalkan cita rasa khasnya.

Menurut Fatimah, bahan baku yang sederhana justru menjadi kekuatan utama usahanya. Dengan pengemasan yang kreatif, produk rumahan itu mampu bersaing di pasar lokal maupun pesanan luar daerah.

Pemasaran Lewat Jaringan Digital

Fatimah tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga memanfaatkan strategi pemasaran yang dekat dengan keseharian masyarakat. Ia memasarkan produknya melalui WhatsApp, grup alumni, media sosial, dan promosi dari mulut ke mulut.

Cara tersebut terbukti efektif karena jangkauan pelanggan semakin luas dari waktu ke waktu. Pesanan datang dari Tulungagung, Trenggalek, hingga luar kota seperti Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta.

Dengan jaringan pelanggan yang terus bertambah, permintaan terhadap produk Qtello Ayu ikut meningkat. Kondisi itu membantu usahanya bertahan sekaligus berkembang di tengah persaingan kuliner rumahan yang ketat.

Dampak Usaha Bagi Keluarga

Untuk memenuhi pesanan, Fatimah tidak bekerja sendiri karena ia dibantu keluarga dan dua karyawan harian. Seluruh proses produksi tetap dilakukan dari rumah agar kualitas dan kesegaran produk tetap terjaga.

Hasil usaha tersebut memberi dampak besar bagi ekonomi keluarganya. Fatimah mengaku bisa melunasi utang, memperbaiki kondisi keuangan, bahkan membeli mobil untuk operasional usaha.

Kesuksesan itu juga menular ke keluarga besarnya karena salah satu anaknya yang sudah menikah membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Fatimah berharap usahanya dapat terus berkembang ke lebih banyak kota karena permintaan pasar masih terbuka luas.

Ia juga berpesan kepada siapa pun yang ingin memulai usaha agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi proses yang berat. Menurutnya, semangat harus terus dijaga dengan mengingat kembali tujuan awal berbisnis dan tekad untuk mandiri di Tanah Air.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!