Direktur Utama Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Adi Rahman Adiwoso, menjelaskan strategi perusahaan dalam menghadapi persaingan layanan internet satelit berbasis Low Earth Orbit atau LEO milik Starlink di Indonesia. PSN memilih pendekatan berbeda dengan mengandalkan teknologi lokal, termasuk antena Cerdiq, serta layanan berbasis satelit geostasioner yang baru dioperasikan. Langkah ini muncul setelah PSN mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit dan VSAT dari Kementerian Komunikasi dan Digital.
Adi menegaskan, PSN ingin menawarkan opsi yang tidak hanya bersaing dari sisi layanan, tetapi juga dari sisi kedaulatan teknologi. Menurut dia, seluruh infrastruktur yang dibangun di dalam negeri memberi jaminan operasional yang lebih aman dan tidak mudah terdampak gangguan geopolitik global. Ia menyebut, kapasitas layanan tersebut akan tetap berada di tanah air dan tidak dihentikan karena faktor eksternal.
Strategi Internet Satelit PSN
PSN menempatkan pengembangan teknologi lokal sebagai inti strategi bisnisnya. Perusahaan menilai pendekatan ini membedakan mereka dari pemain global yang mengandalkan jaringan konstelasi LEO. Dengan begitu, PSN berupaya menjaga posisi sebagai penyedia internet satelit nasional yang memiliki nilai tambah di pasar domestik.
Adi menyebut, teknologi yang digunakan PSN, termasuk antena Cerdiq, merupakan hasil pengembangan dalam negeri. Hal itu dinilai penting untuk memperkuat ekosistem industri satelit nasional. Selain itu, penggunaan komponen lokal diharapkan membuka ruang yang lebih besar bagi penguasaan teknologi di Indonesia.
Menurut dia, strategi tersebut bukan semata soal bisnis, tetapi juga soal ketahanan layanan. Dengan infrastruktur yang dibangun di Indonesia, PSN ingin memastikan layanan tetap berjalan meski situasi global berubah. Pendekatan ini menjadi pembeda utama dalam persaingan internet satelit yang kian ketat.
Nusantara Lima Jadi Andalan
PSN baru saja mengoperasikan satelit Nusantara Lima sebagai tulang punggung layanan internet satelit terbarunya. Satelit GEO itu telah memperoleh izin operasional dari Komdigi untuk mendukung layanan Jartupsat dan VSAT. Kehadiran izin tersebut memberi landasan legal bagi ekspansi layanan perusahaan.
Nusantara Lima disebut memiliki kapasitas hingga 160 Gbps, yang diklaim sebagai yang terbesar di kawasan Asia. Kapasitas besar ini diharapkan mampu menopang kebutuhan konektivitas di berbagai wilayah Indonesia. Dalam konteks ini, PSN menempatkan kapasitas sebagai keunggulan utama untuk menjangkau pasar yang luas.
Adi menjelaskan, kapasitas tersebut merupakan aset strategis yang ditempatkan di dalam negeri. Karena itu, layanan yang berjalan dinilai lebih terkendali dan tidak bergantung pada kebijakan luar negeri. PSN pun menekankan bahwa model bisnis ini dirancang untuk menjaga kesinambungan layanan dalam jangka panjang.
Tanpa Perang Harga
Di tengah agresivitas Starlink, PSN mengakui persaingan di pasar internet satelit tidak mudah. Tantangan terbesar datang dari sisi finansial, strategi harga, dan kekuatan merek global. Meski demikian, perusahaan memilih tidak terjebak dalam perang harga yang dinilai tidak sehat.
Adi mengatakan PSN tidak ingin mengikuti pola subsidi besar-besaran untuk merebut pasar. Menurutnya, strategi semacam itu berisiko mengganggu keberlanjutan industri dalam negeri. Karena itu, perusahaan lebih memilih jalur yang bertumpu pada nilai layanan dan kemandirian teknologi.
Ia juga menyoroti keunggulan Starlink yang dapat memanfaatkan pasar besar di Amerika Serikat dan Eropa untuk menopang ekspansi ke negara lain. Kondisi itu membuat persaingan harga menjadi tidak seimbang bagi pemain lokal. PSN, kata dia, memilih menjaga disiplin bisnis agar tetap sehat dan berkelanjutan.
Kedaulatan Internet Satelit
Bagi PSN, isu kedaulatan menjadi alasan penting dalam pengembangan internet satelit nasional. Perusahaan menilai layanan yang sepenuhnya dibangun di dalam negeri lebih terlindungi dari risiko geopolitik global. Dengan demikian, konsumen dan pemerintah mendapatkan kepastian layanan yang lebih stabil.
Adi menegaskan bahwa pengembangan teknologi lokal bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang. PSN ingin membangun ekosistem yang dapat berdiri sendiri tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak luar. Langkah ini juga dinilai sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat infrastruktur digital nasional.
Di tengah persaingan dengan pemain global, PSN berupaya menegaskan identitasnya sebagai penyedia layanan satelit buatan dalam negeri. Perusahaan berharap pendekatan tersebut dapat memberi nilai strategis bagi industri telekomunikasi Indonesia. Dengan kapasitas besar dan basis teknologi lokal, PSN memasuki persaingan dengan posisi yang berbeda dari Starlink.
