Pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah berada di level Rp17.500 per dolar AS pada 2027, sebagaimana disampaikan dalam pidato Rapat Paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027. Target ini langsung memicu beragam penilaian dari para ekonom dan analis pasar, pada saat ketidakpastian global masih tinggi dan arah kebijakan moneter dunia belum sepenuhnya jelas.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai asumsi tersebut masih cukup realistis dan cenderung konservatif untuk menjaga ruang aman APBN. Namun, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin justru melihat target itu belum didukung langkah konkret yang memadai untuk memperkuat rupiah dalam jangka dekat.
Target rupiah dan APBN
Lukman menilai target rupiah Rp17.500 pada 2027 masih masuk akal jika melihat kondisi global yang penuh ketidakpastian. Faktor suku bunga AS, geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia disebut masih membayangi pasar keuangan.
Menurutnya, pemerintah tampak memilih asumsi yang lebih konservatif agar APBN memiliki ruang antisipasi terhadap volatilitas eksternal. Sikap ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan global yang mudah berubah.
Ia juga menilai keputusan pemerintah memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis menjadi sinyal positif bagi pasar. Investor cenderung membaca langkah itu sebagai bentuk perhatian terhadap disiplin fiskal dan pengelolaan pembiayaan utang.
Respons para analis
Di sisi lain, Wijayanto Samirin menilai target tersebut belum realistis. Menurutnya, pemerintah belum menunjukkan keseriusan untuk membawa rupiah kembali ke level yang lebih kuat.
Ia menyebut belum terlihat kebijakan konkret yang dapat mendongkrak nilai tukar secara berkelanjutan. Karena itu, target Rp17.500 dipandang lebih sebagai asumsi formal ketimbang proyeksi yang kuat secara fundamental.
Wijayanto menambahkan, intervensi Kementerian Keuangan di pasar modal dan optimalisasi skema Bond Stabilization Fund belum cukup untuk memulihkan stabilitas rupiah. Kedua langkah itu, menurut dia, hanya efektif menahan volatilitas, bukan mengubah faktor utama yang menekan kurs.
Faktor penentu rupiah
Ia menegaskan, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi isu fiskal dan neraca pembayaran. Selama dua faktor tersebut belum membaik, ruang penguatan rupiah dinilai tetap terbatas.
Meski demikian, peluang penguatan rupiah masih terbuka jika sentimen global membaik. Arus modal asing yang kembali masuk dan harga komoditas yang solid juga dapat membantu menopang kurs.
Dalam pandangan pasar, kejelasan arah kebijakan fiskal menjadi sama pentingnya dengan kebijakan moneter. Kombinasi disiplin anggaran dan stabilitas eksternal akan sangat menentukan persepsi investor terhadap aset Indonesia.
Rupiah dan restrukturisasi
Presiden Direktur Center For Banking Crisis, Achmad Deni Daruri, memiliki pandangan berbeda terhadap pelemahan rupiah. Ia menilai kondisi itu perlu dibaca sebagai proses restrukturisasi ekonomi nasional, bukan sekadar pelemahan mata uang.
Menurut Deni, pelemahan dolar AS masih mungkin terjadi jika The Fed menurunkan suku bunga sesuai arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Dalam skenario itu, rupiah berpeluang kembali stabil terhadap mata uang global.
Deni juga menyebut pelemahan rupiah dapat menjadi momentum penyesuaian struktural untuk memperkuat ekspor dan industri domestik. Ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen belum cukup kuat karena masih ditopang konsumsi pemerintah dan sektor hospitality.
