Produk UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 13:48 WIB 6
Produk UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar internasional, setelah Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, menerima pesanan sarung tenun dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Permintaan tersebut menegaskan bahwa produk berbasis warisan budaya dapat bersaing di pasar luar negeri ketika dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

Melalui jaringan ratusan penenun dari berbagai daerah, Kainnesia tidak hanya memperluas pasar tenun nusantara, tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM binaan serta membuka lapangan kerja baru. Program Pertapreneur Aggregator dinilai memberi dampak yang meluas, mulai dari produksi, akses pasar, hingga peningkatan kapasitas pelaku usaha kecil.

UMKM Tenun Naik Kelas

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyebut bahwa pertumbuhan usaha yang terjadi tidak berhenti pada perusahaan. Menurut dia, manfaat program juga dirasakan oleh UMKM binaan yang terlibat dalam rantai produksi.

Saat ini, 37 UMKM mitra Kainnesia telah menyerap lebih dari 400 tenaga kerja. Angka tersebut menunjukkan adanya efek berganda dari penguatan ekosistem usaha kecil di daerah.

Nur menilai capaian itu menjadi bukti bahwa model aggregator mampu mendorong pertumbuhan yang menyeluruh. Ia menekankan bahwa pelaku usaha kecil membutuhkan dukungan teknis, manajerial, dan akses pasar agar bisa tumbuh lebih cepat.

UMKM Tenun Tembus Ekspor

Pesanan dari Malaysia menjadi salah satu pintu masuk penting bagi produk tenun Kainnesia ke pasar luar negeri. Nilai transaksi yang mencapai US$ 50 ribu menunjukkan minat buyer internasional terhadap produk lokal Indonesia.

Kainnesia juga telah tampil dalam sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025. Dari rangkaian kegiatan itu, terbuka peluang pertemuan dengan pembeli dari Jepang, Australia, hingga Malaysia.

Ekspansi ini memperlihatkan bahwa produk UMKM tidak lagi terbatas pada pasar domestik. Dengan kurasi kualitas dan strategi pemasaran yang tepat, produk berbasis budaya dapat masuk ke segmen global.

Tenun dan Generasi Muda

Nur Salam menegaskan bahwa tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dikembangkan. Ia ingin produk tersebut tetap relevan dengan kebutuhan zaman dan diminati generasi muda.

Menurut dia, pendekatan modern diperlukan agar tenun tidak dipandang sebagai produk tradisional semata. Strategi itu mencakup inovasi desain, penguatan cerita merek, dan pemanfaatan kanal digital untuk promosi.

Kainnesia melihat anak muda sebagai pasar sekaligus pelaku yang dapat menjaga keberlanjutan tenun. Karena itu, pengembangan produk juga diarahkan agar memiliki nilai ekonomi dan nilai budaya secara bersamaan.

Pertapreneur Dorong Ekonomi Lokal

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut kehadiran Kainnesia sebagai contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Ia menilai semakin banyak UMKM aggregator, semakin besar pula peluang UMKM lain untuk naik kelas.

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, para pelaku usaha memperoleh dukungan teknis, manajerial, dan akses pasar yang lebih luas.

Rudi berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi penggerak ekonomi lokal yang menciptakan nilai tambah lebih besar. Ia menekankan bahwa pertumbuhan usaha kecil yang terhubung dalam ekosistem yang kuat akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!