Bagi sebagian orang, sampah identik dengan masalah dan barang yang tidak bernilai. Namun, di tangan pelaku usaha kreatif, limbah bisa berubah menjadi produk bernilai tinggi, bahkan menembus pasar luar negeri. Itulah yang dilakukan Robries dan Lumosh melalui inovasi produk daur ulang yang dipamerkan di Trade Expo Indonesia 2025. Keduanya menunjukkan bahwa ekonomi sirkular dapat membuka peluang bisnis sekaligus menjaga lingkungan.
CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, bersama Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, memanfaatkan limbah plastik dan keramik untuk menghasilkan produk bernilai jual. Robries mengolah tutup botol plastik menjadi furnitur, sedangkan Lumosh mengubah limbah keramik menjadi piring, gelas, dan perabot rumah tangga berdesain artistik. Keduanya menyebut dukungan Indonesia Design Development Center atau IDDC Kementerian Perdagangan menjadi faktor penting dalam pengembangan produk dan perluasan pasar. Kehadiran mereka di TEI 2025 menjadi bukti bahwa produk daur ulang Indonesia memiliki daya saing global.
Inovasi Daur Ulang Sampah
Robries dibangun pada 2018 dengan fokus mengubah sampah botol plastik menjadi furnitur yang menarik. Syukriyatun menjelaskan, ide tersebut lahir dari keinginan menjaga lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru. Produk yang dihasilkan tidak hanya fungsional, tetapi juga dirancang agar memiliki tampilan yang sesuai dengan selera pasar. Konsep itu membuat Robries berbeda dari produk furnitur pada umumnya.
Menurut Syukriyatun, tantangan terbesar bukan pada proses produksi semata, melainkan pada penerimaan pasar. Produk berbahan dasar sampah plastik masih dianggap unik oleh sebagian masyarakat, sehingga membutuhkan edukasi yang lebih luas. Edukasi pasar menjadi penting agar konsumen memahami nilai keberlanjutan di balik produk tersebut. Tanpa pemahaman yang baik, produk daur ulang berisiko dipandang sekadar barang alternatif.
Di sisi lain, Lumosh menghadirkan pendekatan serupa dengan memanfaatkan limbah keramik sebagai bahan baku utama. Raymond menyebut produk mereka lahir dari proses riset dan pengembangan desain yang cukup panjang. Hasilnya, limbah yang semula tidak bernilai dapat diolah menjadi produk rumah tangga yang representatif. Inovasi itu menunjukkan bahwa bahan bekas tetap bisa masuk ke pasar premium jika dikemas dengan tepat.
Tantangan Pasokan Sampah
Selain edukasi pasar, Robries juga menghadapi kendala pada pasokan bahan baku. Syukriyatun mengatakan ketersediaan sampah tutup botol plastik tidak selalu konsisten. Kondisi itu membuat perusahaan harus terus mencari sumber bahan baku yang stabil. Pada saat yang sama, kualitas produk harus tetap dijaga agar tidak menurun.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan pasokan menjadi kunci dalam industri daur ulang. Jika bahan baku tidak tersedia secara rutin, maka proses produksi dapat terganggu. Karena itu, Robries terus membangun jaringan pengumpulan sampah untuk memastikan kebutuhan produksi terpenuhi. Langkah ini juga membantu menjaga efisiensi dan konsistensi hasil akhir.
Lumosh juga menghadapi situasi serupa karena riset tentang daur ulang keramik masih terbatas. Raymond menjelaskan bahwa referensi dan jurnal terkait proses tersebut tidak banyak tersedia. Situasi itu membuat tim harus bekerja ekstra untuk menemukan metode yang tepat. IDDC kemudian ikut membantu dengan menyediakan riset dan arahan desain yang lebih aplikatif.
Dukungan IDDC Kemendag
Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui IDDC terus mendorong UMKM agar mampu masuk ke pasar global. Salah satu bentuk dukungannya adalah kurasi bagi pelaku usaha yang akan mengikuti TEI 2025. Ajang tersebut menghadirkan 8045 buyer dari 130 negara. Kesempatan ini menjadi pintu penting bagi pelaku usaha lokal untuk bertemu pembeli internasional.
Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC memberi dampak besar bagi pengembangan produk Robries. Selama empat tahun mengajukan Good Design Award, pihaknya mendapat bimbingan dan pengarahan yang berkelanjutan. Tahun ini, produk Robries akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan. Pencapaian itu memperkuat posisi mereka di pasar ekspor.
Ia menilai arahan IDDC membantu pelaku UMKM memahami cara mengemas produk agar lebih diminati pembeli luar negeri. Pendampingan tersebut mencakup sisi desain, presentasi produk, hingga strategi masuk pasar. Menurutnya, proses itu sangat menentukan dalam membangun kepercayaan calon buyer. Dengan dukungan yang tepat, produk lokal memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas.
Ekspor UMKM Makin Luas
Robries mengaku telah memproduksi sekitar 25 ribu produk sejak 2018 hingga sekarang. Dari proses itu, sekitar 145 ton sampah berhasil diolah menjadi produk bernilai jual. Pasar yang dijangkau pun terus meluas ke Singapura, Malaysia, dan Uni Eropa. Perluasan tersebut menunjukkan bahwa produk daur ulang dapat diterima di berbagai negara.
Perusahaan juga telah memiliki distributor resmi di Singapura dan Malaysia. Sementara itu, kerja sama untuk pasar Uni Eropa disebut segera menyusul. Langkah ini menunjukkan bahwa produk berbasis limbah bukan hanya relevan di pasar lokal. Dengan pengemasan yang tepat, produk tersebut dapat bersaing di pasar global.
Raymond menambahkan, IDDC sangat membantu Lumosh dalam membaca peluang pasar internasional. Menurutnya, masukan dari IDDC membuat arah pengembangan produk menjadi lebih jelas. Pelaku UMKM dapat memahami negara mana yang berpotensi menjadi pasar potensial. Dengan kombinasi inovasi, riset, dan pendampingan, produk daur ulang Indonesia kian siap bersaing di level dunia.
