Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah menteri ke Istana Kepresidenan pada Kamis (21/5/2026) untuk membahas isu ekspor dan hilirisasi. Sejumlah pejabat yang hadir antara lain Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Pertemuan itu menjadi sorotan karena berlangsung di tengah perhatian pemerintah terhadap mekanisme kebijakan ekspor dan temuan dugaan manipulasi harga pada komoditas sawit. Para menteri yang datang disebut membawa bahan paparan masing-masing untuk disampaikan langsung kepada Presiden.
Laporan Ekspor
Rosan Roeslani menyebut dirinya datang untuk menyiapkan laporan terkait ekspor wajib melalui BUMN. Ia mengatakan akan memaparkan mekanisme kebijakan tersebut kepada Presiden Prabowo. Rosan tidak menjelaskan detail isi laporan yang dibawanya.
Ketika ditemui awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rosan memilih berbicara singkat. Ia menegaskan bahwa penjelasan lengkap akan disampaikan langsung dalam pertemuan. Sikap itu menunjukkan pembahasan masih berada pada tahap internal pemerintah.
Pertemuan ini memperlihatkan bahwa isu ekspor menjadi salah satu perhatian utama pemerintah. Kebijakan yang menyangkut BUMN dan hilirisasi dinilai membutuhkan koordinasi lintas kementerian. Karena itu, kehadiran Rosan menjadi bagian penting dari agenda siang tersebut.
Temuan Under Invoicing
Purbaya Yudhi Sadewa mengaku menyiapkan data terkait dugaan under invoicing oleh sejumlah perusahaan sawit. Data itu ia bawa sebagai bahan antisipasi jika Presiden meminta penjelasan lebih lanjut. Ia menyebut ada catatan perusahaan CPO yang diduga melakukan manipulasi harga.
Menurut Purbaya, temuan tersebut menunjukkan adanya selisih nilai ekspor yang cukup besar antara data di Indonesia dan negara tujuan. Ia mencontohkan perbedaan harga yang mencapai 57 persen hingga 200 persen. Selisih itu, kata dia, menandakan perlunya pengawasan lebih ketat.
Purbaya menjelaskan, pada salah satu contoh, nilai ekspor dari Indonesia tercatat US$ 2,6 juta, sementara di negara tujuan mencapai US$ 4,2 juta. Ada pula contoh lain ketika nilai ekspor dari Indonesia sebesar US$ 1,44 juta berubah menjadi sekitar US$ 4 juta di luar negeri. Ia tidak menyebut nama perusahaan yang dimaksud.
Koordinasi Kebijakan
Kehadiran Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menambah bobot pembahasan di Istana. Kedua pejabat itu diduga turut memberi masukan terkait stabilitas ekonomi dan penguatan industri nasional. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah berbagai tantangan perdagangan global.
Pemerintah tampak ingin memastikan kebijakan ekspor, khususnya pada komoditas strategis, berjalan sesuai aturan. Koordinasi antarkementerian dan lembaga diperlukan agar kebijakan fiskal, moneter, dan industri saling mendukung. Hal ini juga penting untuk menjaga penerimaan negara.
Di sisi lain, isu manipulasi harga pada komoditas sawit menjadi perhatian karena berpotensi merugikan negara. Dugaan under invoicing dapat berdampak pada penerimaan devisa dan pajak. Oleh sebab itu, data yang dibawa Purbaya menjadi bagian dari evaluasi yang lebih luas.
Dampak Ekonomi
Pembahasan di Istana berpotensi memengaruhi arah kebijakan perdagangan dan pengawasan ekspor ke depan. Pemerintah dapat memperketat verifikasi data untuk mengurangi praktik yang merugikan negara. Langkah ini juga bisa memperbaiki transparansi di sektor komoditas.
Dalam konteks hilirisasi, pemerintah membutuhkan kepastian data agar kebijakan industri berjalan efektif. Ketika nilai ekspor tidak sesuai dengan harga di negara tujuan, maka ada risiko kebocoran pendapatan. Situasi itu dapat mengganggu upaya memperkuat basis ekonomi nasional.
Agenda makan siang di Istana pun menunjukkan bahwa isu ekonomi strategis sedang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kombinasi pembahasan ekspor, hilirisasi, dan pengawasan CPO menjadi sinyal bahwa penegakan aturan akan diperkuat. Ke depan, publik menunggu tindak lanjut dari laporan para menteri tersebut.
