PGTC 2026 Bawa Industri Energi Masuk Kampus

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 22 Mei 2026 00:00 WIB 7
PGTC 2026 Bawa Industri Energi Masuk Kampus

Pertamina resmi memulai Pertamina Goes to Campus atau PGTC 2026 di Institut Teknologi Bandung, Kamis (21/5), dengan tema Energizing Acceleration for Future Impact. Program ini hadir untuk mempertemukan mahasiswa dengan tantangan nyata industri energi, sekaligus membuka ruang bagi ide, riset, dan talenta muda agar tidak berhenti di ruang kelas.

Melalui format roadshow ke lima kota, Pertamina ingin memperkuat ekosistem yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan masa depan sektor energi Indonesia. Inisiatif ini juga diposisikan sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengelola ketahanan energi nasional di masa mendatang.

PGTC dan arah baru

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan, PGTC bukan program yang lahir tiba-tiba. Menurut dia, pendekatan Pertamina ke kampus sudah dilakukan sejak awal dekade 2000-an. Program itu kemudian dibangun menjadi identitas PGTC pada 2012.

Arya menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang untuk menjangkau mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pertamina ingin menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan realitas industri. Dengan begitu, mahasiswa dapat melihat tantangan energi dari sudut pandang praktik.

Ia menegaskan, keberlanjutan program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Pertamina tidak hanya memikirkan pasokan energi hari ini. Perusahaan juga menyiapkan generasi yang kelak mengelola energi Indonesia.

Pembukaan di ITB menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan PGTC 2026. Setelah Bandung, program akan berlanjut ke sejumlah kampus lain yang masih difinalisasi. Sebagian lokasi disebut mengarah ke Sumatera Barat dan Sulawesi.

Kolaborasi dengan kampus

Bagi ITB, kehadiran PGTC memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar kegiatan mahasiswa. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano, menilai kolaborasi ini membuka jalur yang lebih erat antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri. Menurut dia, ada dua manfaat utama yang langsung terlihat.

Manfaat pertama adalah mahasiswa dapat mengenal industri lebih awal. Pengalaman seperti ini tidak selalu mudah diperoleh hanya dari kegiatan belajar di kelas. Karena itu, interaksi langsung dengan pelaku industri dinilai penting bagi pembentukan wawasan mahasiswa.

Irwan juga menyoroti manfaat bagi dosen dan sivitas akademika. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana industri melakukan riset dan mengembangkan inovasi. Kondisi ini membuka peluang kerja sama penelitian yang lebih relevan.

Lebih jauh, ITB disebut sedang menjajaki kerja sama dengan Pertamina untuk mendesain kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri. Irwan menilai, tantangan di sektor industri kerap bergerak lebih cepat daripada program pendidikan. Karena itu, pertemuan antara pengelola kampus dan Pertamina dinilai sangat penting.

Bekal untuk lulusan

Dukungan terhadap PGTC juga datang dari pemerintah melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Junaidi Khotib. Ia menilai program ini menjadi contoh konkret pertemuan yang setara antara kampus dan industri. Menurut dia, model seperti ini penting untuk menjaga relevansi lulusan perguruan tinggi.

Junaidi mengatakan, dunia pendidikan dan dunia usaha perlu dipertemukan lebih sering. Dengan cara itu, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga kebutuhan nyata di lapangan. Ia menilai hal tersebut akan memperkuat daya saing lulusan di tengah perubahan zaman.

Kementerian, lanjut Junaidi, mendukung penuh sinergi yang menghadirkan industri lebih awal di lingkungan kampus. Mahasiswa dapat memperoleh gambaran tentang peluang karier dan arah perkembangan sektor energi nasional. Bekal itu dinilai penting agar lulusan tidak tertinggal dari kebutuhan industri.

Ia juga berharap cakupan program semacam ini dapat diperluas ke lebih banyak kampus. Menurut dia, keterlibatan holding dan subholding Pertamina memberi ruang interaksi yang semakin luas bagi mahasiswa dan akademisi. Dengan begitu, sinergi antara pendidikan dan industri dapat memberi dampak lebih besar bagi mutu lulusan.

Membangun ekosistem energi

PGTC 2026 menunjukkan bahwa pembangunan energi tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur dan teknologi. Sumber daya manusia tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan sektor ini. Karena itu, program yang mempertemukan kampus dan industri dinilai semakin relevan.

Format roadshow juga memberi peluang bagi Pertamina untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa di berbagai daerah. Kehadiran industri di kampus dapat memperpendek jarak antara dunia akademik dan kebutuhan kerja. Dalam konteks ini, mahasiswa mendapat akses pada pengalaman yang lebih nyata.

Kolaborasi tersebut sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan antara mahasiswa, dosen, dan praktisi. Riset kampus dapat menemukan jalur penerapan yang lebih jelas di industri. Sebaliknya, perusahaan dapat memperoleh perspektif baru dari generasi muda.

Dengan langkah ini, Pertamina berupaya menegaskan peran sebagai perusahaan energi yang tidak hanya fokus pada operasi bisnis. Perusahaan juga ingin terlibat dalam pembentukan talenta masa depan. Upaya tersebut diharapkan memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.

Tag Terkait
#Pertamina#energi#ITB

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!