Pertamina UMK Academy 2025 Dorong UMK Naik Kelas

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 10:53 WIB 2
Pertamina UMK Academy 2025 Dorong UMK Naik Kelas

Ratusan pelaku usaha mikro dan kecil mengikuti pelatihan tematik dalam program Pertamina UMK Academy 2025 yang digelar untuk memperluas pengetahuan, keterampilan, dan daya saing lintas sektor. Program ini menjadi langkah nyata Pertamina dalam membantu UMK berkembang lebih cepat dan lebih siap bersaing di pasar yang kian kompetitif.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, perusahaan terus berinovasi agar pembinaan UMK tidak berhenti pada teori. Melalui pelatihan yang dipadukan dengan praktik langsung dan pendampingan mentor ahli, peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha sesuai bidangnya masing-masing.

Pelatihan Tematik UMK Academy

Pertamina menghadirkan pelatihan tematik berdasarkan sektor usaha yang ditekuni peserta, mulai dari craft, furniture, jewelry, food and beverage, agribisnis, jasa, teknologi, fashion, hingga wastra. Skema ini dirancang agar materi yang diterima lebih relevan dengan kebutuhan bisnis masing-masing pelaku UMK.

Baron menjelaskan bahwa pendekatan tematik membuat peserta memperoleh pengetahuan yang lebih spesifik. Untuk kelas fesyen, misalnya, materi mencakup tren mode, manajemen rantai pasok, dan strategi pengembangan produk.

Ia menegaskan, pelatihan ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung bersama mentor berpengalaman di bidangnya. Dengan metode tersebut, peserta dapat memahami penerapan ilmu secara lebih konkret dalam operasional usaha sehari-hari.

Menurut Baron, fokus utama program ini adalah membantu UMK mengembangkan usaha secara lebih terarah. Dengan pemahaman yang lebih dalam pada sektor masing-masing, pelaku usaha diharapkan mampu memperkuat posisi dan menjadi pemimpin pasar di bidangnya.

Materi Praktis Dari Mentor

Sejumlah pemateri profesional hadir dalam pelatihan ini, di antaranya pendiri sekaligus Direktur Kreatif Pyo Jewelry, Luthfia Fataty. Ada pula pemilik Panda Food, Stenly Hendi Avanda, serta pendiri Sirtanio Organik Indonesia dan Satu Atap Coworking Space Surabaya, Ahmad Tessario.

Pengamat mode sekaligus pendiri Indonesia Fashion Chamber, Lisa Fitria, juga turut berbagi wawasan kepada peserta. Kehadiran para praktisi tersebut memberi perspektif langsung mengenai tantangan dan peluang di sektor usaha yang berbeda.

Luthfia memberikan materi untuk sektor craft, furniture, dan jewelry, sekaligus memaparkan arah tren pasar tahun 2026. Penjelasan itu membantu peserta memahami potensi pengembangan produk agar tetap relevan dengan perubahan selera konsumen.

Sementara itu, Stenly membahas distribusi, promosi, dan pengembangan produk sektor F&B. Ia juga menekankan pentingnya memaksimalkan media sosial sebagai sarana promosi yang efektif dan murah bagi pelaku usaha kecil.

Peserta Raih Wawasan Baru

Salah satu peserta, Novita Hermawan, pemilik Agrominafiber, menilai pelatihan ini membuka wawasan baru tentang tren desain global, manajemen bisnis, dan pemasaran digital. Menurut dia, materi yang diberikan sangat relevan untuk meningkatkan kualitas usaha di tengah persaingan yang ketat.

Novita menilai, penguatan kapasitas seperti ini penting agar UMKM mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing internasional. Ia melihat pendampingan semacam ini dapat menjadi bekal nyata untuk memperluas pasar.

Pemilik Dara Baro, Dimita Agustin, mengaku kini lebih memahami cara menghitung ongkos produksi secara efisien setelah mengikuti kelas fesyen. Ia juga mendapat pemahaman mengenai perbedaan katalog, lookbook, dan line sheet dalam pemasaran.

Dimita menilai materi tersebut tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka peluang baru bagi pengembangan mereknya. Ia menyebut pemahaman yang lebih baik atas strategi promosi akan sangat membantu bisnisnya ke depan.

Dukungan Bagi Ekonomi Inklusif

Achmad Em, pemilik Kopi Kalimantan, memperoleh wawasan baru mengenai strategi pengembangan merek, inovasi produk, dan pengelolaan sumber daya manusia. Pengetahuan itu ia yakini akan memperkuat daya saing produknya di pasar kopi yang semakin kompetitif.

Ia menilai kelas tematik F&B memberi gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana bisnis harus bertahan dan tumbuh. Dengan bekal tersebut, usaha kecil disebut memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas secara berkelanjutan.

Program UMK Academy 2025 disebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat industri kreatif dan mendorong kewirausahaan. Inisiatif itu juga dinilai mendukung penciptaan lapangan usaha yang lebih inklusif.

Pertamina menegaskan, program pembinaan UMK merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Melalui pelatihan tematik dan pendampingan yang terarah, perusahaan berharap pelaku usaha kecil semakin siap menghadapi persaingan nasional maupun global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!