Pertamina UMK Academy 2025 Bekali UMK dengan Pelatihan Tematik

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 00:45 WIB 2
Pertamina UMK Academy 2025 Bekali UMK dengan Pelatihan Tematik

Ratusan pelaku usaha mikro dan kecil mengikuti pelatihan tematik dalam program Pertamina UMK Academy 2025 yang digelar untuk memperluas pengetahuan, keterampilan, dan daya saing di berbagai sektor usaha. Program ini dirancang agar pelaku UMK dapat naik kelas lebih cepat melalui materi yang lebih spesifik sesuai bidang masing-masing.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, pelatihan ini menjadi bagian dari inovasi perusahaan untuk mendorong UMK berkembang lebih fokus dan kompetitif. Kegiatan tersebut melibatkan peserta dari sektor craft, furniture, jewelry, food and beverage, agribisnis, jasa, teknologi, fashion, dan wastra.

Pelatihan Tematik UMK Pertamina

Baron menjelaskan bahwa pelatihan tematik tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga praktik langsung bersama mentor ahli di bidang masing-masing. Skema ini dipilih agar peserta mendapat bekal yang lebih relevan dengan tantangan usaha yang mereka hadapi.

Menurut dia, pendekatan berbasis sektor membuat pelaku UMK dapat memperdalam materi yang benar-benar dibutuhkan untuk pengembangan usaha. Peserta kelas fesyen, misalnya, memperoleh wawasan tentang tren mode, manajemen rantai pasok, dan strategi pemasaran yang sesuai pasar.

Pertamina menilai pelatihan semacam ini membantu pelaku UMK menyusun langkah bisnis yang lebih terarah. Dengan pemahaman yang lebih spesifik, peserta diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan memperkuat posisi usaha di pasar.

Baron menegaskan bahwa tujuan akhir program ini adalah menjadikan UMK lebih siap bersaing dan berpeluang menjadi pemimpin pasar di sektornya masing-masing. Ia menambahkan, penguatan kapasitas menjadi salah satu kunci utama dalam menciptakan usaha yang berkelanjutan.

Mentor Profesional Berbagi Pengalaman

Sejumlah pemateri profesional dihadirkan untuk memberikan pembelajaran sesuai bidang keahlian mereka. Di antaranya pendiri dan Direktur Kreatif Pyo Jewelry Luthfia Fataty, pemilik Panda Food Stenly Hendi Avanda, serta pendiri Sirtanio Organik Indonesia Ahmad Tessario.

Hadir pula pengamat mode sekaligus pendiri Indonesia Fashion Chamber Lisa Fitria yang membawakan materi terkait tren dan pengembangan bisnis fesyen. Kehadiran para praktisi dinilai penting karena peserta dapat belajar langsung dari pengalaman lapangan.

Luthfia memberikan pelatihan untuk sektor craft, furniture, dan jewelry, sekaligus memaparkan arah tren pasar pada 2026. Sementara itu, Stenly Hendi Avanda membahas distribusi, promosi, dan pengembangan produk sektor F&B, termasuk pemanfaatan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar.

Materi yang disampaikan para mentor diposisikan sebagai bekal praktis agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam bisnis sehari-hari. Pendekatan tersebut diharapkan mempercepat proses adaptasi UMK terhadap perubahan pasar.

Peserta Dapat Wawasan Baru

Peserta pelatihan, Novita Hermawan, owner Agrominafiber, mengatakan kegiatan ini membuka wawasan baru tentang tren desain global, manajemen bisnis, dan pemasaran digital. Ia menilai pelatihan tersebut membantu UMKM memahami kebutuhan pasar yang terus berubah.

Novita menyebut, penguatan kapasitas seperti ini penting agar produk UMKM memiliki daya saing yang lebih tinggi. Menurut dia, materi yang diterima sangat relevan untuk mendorong produk lokal masuk ke pasar yang lebih luas.

Dimita Agustin, pemilik Dara Baro, juga mengaku mendapat manfaat besar dari kelas fesyen yang diikutinya. Ia kini lebih memahami cara menghitung ongkos produksi secara efisien, serta membedakan katalog, lookbook, dan line sheet dalam pemasaran.

Sementara itu, ia menilai kelas tersebut bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga membuka peluang baru bagi pengembangan brand miliknya. Wawasan itu dinilai penting untuk memperkuat posisi merek di tengah persaingan yang semakin ketat.

Dorong Ekonomi Inklusif

Achmad Em, owner Kopi Kalimantan, mengatakan kelas tematik F&B memberinya pandangan baru soal strategi pengembangan brand, inovasi produk, dan pengelolaan sumber daya manusia. Ia percaya pengetahuan tersebut akan membantu meningkatkan daya saing produknya di pasar kopi yang makin kompetitif.

Menurutnya, pelaku usaha perlu terus beradaptasi agar tidak tertinggal oleh perubahan perilaku konsumen. Karena itu, pelatihan dengan materi praktis dianggap sangat membantu dalam merancang langkah bisnis yang lebih tepat.

Program UMK Academy 2025 disebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat industri kreatif dan mendorong kewirausahaan. Pertamina menilai inisiatif ini dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Melalui pelatihan tematik, Pertamina berharap pelaku UMK tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Upaya ini menjadi bagian dari dorongan jangka panjang agar sektor UMK semakin kuat dalam menopang ekonomi nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!