Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pisang Jadi Produk Ekspor

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 01:21 WIB 2
Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pisang Jadi Produk Ekspor

PT Pertamina (Persero) mendorong pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan menggandeng PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kolaborasi ini memanfaatkan limbah pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekonomi, sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi warga binaan.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menilai pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Program ini juga diarahkan agar pasokan bahan baku, kualitas produksi, dan manfaat sosial dapat berjalan seimbang.

Pertamina Dorong UMKM Berbasis Limbah

Komitmen Pertamina terhadap UMKM diwujudkan lewat skema pendampingan yang menghubungkan pelaku usaha dengan mitra sosial. Dalam program ini, Agrominafiber berkolaborasi dengan Rutan Kebumen untuk mengolah pelepah pisang menjadi serat yang memiliki nilai jual.

Novita menjelaskan bahwa serat pelepah pisang berpeluang besar dikembangkan sebagai bahan baku industri yang diminati pasar ekspor. Menurut dia, keterlibatan warga binaan dalam proses produksi memberi nilai tambah, karena mereka ikut masuk ke rantai usaha yang nyata.

Pendekatan ini sekaligus memperkuat konsep usaha berkelanjutan yang menekan limbah dan memaksimalkan sumber daya lokal. Dengan model tersebut, pengembangan UMKM tidak hanya berfokus pada omzet, tetapi juga pada dampak lingkungan dan sosial.

Produksi Serat Pelepah Pisang Meningkat

Setelah pelatihan perdana, Agrominafiber menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu. Pasokan awal itu menjadi dasar bagi warga binaan untuk mulai memproduksi serat pelepah pisang secara lebih terstruktur.

Perusahaan menargetkan sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku, dari total 15 ton, dipasok dari hasil produksi warga binaan. Adapun target produksi yang ditetapkan mencapai sekitar tiga ton per bulan.

Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan, sedangkan sisanya masih disempurnakan melalui pelatihan teknis. Tim Agrominafiber terus memberikan bimbingan langsung agar kualitas, kerapian produk, dan efisiensi kerja meningkat.

Pendampingan Pertamina Jaga Kualitas

Program tersebut ditinjau langsung oleh Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina yang datang ke Rutan Kebumen pada Senin, 26 Januari. Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai standar dan memiliki kesinambungan bisnis yang jelas.

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi antara Agrominafiber dan Rutan Kebumen merupakan langkah strategis untuk menjaga pasokan bahan baku. Ia menekankan bahwa hasil kolaborasi ini dapat terlihat relatif cepat apabila kualitas dan ketepatan waktu produksi terus dijaga.

Selama pendampingan, tim juga menerapkan prinsip zero waste dalam pengelolaan bahan baku. Fokus utama ke depan adalah menjaga mutu produk agar dapat diterima pasar secara lebih luas dan berkelanjutan.

Manfaat Sosial bagi Warga Binaan

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyebut respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Ia menilai perkembangan program sudah terlihat, meski usia pelaksanaannya belum genap satu bulan.

Pramu menegaskan bahwa keterlibatan Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada pelatihan semata. Menurut dia, keterampilan yang diperoleh warga binaan diharapkan dapat menjadi bekal saat kembali ke masyarakat.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia. Pertamina berharap model ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi yang kuat secara bisnis dan memberi dampak sosial berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!