Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pelepah Pisang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 08:33 WIB 6
Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pelepah Pisang

PT Pertamina (Persero) mendorong pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan menggandeng PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen. Kolaborasi ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. Program tersebut juga melibatkan warga binaan agar masuk ke rantai produksi yang nyata dan berorientasi pasar. Inisiatif ini ditinjau langsung pada Senin, 26 Januari, untuk memastikan pelaksanaannya berjalan sesuai standar.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, mengatakan pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Menurut dia, serat pelepah pisang juga diminati pasar ekspor karena dinilai punya nilai tambah. Perusahaan ingin warga binaan terlibat langsung dalam proses produksi yang produktif dan terukur. Skema ini diharapkan menjadi model pemberdayaan yang memberi manfaat ekonomi sekaligus sosial.

Pertamina dan UMKM Bina Rutan

Program Pertapreneur Aggregator Pertamina menjadi payung pembinaan bagi kerja sama Agrominafiber dengan Rutan Kebumen. Dalam skema ini, pendampingan tidak hanya menyasar produksi, tetapi juga keberlanjutan usaha dan dampak sosial. Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina datang langsung ke lokasi untuk memantau kesiapan program. Langkah itu dilakukan agar kolaborasi tetap sejalan dengan target bisnis dan pemberdayaan.

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menilai respons awal atas kerja sama tersebut cukup positif. Ia menyebut laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap satu bulan. Dari sisi mitra usaha, prospeknya juga dinilai menjanjikan karena memiliki nilai bisnis dan sosial. Menurut dia, kehadiran Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada tahap pelatihan.

Pramu berharap keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat menjadi bekal setelah mereka kembali ke masyarakat. Ia menilai program ini seharusnya memberi manfaat jangka panjang, bukan sekadar pengalaman sesaat. Dengan pembinaan yang tepat, warga binaan memiliki peluang untuk lebih siap bekerja dan berdaya saing. Pendekatan tersebut diharapkan memperkuat reintegrasi sosial secara lebih nyata.

Dalam praktiknya, Agrominafiber dan Rutan Kebumen menyesuaikan proses produksi agar warga binaan memahami standar industri. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan bahan hingga pengolahan serat yang siap dipasarkan. Program ini juga diarahkan agar memiliki nilai ekonomi yang dapat berputar kembali menjadi penguatan usaha. Dengan demikian, pembinaan berjalan selaras dengan kebutuhan pasar.

Serat Pisang Bernilai Ekonomi

Kolaborasi ini menjadikan pelepah pisang sebagai bahan baku utama untuk serat alami yang bernilai jual. Produk olahan tersebut diarahkan untuk mendukung industri kerajinan dan material berkelanjutan. Novita menegaskan potensi bahan ini cukup besar untuk dikembangkan secara komersial. Karena itu, pasar ekspor menjadi salah satu sasaran pengembangan berikutnya.

Setelah pelatihan perdana, Agrominafiber menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen dalam waktu satu minggu. Dari sisi pasokan, perusahaan menargetkan sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari hasil produksi warga binaan. Total kebutuhan bahan baku perusahaan mencapai 15 ton. Angka tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka lebar.

Target produksi warga binaan ditetapkan sekitar 3 ton per bulan. Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan, sedangkan sisanya masih disempurnakan. Proses perbaikan dilakukan pada teknik produksi dan kerapian hasil olahan. Upaya ini penting agar produk yang dihasilkan konsisten dan dapat diterima pasar.

Selama pendampingan, tim Agrominafiber memberi bimbingan langsung kepada warga binaan. Materi yang diberikan mencakup teknik produksi, peningkatan kerapian produk, dan pengelolaan bahan baku berbasis zero waste. Pendekatan itu dipilih untuk memastikan limbah dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan cara ini, proses produksi menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

Pertapreneur Dorong Pasokan

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen sangat strategis. Menurut dia, kerja sama ini berpotensi menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Hasilnya juga dinilai dapat terlihat relatif cepat dalam operasional usaha. Fokus berikutnya adalah memperkuat kualitas dan ketepatan waktu produksi.

Bima menyebut kolaborasi tersebut sebagai langkah yang potensial karena memiliki manfaat ganda. Di satu sisi, pasokan bahan baku perusahaan menjadi lebih terjaga. Di sisi lain, warga binaan memperoleh ruang belajar yang aplikatif dan bernilai ekonomi. Kombinasi itu dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia. Ia menegaskan Pertamina ingin memastikan pendampingan berjalan intensif selama enam bulan ke depan. Selama periode itu, perusahaan berharap model kolaborasi dapat terus disempurnakan. Tujuannya adalah membangun pola pembinaan yang bisa direplikasi di tempat lain.

Baron menambahkan, Pertamina ingin menghadirkan pengembangan UMKM berbasis agregasi yang kompetitif dan berdampak luas. Model seperti ini diharapkan tidak hanya kuat secara bisnis, tetapi juga memberi manfaat sosial yang berkelanjutan. Dengan begitu, program pemberdayaan dapat menghasilkan nilai ekonomi sekaligus nilai kemanusiaan. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem UMKM nasional.

Dampak Sosial dan Bisnis

Program ini memperlihatkan bagaimana pemberdayaan UMKM dapat berjalan bersama tujuan sosial. Warga binaan tidak hanya dilatih, tetapi juga dilibatkan dalam proses produksi yang terhubung dengan pasar. Kondisi tersebut memberi mereka pengalaman kerja yang lebih relevan. Pada saat yang sama, perusahaan memperoleh dukungan pasokan yang lebih terstruktur.

Pendekatan zero waste yang diterapkan dalam produksi juga memberi nilai tambah lingkungan. Limbah pelepah pisang yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Cara ini mendukung efisiensi bahan baku dan mengurangi sisa produksi. Keberlanjutan usaha pun dapat dibangun dari hulu ke hilir.

Pertamina menilai model ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi. Kolaborasi antara dunia usaha dan lembaga pemasyarakatan dinilai mampu menciptakan dampak yang lebih luas. Program semacam ini juga membuka peluang transfer keterampilan secara langsung. Dengan demikian, pemberdayaan tidak berhenti pada pelatihan teoritis.

Ke depan, keberhasilan program akan bergantung pada konsistensi kualitas, pasokan, dan pendampingan. Jika target produksi tercapai, kerja sama ini berpotensi memberi manfaat ekonomi yang lebih besar. Selain itu, warga binaan memiliki bekal yang dapat digunakan setelah bebas. Sinergi tersebut menjadi contoh bahwa bisnis dan tanggung jawab sosial dapat berjalan seiring.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!