PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmen pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan mendorong kolaborasi antara UMKM binaan PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kerja sama ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
Program tersebut telah mulai berjalan dan mendapat perhatian karena tidak hanya menyasar penguatan usaha, tetapi juga melibatkan warga binaan dalam rantai produksi nyata. Pertamina menilai model ini berpotensi menjadi contoh pengembangan UMKM yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berdampak sosial.
Kolaborasi UMKM Berkelanjutan
Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menyebut pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri. Menurut dia, serat dari pelepah pisang dapat dikembangkan untuk kebutuhan kerajinan dan material berkelanjutan yang diminati pasar ekspor.
Agrominafiber melihat kolaborasi dengan Rutan Kebumen sebagai langkah untuk memperluas dampak usaha sekaligus membuka ruang pembinaan keterampilan. Dalam skema ini, warga binaan dilibatkan langsung dalam proses produksi yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Novita menegaskan, pendekatan tersebut bukan hanya soal pasokan bahan baku, tetapi juga pemberdayaan manusia melalui pekerjaan yang produktif. Ia menilai keterlibatan warga binaan dapat memberi pengalaman kerja yang relevan dan terukur.
Kerja sama ini juga sejalan dengan prinsip bisnis berkelanjutan yang mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai. Dengan demikian, pengolahan pelepah pisang tidak lagi dipandang sebagai aktivitas sampingan, melainkan bagian dari rantai industri yang potensial.
Pelatihan dan Pendampingan
Setelah pelatihan perdana, Agrominafiber menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen dalam waktu satu minggu. Pasokan tersebut menjadi langkah awal untuk menguji kesiapan produksi warga binaan.
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, mengatakan respons awal terhadap program ini cukup positif. Ia menyebut perkembangan di lapangan menunjukkan prospek yang menjanjikan, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial.
Pramu menilai kehadiran pendampingan dari Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada pelatihan semata. Menurut dia, bekal keterampilan ini diharapkan dapat dimanfaatkan warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
Selama proses pendampingan, tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung pada teknik produksi, kerapian produk, dan pengelolaan bahan baku berbasis prinsip zero waste. Pendekatan itu diharapkan membentuk pola kerja yang lebih efisien dan disiplin.
Target Produksi UMKM
Dari hasil pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Saat ini, sekitar 60 persen produk dinilai sudah memenuhi standar perusahaan.
Adapun sisanya masih dalam tahap penyempurnaan teknik agar kualitasnya lebih merata. Perusahaan menargetkan produksi sekitar tiga ton per bulan dari fasilitas pembinaan di Rutan Kebumen.
Di sisi pasokan, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku Agrominafiber yang mencapai 15 ton direncanakan berasal dari produksi warga binaan. Skema ini menunjukkan peluang kerja sama yang tidak hanya berorientasi pelatihan, tetapi juga kesinambungan bisnis.
Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi tersebut sangat potensial karena hasilnya dapat terlihat relatif cepat. Menurut dia, fokus pendampingan berikutnya adalah menjaga kualitas dan ketepatan waktu produksi.
Dampak Sosial Pertamina
Program ini ditinjau langsung oleh Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina pada Senin, 26 Januari, di Rutan Kebumen. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai standar dan memiliki keberlanjutan yang jelas.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan kerja sama ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia. Ia menegaskan Pertamina mendorong model kolaborasi yang menggabungkan aspek bisnis dan manfaat sosial.
Melalui pendampingan intensif selama enam bulan ke depan, Pertamina berharap model ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi. Baron menyebut program tersebut diharapkan mampu menghadirkan daya saing usaha sekaligus dampak sosial yang nyata.
Pramu Sapta menambahkan, program ini diharapkan menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan, baik selama menjalani masa pidana maupun setelah kembali ke masyarakat. Dengan demikian, manfaat yang dihasilkan tidak berhenti di dalam lembaga pemasyarakatan saja.
