Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas di Inacraft 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 13:34 WIB 2
Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas di Inacraft 2025

PT Pertamina (Persero) mencatat kenaikan omzet hampir 62 persen dari partisipasi 32 UMKM binaannya di Inacraft 2025 yang digelar selama lima hari pada 5 Oktober. Pencapaian itu menunjukkan produk UMKM binaan Pertamina semakin kuat di pasar, baik dari sisi kualitas, daya saing, maupun daya tarik bagi pembeli domestik dan mancanegara.

Para pelaku usaha berasal dari beragam sektor, mulai dari wastra, kriya, fesyen, kuliner, hingga co-branding. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menyebut peningkatan omzet tersebut menjadi bukti bahwa pendampingan usaha dan promosi yang diberikan perseroan berjalan efektif.

UMKM Binaan Pertamina Makin Kompetitif

Kenaikan omzet hampir 62 persen menjadi salah satu sorotan utama dari keikutsertaan UMKM binaan Pertamina di pameran tersebut. Hasil itu memperlihatkan bahwa produk pelaku usaha kecil mampu bersaing di ajang nasional yang mempertemukan pembeli, kurator, dan pelaku industri kreatif.

Fadjar menegaskan bahwa dukungan Pertamina tidak berhenti pada promosi semata. Perusahaan juga mendorong penguatan kapasitas usaha agar para pelaku UMKM siap menghadapi pasar yang lebih luas.

Menurut Pertamina, penguatan kapasitas penting agar UMKM tidak hanya mampu menjual produk, tetapi juga menjaga konsistensi produksi, kualitas, dan kemasan. Langkah itu dinilai menjadi fondasi utama untuk menembus pasar nasional hingga global.

Partisipasi dalam Inacraft 2025 juga memberi ruang bagi UMKM untuk berjejaring dengan calon pembeli, mitra bisnis, dan pemangku kepentingan lain. Momentum tersebut menunjukkan bahwa pameran masih menjadi kanal efektif untuk memperluas pasar produk lokal.

Batik Mata Andau Menarik Perhatian

Salah satu peserta yang mencuri perhatian pengunjung adalah Batik Mata Andau asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Usaha rumahan ini dirintis oleh Yoga Rustaman bersama istrinya sejak 2017 dengan misi mengenalkan batik khas Dayak ke masyarakat luas.

Dalam perjalanannya, Batik Mata Andau melibatkan 20 pengrajin, sebagian besar perempuan berusia di atas 50 tahun. Kolaborasi itu tidak hanya menciptakan produk bernilai jual, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan ruang ekonomi.

Selama pameran, Batik Mata Andau berhasil menjual lebih dari 800 outer bermotif Dayak dalam hitungan hari. Produk mereka bahkan diminati pembeli dari Korea, Jepang, hingga Turki, yang menunjukkan daya tarik budaya lokal di pasar internasional.

Keberhasilan itu juga mendapat pengakuan dari sejumlah tokoh nasional yang hadir di lokasi. Selain itu, salah satu BUMN transportasi mempercayakan produksi seragam bernuansa budaya Nusantara kepada usaha tersebut.

Inovasi Batik Ramah Lingkungan

Kisah lain datang dari Smart Batik Yogyakarta yang memperkenalkan Batik Sawit sebagai inovasi ramah lingkungan. Produk ini memadukan kearifan lokal dengan pendekatan teknologi hijau yang semakin relevan dalam industri kreatif.

Founder Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan, mengatakan pameran pertama mereka bersama Pertamina memberi banyak peluang baru. Ia menilai ajang tersebut membuka akses relasi dan potensi kolaborasi yang sebelumnya belum terjangkau.

Smart Batik juga mencatat perhatian khusus dari berbagai pihak, termasuk Duta Besar RI untuk Meksiko, Toferry Primanda Soetikno. Respons itu memperkuat peluang promosi batik inovatif sebagai produk yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai bisnis.

Saat ini Smart Batik memberdayakan 65 ibu-ibu pembatik di Yogyakarta. Model pemberdayaan ini menunjukkan bahwa industri batik masih memiliki peran penting dalam menciptakan pendapatan sekaligus menjaga tradisi.

Dukungan UMKM Sejalan Asta Cita

Partisipasi 32 UMKM binaan Pertamina terbagi ke beberapa kategori sesuai bidang usaha masing-masing. Sebanyak 18 UMKM sektor wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A, enam UMKM kuliner unggulan di Talam Hall B, serta tujuh UMKM co-branding berpartisipasi secara mandiri.

Pemetaan tersebut memperlihatkan luasnya ekosistem UMKM yang dibina perusahaan energi pelat merah itu. Ragam produk yang dibawa ke pameran memberi gambaran bahwa UMKM Indonesia memiliki potensi besar di berbagai segmen pasar.

Pertamina menyebut dukungan kepada UMKM sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran poin ketiga. Poin itu menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan industri kreatif, dan pertumbuhan kewirausahaan melalui pelatihan serta akses permodalan.

Fadjar menambahkan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari transaksi penjualan. Menurut dia, dampak sosial dan budaya yang dihasilkan juga menjadi tolok ukur penting dalam menilai keberlanjutan usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!