Pertamina Dorong UMKM Lewat Olahan Pelepah Pisang

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 13:30 WIB 6
Pertamina Dorong UMKM Lewat Olahan Pelepah Pisang

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmen pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan mendorong kolaborasi antara UMKM binaan PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Program ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan. Inisiatif tersebut mulai berjalan dengan dukungan pelatihan, pendampingan, dan penyaluran bahan baku bagi warga binaan. Model kerja sama ini diproyeksikan memberi manfaat bisnis, sosial, dan keberlanjutan dalam satu ekosistem produksi.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menilai pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Menurut dia, produk tersebut juga memiliki daya tarik di pasar ekspor karena karakteristiknya yang alami dan fungsional. Perusahaan kini menggandeng warga binaan agar terlibat langsung dalam rantai produksi yang nyata dan bernilai. Pendekatan ini diharapkan membuka peluang usaha yang lebih luas sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi lokal.

UMKM Pertamina di Kebumen

Kolaborasi Agrominafiber dan Rutan Kebumen menjadi salah satu praktik nyata Program Pertapreneur Aggregator Pertamina. Program ini dirancang untuk menghubungkan UMKM binaan dengan mitra yang memiliki kebutuhan bahan baku dan potensi pasar yang jelas. Dalam kerja sama tersebut, pelepah pisang diolah menjadi serat alami yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri. Skema ini sekaligus menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diubah menjadi produk bernilai tambah.

Agrominafiber telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu setelah pelatihan perdana. Penyaluran tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan proses produksi dapat berjalan secara konsisten. Ke depan, perusahaan menargetkan sekitar 30 persen dari kebutuhan bahan baku sebesar 15 ton dapat dipasok dari hasil produksi warga binaan. Target itu menegaskan adanya peluang integrasi produksi yang berkelanjutan.

Direktur Novita menyebut pelepah pisang memiliki prospek besar sebagai bahan baku industri yang berorientasi pada pasar berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pelibatan warga binaan bukan hanya soal pelatihan, tetapi juga soal partisipasi dalam rantai nilai yang sesungguhnya. Dengan cara itu, hasil kerja warga binaan memiliki standar mutu dan peluang penyerapan yang lebih jelas. Model ini dipandang relevan untuk mendukung pertumbuhan UMKM berbasis agregasi.

Pendampingan Produksi Berkelanjutan

Program kolaborasi ini ditinjau langsung oleh Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina yang berkunjung ke Rutan Kebumen pada Senin, 26 Januari. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai standar dan memiliki kesinambungan jangka panjang. Evaluasi juga diarahkan agar program tidak berhenti pada tahap pelatihan semata. Dengan pengawasan itu, Pertamina ingin memastikan manfaat bisnis dan sosial dapat berjalan beriringan.

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyampaikan respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Ia menilai laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap satu bulan berjalan. Dari sisi mitra usaha, prospeknya juga dinilai menjanjikan karena memiliki dampak bisnis dan sosial yang seimbang. Menurut dia, hal ini menjadi sinyal kuat bahwa program layak dilanjutkan.

Pramu menambahkan, kehadiran Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina memperkuat arah program agar lebih terukur. Ia berharap keterampilan yang diperoleh warga binaan tidak hanya berguna selama menjalani masa pidana. Keterampilan itu juga diharapkan bermanfaat ketika mereka kembali ke masyarakat. Dengan begitu, program dapat menjadi bekal produktif yang berkelanjutan.

Kualitas dan Target Produksi

Dari hasil pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan untuk mendukung kebutuhan kerja sama dengan Agrominafiber. Saat ini, sekitar 60 persen produk sudah memenuhi standar kualitas perusahaan. Sisanya masih dalam tahap penyempurnaan teknik produksi.

Selama proses pendampingan, tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung kepada warga binaan. Pendampingan mencakup teknik produksi, peningkatan kerapian produk, serta pengelolaan bahan baku berbasis prinsip zero waste. Pendekatan tersebut membantu peserta memahami standar kerja industri yang lebih disiplin. Langkah ini juga penting untuk menjaga efisiensi dan kualitas hasil akhir.

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen sebagai langkah strategis dalam menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Ia mengatakan kolaborasi tersebut memiliki potensi besar karena dampaknya dapat terlihat relatif cepat. Fokus pendampingan berikutnya diarahkan pada kualitas dan ketepatan waktu produksi. Menurut dia, dua hal itu menjadi kunci agar program dapat berkembang secara konsisten.

Dampak Sosial dan Bisnis

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini lahir dari sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam skema Pertapreneur Aggregator. Ia menyebut pendampingan intensif akan terus diberikan selama enam bulan ke depan. Pertamina berharap model kolaborasi tersebut dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi. Pola ini dinilai mampu menggabungkan kebutuhan bisnis dengan tujuan sosial secara seimbang.

Baron menegaskan, Pertamina ingin mendorong UMKM agar tidak hanya berdaya saing secara bisnis, tetapi juga memberi dampak sosial yang nyata. Dalam konteks ini, keterlibatan warga binaan menjadi bagian dari upaya pemberdayaan yang lebih inklusif. Program tersebut juga menunjukkan bahwa sektor usaha dapat berperan dalam pembinaan dan reintegrasi sosial. Dengan dukungan yang tepat, model serupa berpeluang direplikasi di wilayah lain.

Melalui pengolahan pelepah pisang, program ini menghadirkan rantai nilai yang memanfaatkan limbah sebagai sumber ekonomi baru. Di sisi lain, warga binaan memperoleh keterampilan yang dapat dipakai untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah bebas. Bagi Pertamina, inisiatif ini memperkuat posisi perusahaan sebagai penggerak ekosistem UMKM berkelanjutan. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa bisnis dan dampak sosial dapat tumbuh bersama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!