Pertamina Dorong UMKM Lewat Olah Limbah Pelepah Pisang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 10:00 WIB 2
Pertamina Dorong UMKM Lewat Olah Limbah Pelepah Pisang

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui Program Pertapreneur Aggregator. Salah satu wujudnya terlihat dari kolaborasi UMKM binaan Pertamina, PT Agrominafiber Java Indonesia, dengan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen.

Kerja sama ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. Program tersebut dinilai membuka peluang usaha baru, sekaligus memberi keterampilan produktif bagi warga binaan.

Kolaborasi UMKM Pertamina

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menyebut pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri. Menurut dia, serat dari bahan tersebut dapat dikembangkan untuk kebutuhan kerajinan dan material berkelanjutan.

Novita menegaskan, pasar ekspor mulai melirik produk berbasis serat alami karena dinilai lebih ramah lingkungan. Karena itu, keterlibatan warga binaan dalam rantai produksi menjadi bagian penting dari pengembangan usaha.

Ia menambahkan, pelibatan warga binaan tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan produksi. Program ini juga dirancang agar mereka memperoleh pengalaman kerja yang nyata dan bernilai ekonomi.

Dengan model tersebut, UMKM dapat memperoleh pasokan bahan baku yang lebih terjaga. Di sisi lain, lembaga pemasyarakatan memiliki ruang pembinaan yang lebih produktif dan terukur.

Produksi Serat Bernilai Ekonomi

Setelah pelatihan perdana, Agrominafiber menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam satu minggu. Penyaluran itu menunjukkan proses awal program telah berjalan cepat dan terukur.

Ke depan, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton direncanakan dipasok dari hasil produksi warga binaan. Skema ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan pasokan sekaligus membuka peluang peningkatan kapasitas produksi.

Dari hasil pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan.

Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan. Sisanya masih dalam tahap penyempurnaan teknik agar dapat mencapai mutu yang sama.

Pendampingan Teknis Berlanjut

Selama proses pendampingan, tim Agrominafiber memberi bimbingan langsung kepada warga binaan. Materi yang diberikan mencakup teknik produksi, kerapian hasil, serta pengelolaan bahan baku.

Pendekatan tersebut juga diarahkan pada prinsip zero waste agar limbah dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan cara itu, proses produksi menjadi lebih efisien dan selaras dengan praktik usaha berkelanjutan.

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menilai respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Ia mengatakan, laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap satu bulan.

Pramu berharap pelatihan ini tidak berhenti pada fase pembekalan semata. Menurut dia, keterampilan yang diperoleh harus menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat.

Dukungan Pertamina Berkelanjutan

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen merupakan langkah strategis. Ia menilai kolaborasi tersebut berpotensi menjaga kesinambungan pasokan bahan baku sekaligus memberi hasil yang relatif cepat.

Menurut Bima, fokus pendampingan ke depan adalah peningkatan kualitas dan ketepatan waktu produksi. Dua aspek itu dinilai penting agar kerja sama dapat berkembang menjadi model usaha yang kuat dan berdaya saing.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia. Ia menyebut Pertapreneur Aggregator dirancang untuk mendorong UMKM naik kelas melalui pendampingan intensif.

Melalui pendampingan selama enam bulan ke depan, Pertamina berharap model kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi. Program tersebut diharapkan tidak hanya kuat secara bisnis, tetapi juga memberi dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!