Pertamina Dorong UMKM Kebumen Olah Limbah Pisang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 08:54 WIB 2
Pertamina Dorong UMKM Kebumen Olah Limbah Pisang

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmen pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator (PAG) dengan mendorong kolaborasi antara UMKM binaan, PT Agrominafiber Java Indonesia, dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen. Kerja sama ini memanfaatkan pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan memiliki peluang pasar ekspor. Program tersebut juga melibatkan warga binaan agar memperoleh keterampilan produksi yang aplikatif dan berkelanjutan. Inisiatif ini ditinjau langsung pada Senin, 26 Januari, sebagai bagian dari pengawalan program agar tetap sesuai standar bisnis dan dampak sosial.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menyebut pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Menurut dia, produk berbasis serat pelepah pisang diminati pasar yang menaruh perhatian pada material ramah lingkungan. Dalam kerja sama ini, warga binaan dilibatkan langsung dalam rantai produksi agar memiliki pengalaman kerja yang nyata. Agrominafiber juga melihat peluang agar pasokan bahan baku dapat ditopang dari produksi dalam program tersebut.

UMKM dan Limbah Pisang

Kolaborasi Agrominafiber dan Rutan Kebumen berangkat dari pengolahan limbah pelepah pisang yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Bahan tersebut kini diolah menjadi serat alami yang dapat digunakan untuk kebutuhan industri kerajinan dan material berkelanjutan. Pendekatan ini menempatkan limbah sebagai sumber nilai tambah, bukan sekadar sisa produksi. Model usaha seperti ini dinilai relevan dengan arah pengembangan UMKM yang berbasis inovasi dan keberlanjutan.

Novita menegaskan bahwa keterlibatan warga binaan menjadi bagian penting dari proses produksi. Ia menilai pengalaman tersebut dapat membuka akses keterampilan yang lebih luas dan bernilai ekonomi. Selain melatih ketekunan, program ini juga mengajarkan standar kerja yang dibutuhkan industri. Dengan demikian, hasil pelatihan tidak berhenti pada teori, tetapi terhubung ke kebutuhan pasar yang sesungguhnya.

Pemanfaatan pelepah pisang juga sejalan dengan prinsip zero waste yang diterapkan dalam proses pendampingan. Seluruh tahapan diarahkan agar bahan baku dapat dimanfaatkan secara efisien dan minim sisa. Agrominafiber memberi bimbingan mulai dari teknik produksi hingga kerapian hasil akhir. Pola ini diharapkan memperkuat daya saing UMKM binaan dalam jangka panjang.

Pendampingan Produksi Berjalan

Setelah pelatihan perdana, Agrominafiber menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu. Capaian tersebut menunjukkan bahwa proses produksi sudah mulai berjalan dan memberi respons awal yang positif. Ke depan, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton direncanakan dipasok dari hasil produksi warga binaan. Target itu menjadi indikator bahwa kolaborasi ini memiliki prospek bisnis yang cukup kuat.

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyampaikan bahwa perkembangan program terlihat baik meski belum genap satu bulan. Menurut dia, pihak mitra usaha juga menilai prospek kerja sama ini menjanjikan dari sisi bisnis maupun dampak sosial. Keterlibatan Pertamina melalui asesor dinilai penting untuk menjaga arah program agar tidak berhenti pada tahap pelatihan. Dengan begitu, program memiliki peluang menjadi bekal keterampilan yang berguna setelah warga binaan kembali ke masyarakat.

Dari hasil pendampingan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Saat ini, sekitar 60 persen produk sudah memenuhi standar kualitas perusahaan, sedangkan sisanya masih disempurnakan. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan untuk menjaga kesinambungan pasokan. Tim pendamping juga terus memperbaiki teknik agar hasil kerja semakin rapi dan konsisten.

Target Pasokan dan Kualitas

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku. Ia menyebut kolaborasi ini sangat potensial karena hasilnya dapat terlihat relatif cepat. Menurut dia, fokus pendampingan berikutnya adalah kualitas dan ketepatan waktu produksi. Dua aspek itu dinilai penting agar model usaha dapat tumbuh secara sehat dan kompetitif.

Bima menegaskan bahwa program ini bukan hanya soal produksi, melainkan juga pembentukan sistem yang tertib dan berkelanjutan. Pendampingan yang dilakukan mencakup penguatan alur kerja, efisiensi bahan baku, hingga pengendalian mutu. Jika kualitas terjaga, peluang pasar untuk produk serat pelepah pisang akan semakin terbuka. Hal itu sekaligus memperkuat posisi UMKM binaan dalam rantai pasok yang lebih luas.

Rencana pasokan sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku perusahaan menjadi salah satu target yang ingin diwujudkan dalam tahap lanjutan. Target itu menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kemampuan produksi warga binaan yang terus berkembang. Di sisi lain, pola kerja ini memberi nilai tambah sosial karena membuka ruang produktif di dalam lembaga pemasyarakatan. Program seperti ini diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan usaha yang berorientasi pada hasil dan manfaat sosial.

Pertamina Dorong Dampak Sosial

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam skema Pertapreneur Aggregator. Ia menjelaskan bahwa Pertamina menargetkan model kolaborasi seperti ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi. Program tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan daya saing bisnis, tetapi juga pada penciptaan dampak sosial yang nyata. Dengan pendekatan itu, pengembangan usaha dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat.

Baron menambahkan bahwa pendampingan intensif akan dilakukan selama enam bulan ke depan. Selama periode itu, Pertamina berharap standar produksi, kualitas produk, dan keberlanjutan pasokan bisa semakin kuat. Ia menilai kerja sama lintas pihak menjadi modal penting untuk membangun ekosistem UMKM yang lebih tangguh. Model ini juga diharapkan dapat direplikasi pada daerah atau sektor lain yang memiliki potensi serupa.

Program Pertapreneur Aggregator menjadi salah satu wujud komitmen Pertamina dalam mendukung usaha kecil agar naik kelas. Melalui kolaborasi ini, limbah pelepah pisang tidak lagi dipandang sebagai sisa tak bernilai, melainkan bahan baku industri yang menjanjikan. Keterlibatan warga binaan juga menunjukkan bahwa pengembangan UMKM dapat membawa manfaat ekonomi dan sosial sekaligus. Jika konsisten, inisiatif ini berpotensi menjadi contoh praktik bisnis berkelanjutan di Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!