PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan menggandeng PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kolaborasi ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
Inisiatif tersebut tidak hanya menyasar penguatan bisnis, tetapi juga membuka ruang keterampilan bagi warga binaan agar terlibat langsung dalam rantai produksi. Dukungan Pertamina, penguatan pasokan bahan baku, serta pendampingan teknis menjadi kunci agar program ini berkelanjutan dan memberi dampak sosial yang nyata.
UMKM Pertamina di Kebumen
Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menilai pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri. Menurut dia, serat dari pelepah pisang dapat dikembangkan untuk kebutuhan kerajinan dan material berkelanjutan. Produk tersebut juga dinilai memiliki peluang di pasar ekspor karena karakter bahannya yang ramah lingkungan.
Novita mengatakan keterlibatan warga binaan menjadi bagian penting dalam rantai produksi yang nyata dan bernilai. Melalui pelatihan ini, proses produksi tidak hanya berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga menghasilkan produk yang bisa dipasarkan. Skema tersebut diharapkan memberi manfaat ekonomi bagi perusahaan dan pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Setelah pelatihan perdana, Agrominafiber menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu. Ke depan, perusahaan menargetkan sekitar 30 persen dari kebutuhan bahan baku sebesar 15 ton dipasok dari hasil produksi warga binaan. Target tersebut menunjukkan adanya ruang pertumbuhan yang cukup besar dalam kolaborasi ini.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya Pertamina mendorong model pembinaan UMKM yang berbasis agregasi. Pendekatan tersebut menghubungkan pelaku usaha, lembaga pembinaan, dan mitra bisnis dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan di sisi produksi, tetapi juga pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Pendampingan Produksi Serat
Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina meninjau langsung pelaksanaan program di Rutan Kebumen pada Senin, 26 Januari. Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai standar dan tetap berorientasi pada keberlanjutan. Evaluasi lapangan juga menjadi bagian penting agar manfaat bisnis dan sosial dapat berjalan seimbang.
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyampaikan respons awal terhadap kerja sama tersebut cukup positif. Ia menilai laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap sebulan berjalan. Dari sisi mitra usaha, prospek kolaborasi ini juga dianggap menjanjikan secara bisnis maupun dampak sosial.
Menurut Pramu, kehadiran asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada pelatihan semata. Ia berharap keterampilan yang diberikan dapat menjadi bekal bagi warga binaan selama menjalani masa pidana maupun setelah kembali ke masyarakat. Dengan begitu, program ini memiliki nilai keberlanjutan yang lebih luas.
Dalam proses pendampingan, tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung mulai dari teknik produksi hingga pengelolaan bahan baku berbasis prinsip zero waste. Pendekatan tersebut diarahkan agar hasil produksi lebih rapi, efisien, dan sesuai kebutuhan industri. Selain itu, penerapan prinsip zero waste membantu memaksimalkan penggunaan limbah pelepah pisang sebagai bahan bernilai tambah.
Target Kualitas dan Pasokan
Dari hasil pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan untuk memenuhi kebutuhan kerja sama yang sedang dibangun. Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan.
Namun, sebagian produk masih berada dalam tahap penyempurnaan teknik agar hasilnya lebih konsisten. Fokus perbaikan diarahkan pada kerapian, ketepatan proses, dan mutu akhir produk. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, kualitas diharapkan semakin mendekati standar industri.
Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen sangat potensial. Ia menilai hasil kolaborasi bisa terlihat relatif cepat karena produk yang dihasilkan langsung masuk ke rantai pasok perusahaan. Menurut dia, fokus pendampingan ke depan adalah kualitas dan ketepatan waktu produksi.
Bima menambahkan, kolaborasi seperti ini dapat menjadi contoh penguatan pasokan bahan baku yang sekaligus menciptakan dampak sosial. Dalam skema ini, warga binaan memperoleh keterampilan, sementara perusahaan mendapatkan dukungan produksi yang lebih stabil. Model tersebut dinilai relevan untuk dikembangkan pada sektor UMKM berbasis agregasi.
Sinergi Berkelanjutan Pertamina
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia. Ia menegaskan bahwa Pertapreneur Aggregator dirancang untuk mendorong UMKM naik kelas melalui pendampingan yang terukur. Kolaborasi ini juga diarahkan agar memberi dampak sosial yang dapat dirasakan lebih luas.
Menurut Baron, pendampingan intensif akan terus dilakukan selama enam bulan ke depan. Masa pendampingan tersebut diharapkan mampu menguatkan proses produksi, kualitas produk, dan kesiapan pasar. Dengan dukungan itu, model bisnis yang dibangun dapat berjalan lebih konsisten dan berdaya saing.
Pertamina berharap skema kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM yang tidak hanya kuat secara usaha, tetapi juga memberi manfaat bagi kelompok rentan. Kehadiran warga binaan dalam rantai produksi menunjukkan bahwa pembinaan dapat berjalan seiring dengan penciptaan nilai ekonomi. Pola seperti ini dinilai relevan untuk direplikasi di daerah lain.
Baron menegaskan, arah utama program adalah keberlanjutan, baik dari sisi bisnis maupun sosial. Karena itu, Pertamina akan terus mendorong sinergi yang menghadirkan peluang kerja, keterampilan, dan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah. Dengan langkah tersebut, UMKM binaan diharapkan mampu tumbuh lebih kuat dan kompetitif.
Dampak Sosial UMKM Binaan
Kolaborasi Agrominafiber dan Rutan Kebumen memperlihatkan bahwa pemberdayaan UMKM dapat berjalan beriringan dengan pembinaan warga binaan. Pelepah pisang yang semula dianggap limbah kini berubah menjadi bahan baku bernilai ekonomi. Transformasi ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat memberi dampak yang luas.
Program tersebut juga memperlihatkan pentingnya pendampingan teknis yang berkelanjutan dalam membangun kualitas produk. Tanpa pembinaan yang konsisten, target produksi dan standar mutu akan sulit dicapai. Karena itu, sinergi antara perusahaan, lembaga pembinaan, dan Pertamina menjadi faktor penentu keberhasilan.
Bagi warga binaan, keterlibatan dalam produksi memberi kesempatan untuk belajar disiplin kerja dan keterampilan baru. Bekal itu diharapkan menjadi modal saat mereka kembali ke masyarakat setelah menjalani masa pidana. Dengan demikian, program ini tidak hanya menciptakan nilai bisnis, tetapi juga membuka jalan reintegrasi sosial.
Di sisi lain, kebutuhan perusahaan terhadap bahan baku yang stabil dapat dipenuhi melalui pola kemitraan yang lebih terstruktur. Jika target pasokan dan kualitas tercapai, kolaborasi ini berpotensi menjadi model usaha sosial yang berkelanjutan. Pertamina pun menempatkan program ini sebagai bagian dari upaya mendorong UMKM naik kelas melalui pendekatan yang inklusif.
