Peneliti BRIN Ungkap Kebutuhan Energi BTS Berbeda Tiap Daerah

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 01:56 WIB 2
Peneliti BRIN Ungkap Kebutuhan Energi BTS Berbeda Tiap Daerah

Perbedaan kebutuhan Base Transceiver Station atau BTS di Pulau Jawa dan wilayah lain menjadi sorotan dalam kajian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional. Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menjelaskan bahwa kebutuhan energi jaringan seluler sangat ditentukan oleh karakter wilayah, target pasar, dan jenis layanan yang dipasang.

Pemaparan itu disampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026. Menurut Dr Mardi, penerapan BTS tidak bisa disamakan antardaerah karena setiap lokasi memiliki kebutuhan cakupan yang berbeda.

Kebutuhan energi BTS

Dr Mardi menjelaskan bahwa konsumsi energi BTS sangat tinggi karena perangkat ini harus menjangkau wilayah layanan secara luas. Ia mencontohkan beban operasional energi pada operator telekomunikasi yang pada 2023 hampir mencapai 90 persen dari total konsumsi tahunan Telkomsel.

Kondisi itu diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan jaringan seluler di Indonesia. Menurutnya, implementasi 4G masih akan bertambah, sementara penerapan 5G masih terbatas di banyak daerah.

Ia menegaskan bahwa operator harus menyesuaikan konfigurasi BTS dengan kebutuhan pasar yang dibidik. Penyesuaian itu juga harus mempertimbangkan kontur wilayah agar jaringan tetap efektif dan efisien.

Jika penyesuaian tersebut tidak dilakukan, konsumsi energi berisiko menjadi jauh lebih tinggi. Karena itu, desain jaringan perlu disusun berdasarkan kondisi lapangan, bukan sekadar mengikuti pola umum.

Variasi tipe BTS

Dalam penelitiannya, Dr Mardi mengolah data dari salah satu operator di Indonesia yang mencakup sekitar 8.500 site BTS. Data itu tersebar di 20 kabupaten dan kota pada tiga provinsi, yakni Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Setiap titik sampel memiliki jenis site yang berbeda, mulai dari Pico, Mikro, Indoor Base Station atau IBS, Makro, hingga Makro Hub. Dari seluruh sampel tersebut, hampir 78 persen di antaranya merupakan site makro.

Komposisi itu menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur jaringan di tiap lokasi tidak selalu sama. Pemilihan tipe BTS bergantung pada kebutuhan cakupan, kepadatan pengguna, dan karakter wilayah layanan.

Menurut Dr Mardi, perhitungan energi akan meleset jika proporsi site tidak disesuaikan dengan kondisi nyata. Ia menilai perbedaan antara wilayah padat seperti Jakarta dan daerah lain sangat memengaruhi model kebutuhan jaringan.

Faktor sosial ekonomi

Dr Mardi menekankan bahwa profil masyarakat di berbagai daerah juga ikut menentukan kebutuhan jaringan telekomunikasi. Ia menyebut kondisi sosial ekonomi di Kalimantan, Papua, dan Jakarta memiliki karakter yang sangat berbeda.

Karena itu, pemodelan energi BTS tidak bisa dibuat dengan pendekatan seragam. Tanpa penyesuaian terhadap sosioekonomi daerah, hasil analisis tidak akan menggambarkan kondisi Indonesia secara realistis.

Untuk validasi penelitiannya, ia menggunakan tiga faktor utama, yaitu population density, development index, dan digital society index. Ketiga indikator tersebut dipakai untuk melihat hubungan antara kebutuhan jaringan dan karakter masyarakat di wilayah tertentu.

Dengan pendekatan itu, BRIN berupaya memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kebutuhan energi jaringan seluler. Hasil kajian tersebut juga diharapkan membantu operator menyusun strategi pembangunan infrastruktur yang lebih tepat sasaran.

Implikasi bagi operator

Temuan BRIN memberi sinyal bahwa efisiensi energi jaringan telekomunikasi perlu dirancang sejak tahap perencanaan. Operator tidak hanya dituntut memperluas jangkauan, tetapi juga menjaga agar konsumsi energi tetap terkendali.

Hal itu menjadi semakin penting ketika trafik data terus meningkat dan permintaan layanan digital semakin besar. Di sisi lain, setiap wilayah memiliki tantangan berbeda, mulai dari kepadatan penduduk hingga kondisi geografis yang sulit.

Dr Mardi menilai pendekatan berbasis data akan membantu operator memilih tipe BTS yang paling sesuai. Dengan begitu, pembangunan jaringan dapat lebih adaptif terhadap kebutuhan lokal tanpa mengorbankan efisiensi energi.

Ia menutup paparannya dengan penekanan bahwa kebutuhan BTS di Pulau Jawa tidak bisa dijadikan patokan untuk seluruh Indonesia. Menurutnya, perbedaan karakter wilayah harus selalu menjadi dasar utama dalam perhitungan energi telekomunikasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!