Peluang bisnis laundry dinilai masih terbuka lebar pada 2026 karena kebutuhan mencuci pakaian tidak pernah hilang. CEO Apique Group, Apik Primadya, menilai perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengutamakan kepraktisan menjadi pendorong utama. Kondisi itu membuat layanan laundry tetap relevan, terutama di kota besar yang masyarakatnya sibuk.
Apik menyebut, selama manusia masih memakai baju, bisnis laundry akan terus dibutuhkan. Menurut dia, pasar ini bukan hanya bertahan, tetapi juga berpeluang berkembang lewat model layanan yang lebih modern. Ia menegaskan, peluang tersebut semakin kuat jika pelaku usaha mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen.
Tren laundry makin digital
Apik menjelaskan bahwa tren laundry pada 2026 akan bergerak ke sistem digital dan online. Layanan penjemputan dan pengantaran menjadi salah satu bentuk yang paling mungkin diminati konsumen. Skema ini dinilai cocok untuk pelanggan yang mengutamakan efisiensi waktu.
Model digital juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan layanan. Dengan sistem pemesanan yang lebih mudah, konsumen dapat mengakses laundry tanpa harus datang langsung ke lokasi. Cara ini sekaligus memperkuat daya saing bisnis di tengah persaingan layanan praktis.
Ia menilai digitalisasi bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan baru dalam bisnis laundry. Konsumen saat ini cenderung memilih layanan yang cepat, transparan, dan mudah dipantau. Karena itu, pelaku usaha yang beradaptasi lebih cepat berpeluang meraih pasar lebih besar.
Menurut Apik, kolaborasi dengan layanan pendukung juga dapat memperkuat nilai bisnis. Integrasi sistem online dengan layanan pelanggan yang responsif akan memberi pengalaman yang lebih baik. Hal ini menjadi salah satu kunci untuk menjaga loyalitas konsumen dalam jangka panjang.
Laundry self-service berkembang
Selain digital, Apik melihat laundromat self-service sebagai tren yang semakin menjanjikan. Konsep ini biasanya hadir dengan desain modern dan layanan yang tersedia sepanjang hari. Model tersebut menarik bagi konsumen yang ingin mencuci sendiri dengan biaya yang lebih fleksibel.
Ia menyebut konsep self-service dapat dipadukan dengan sarana penunjang seperti coworking space, kafe, dan jaringan wifi. Kehadiran vending machine juga dinilai membuat lokasi laundry lebih nyaman dikunjungi. Dengan begitu, tempat laundry tidak lagi hanya menjadi lokasi mencuci, tetapi juga ruang singgah yang fungsional.
Konsep ini dinilai cocok untuk wilayah perkotaan dengan mobilitas tinggi. Konsumen dapat menunggu cucian sambil bekerja atau beristirahat di tempat yang nyaman. Nilai tambah seperti ini berpotensi meningkatkan frekuensi kunjungan pelanggan.
Apik menilai pelaku usaha perlu melihat laundromat sebagai ekosistem layanan, bukan sekadar mesin cuci. Semakin lengkap fasilitas yang diberikan, semakin besar peluang usaha menarik segmen pelanggan baru. Strategi tersebut dapat memperkuat diferensiasi di tengah pasar yang makin kompetitif.
Segmen premium semakin dilirik
Tren lain yang disebut Apik adalah pengembangan layanan laundry untuk segmen niche. Pasar ini mencakup jasa laundry premium untuk hotel dan resort yang membutuhkan standar kebersihan tinggi. Selain itu, ada juga laundry spesialis untuk pakaian kerja dan pakaian bermerek.
Menurut dia, segmen tersebut menawarkan peluang yang menarik karena memiliki kebutuhan yang lebih spesifik. Konsumen di kelas ini biasanya menuntut kualitas hasil cuci, ketepatan waktu, dan penanganan kain yang lebih hati-hati. Karena itu, layanan premium bisa memberi margin yang lebih baik bagi pelaku usaha.
Model spesialis juga membantu bisnis membangun reputasi yang lebih kuat. Ketika pelaku usaha mampu menjaga standar layanan, kepercayaan pelanggan akan terbentuk lebih cepat. Reputasi tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperluas pasar.
Apik menilai fokus pada segmen tertentu akan membuat bisnis lebih terarah. Pelaku usaha dapat menyesuaikan peralatan, bahan, dan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar yang dipilih. Pendekatan ini dinilai lebih efisien dibanding mencoba melayani semua jenis konsumen sekaligus.
Eco laundry jadi perhatian
Apik juga menyoroti model hybrid dan multi-channel dalam bisnis laundry. Konsep ini menggabungkan layanan self-service dan full service dalam satu lokasi. Dengan begitu, konsumen dapat memilih layanan sesuai kebutuhan dan anggaran.
Ia menilai kombinasi ini memberi fleksibilitas yang lebih besar bagi pelaku usaha. Pengusaha bisa melayani pelanggan yang ingin praktis, sekaligus mereka yang membutuhkan penanganan penuh. Strategi tersebut membuat potensi pendapatan menjadi lebih beragam.
Selain itu, sustainability dan eco-laundry mulai menjadi perhatian konsumen. Banyak pelanggan kini lebih peduli pada konsep ramah lingkungan dan efisiensi penggunaan sumber daya. Tren ini membuka peluang bagi usaha yang ingin tampil lebih relevan dengan isu green economy.
Menurut Apik, pelaku usaha harus mulai menyiapkan model bisnis yang selaras dengan arah pasar tersebut. Inovasi layanan, teknologi, dan kepedulian lingkungan dapat berjalan bersama dalam satu strategi. Dengan pendekatan itu, bisnis laundry berpeluang tetap bertahan sekaligus berkembang pada tahun-tahun mendatang.
